Selasa, 12 Mei 2020

R-I-N-D-U

Sedang jenuhkah kamu saat ini ? Rindukah kamu untuk melihat luasnya dunia diluar sana ? Ataukah kamu sedang merindukan hiruk pikuk orang tanpa harus tertutup senyumnya ? Yah, kadang kerinduan itu datang tanpa permisi. Namun, bukan rindu namanya jika tidak mengusik untuk didatani. Rindu itu seperti senja, yang selalu indah untuk dinikmati namun terkadang cepat pergi dengan sendirinya. Tapi rindu itu kadang lebih suka bertahan dan tidak mau beranjak tanpa kita menyadari dia benar-benar ada.

Mungkin seperti saat ini. Dimana semua ruang gerak kita terbatas oleh keadaan, rindu itu selalu berkecamuk untuk diantarkan ke tempatnya. Tempatnya untuk bertemu dengan yang dirindu. Namun, terkadang kita harus sadari bahwa semua yang terjadi saat ini mungkin adalah cara rindu untuk llebih bersahabat dengan kita. Bercengkrama jika nantinya akan ada saat dimana rindu itu akan tersampaikan. Mungkin rindu sedang mengajarkan kita bagaimana caranya untuk bersabar dan percaya semua akan indah pada waktunya. Mungkin rindu juga yang nantinya akan mengukirkan senyum yang sedari lama sudah tidak pernah kita lihat.

Rindu. Banyak kata yang bisa menggambarkan satu kata itu. Dan setiap rindu itu berbeda. Berbeda bentuk dan yang pasti berbeda rasa. Ada rindu yang harus terjawab dan ada rindu yang engan untuk dirasakan. Semua seiring berjalan berdampingan untuk menyatakan bahwa rindu itu sungguh benar-benar ada.


Kamis, 23 April 2020

BE POSITIVE

Setelah ada duka, setiap orang berhak menemukan sukacitanya. Berhak untuk kembali ke point bahagia untuk dirinya sendiri. Lepas dari riuhnya kritikan orang, mereka berhak untuk bahagia. Bahagia bukan darii apa yang dikata orang, bukan dari apa yang orang ingin lihat. Namun, bahagia dari apa yang diri kita ciptakan sendiri. Bisa jadi bahagia mereka karena mereka tahu bagaimana menerima dukanya untuk diolah dan dipolesnya untuk jalanya bahagia.

Iya, benar memang kita tidak boleh berlama-lama larut dalam sedih kita. Karena emosi negatif ini datang sementara untuk kita peluk dan kita ajak bercengkrama. Untuk bisa kita terima dan kita jadikan sahabat yang menguatkan bukan ? Lalu apa yang salah jika kita beranjak untuk menjemput bahagia kita sendiri ? Bukan berarti dukanya yang lalu telah sirna begitu saja, tapi dia simpan dalam-dalam untuk dijadikan tempatnya berpijak dan berterimakash. Berterimakasih telah mengajarkan cara bertahan. Berterimakasih untuk mengajarkan cara berjuang dan hidup.

Hidup bukan untuk detik atau menit ini saja, namun lebih panjang nanti di depan sana. Jalan setiap orang tidak bisa kita paksakan sesuai ekspektasi kita, tapi biar saja semuanya berjalan dengan skenarionya masing-masing sebagaimana mestinya. Bukan tentang salah dan benar, tapi tentang sekarang atau nanti. Bukan tentang hitam atau putih, tetapi tentang diam atau bergerak. Sudah, sudah tidak perlu ada yang disesali. Biarkan saja semuanya menjadikannya cerita masing-masing. Kita bukan seorang komentator untuk selalu mengkritik apa yang tidak sama dengan yang ada dipikiran kita. Tapi kita hanya pemeran yang harus terus memerankan karakter dengan apik. Bukankah begitu hhidup itu ?

Apa yang sudah pergi tidak perlu berlama-lama ditangisi. Jika pergi bukan untuk kembali. Biar ada hati baru yang akan jadi penghiburan. Bukan tentang tidak setia, namun tentang menerima dan ikhlas. Bukan tentang menolak, tetapi tentang bersyukur bahwa segala sesuatunya menjadi indah disaat yang tepat.

Rabu, 11 Desember 2019

2019

Yeah, akhirnya sudah sampai di penghujung tahun lagi, dan kali ini di tahun 2019. How about 2019 ? Up and down, as always like a rollercoster. But, we did it. Jika dilihat dari history hanya 2 kali menulis tahun ini dengan termasuk satu tulisan ini. Hey, kemana saja selama ini ? Bukankah selama 2019 ini banyak cerita seru yang bisa kita bahas bersama ? Hahaha. Memang benar adanya kalau self-talk itu sangat penting untuk merefleksi diri kita sendiri. Apa yang sudah kita lakukan sampai hari ini, untuk siapa, bagaimana, dan apa yang nantinya akan kita lakukan ke depannya ? Seperti sebuah big frame setiap tahunnya, tapi yang pasti selalu berharap big frame yang baik-baik saja. Lalu kenapa kita selalu lupa untuk memberi spare ataupun ruang untuk diri kita jika nantinya apa yang sudah kita rencanakan dari awal tidak sesuai dengan ekspektasi kita ? Yap, benar jika ruang itu benar harus kita siapkan supaya jika ada masa dimana rencana-rencana kita bukan skenerio-Nya, kita siap untuk memberi ruang kita untuk jatuh, sedih, berdiam dan menyendiri. Tapi bukan berarti kita harus berhenti disitu, kita tahu apa yang membuat kita sendih dan terdiam, tapi bukankah itu juga menjadi jeda untuk kita berlari lebih kencang lagi dari sebelumnya ? Lebih luas lagi hati dan pikiran kita untuk bisa lebih letting go dari semua yang menjadi bagian cerita hidup kita.

Mari berterimakasih dengan waktu-waktu yang sudah berhasil menemani dan memberi kita cerita-cerita yang begitu unik. Mari berterimakasih dengan orang-orang yang sudah menjadi bagian dari perjalanan kita, pergumulan kita, dan mimpi-mimpi kita. Berterimakasih juga untuk orang-orang yang bisa dikatakan sebagai "TOXIC" untuk kita, karena dari mereka kita belajar untuk mengontorl diri kita, tahu sampai batas mana kadar dan kesabaran kita. Mari berterimakasih pada tempat-tempat yang sudah memberikan waktu utuk kita datangi dan berkenalan dengan mereka. Karena dari tempat-tempat itu kita akan semakin paham, bahwa diluar sana banyak cahaya yang bisa kita temui dari setiap tempatnya. Mari berterimakasih juga untuk semesta yang selalu memberikan ruang untuk kita bertumbuh dan berproses menjadi pribadi yang lebih baik lagi setiap harinya. Mari berterimakasih dengan setiap hal yanga da dalam hidup kita, baik itu yang kita harapkan dan tidak kita inginkan. Bagi mereka yang come-and-go, bagi mereka yang white-and-black, bagi mereka yang smile-and-sad, dan bagi mereka semua yang membantu melukiskan wana di kanvas cerita kita 2019. Terimakasih sudah membantu menjadikan pribadi kita seperti saat ini untuk tetap berproses menjadi pribadi yang lebih anggun dan elegan lagi untuk masa selanjutnya.




Rabu, 16 Oktober 2019

Back To Basic

Hai long time no see ? How is your life ? Hahaha. Setelah hampir seabad absen dan butuh beberapa jam untuk inget alamat email dan password akhirnya back to basic. Yes, i really love this sentence. BACK TO BASIC. Terkadang kita terlalu sibuk berkutat dengan ambisi untuk mengikuti apa yang sedang jadi kekinian. Untuk bisa lebih dikenal dengan istilah milenial, dan yang tak kalah pentingnya tidak gugur disaat persaingan jaman 4.0. Sangat kekinian bukan ?

Tapi terlepas dari semua itu terkadang kita lupa untuk kembali ke basic kita sebagai seorang pribadi. Lupa untuk kembali mengenal dan bercengkerama dengan diri kita. Siapa kita, dimana kita, dengan siapa kita dan apa mau kita. Itu yang kadang terlupakan disaat kompetisi sedang menjadi-jadi. Entah karena kita terlarut dengan hiruk pikuk kesibukan atau memang sudah tak ingin peduli lagi dengan basic yang seharusnya lebih kita hargai ? Entahlah. Yang ada mari kita duduk sebentar berefleksi dengan diri kita, coba bercengkeraman lebih sederhana lagi. Siapa kita ? Kita terkadang terlalu sibuk menjadi oranglain untuk bisa dipandang dan dikenal. Atau bahkan sampai apa yang kita lakukan adalah "masking" untuk membuat orang terpukau dengan apa yang kita lakukan ? Tidak ada salahnya memang untuk kita kembali ke prinsip personal branding. Tapi pada akhirnya baiknya kamu adalah apa adanya dirimu. Bertutur kata sesederhana kamu ingin dikenal orang, tersenyum semanis kamu ingin dikenang orang. Bukankah sesimple itu ? Ya walaupun bayak yang beralibi bahwa hidup tidak sesimple itu. Tapi terkadang hidup yang kita rumuskan serumit rumus matematika, namun ketika kita kembali ke basic kita, kita akan tersadar betapa sederhananya kita menerima diri kita ada apanya.

Kenapa harus back to basic ? Bukankah itu modal kita untuk lebih tahu apa yang akan kita tuju dan visi apa yang akan menujukkan arah kita ke tujuan kita ? Semuannya kembali sesederhana itu. Memang setiap orang dengan kelebihannya, bukan dengan kekurangannya. Jika yang terbanyak di pelupuk mata kita hanya kekurangannya, yang ada hanya kita akan mengotori pikiran kita dengan segala macam prasangka yang sebenaarnya itu semua hanya kita sendiri yang menciptakannya. Tapi coba kita ubah cara pandang kita. Melihat semuanya dari sisi terangnya, sukannya semuanya akan terlihat lebih jelas dan mudah untuk dipahami ? Dan kitapun tidak akan terjebak dalam pemikiran gelap yang akhirnya hanya akan menimbulkan iri hatti dimana itu lebih akan jadi penyakit lagi.

So, tidak ada salahnya kita bermain analisis tentang dinamika yang ada saat ini. Namun, pada akhirnya harapannya adalah kita menemukan jalan untuk kembali ke basic kita, untuk lebih sesimpel dengan pertanyaan "WHO AM I ?"

Selasa, 04 Desember 2018

Dear, malaikat kecil :)

Yeah, akhirnya sampai juga di penghujun tahun 2018. Rasanya juga sudah lama tidak bercengerama dalam bentuk huruf-huruf. Hei apa kabar ? Apakah kabarmu baik-baik saja ? Yah, aku harap begitu. Apakah hidupmu saat ini lebih menyenangkan ? Yah pastiya. Deengan cerita-cerita baru dengan kisah yang pastinya lebih menarik lagi. Menarik untuk sellau dibahas dari berbagai sudut pandang.

Sudah lama juga rasnya tidak bertukar pikiran dalam hal yang awalnya kita anggap sepele ternyata menjadi pembahasan yang sangat menarik. Kali ini ingin bercerita tentag bagiamna malaikat kecil mampu mengubah hidup, pikiran bahkan dunia kami.

Matanya yang indah mampu meneduhkan hari yang gundah, mengusir rasa penat yang seolah tak ingin datang kembali. Matanya yang teduh membawa kedamaian yang tidak mampu lagi dijelaskan dengan sebuah kalimat panjang. Matanya yang indah seolah membukakan dunia bahwa segalanya memang begitu indah. Senyumnya yang manis mampu menentramkan keraguan dalam setiap langkah, menghapus rasa abu-abu itu. Menguatkan saat rasanya tak ingin lagi berjalan. Genggaman tangannya mampu menegakkan kembali harapan yang seolah dengan perlahan mulai pupus, menerbitkan kembali cahaya yang seolah makin meredup. Terimakasih malaikat kecil, dengan cahayamu, kamu mampu mengubah hidup kami. 

Doakan kami untuk terus berjuang membukakan jalan untukmu, untuku terus melangkah hingga kamu nanyyinya sanggup berlari dengan sendirinya. Jadilah selalu cinta untuk menghangatkan pondasi rumah kami. Mampukanlah kami untuk terus tersenyum memberikan yang termanis untuk hidupmu. Karena kami akan berjuang memberikan warna-warni dalam hidupmu.


Jumat, 13 Oktober 2017

MENGELUH (?)

Siapa bilang belajar untuk tidak mengeluh itu gampang ? Tidak akan segampang ketika kita mengatakannya memang. Yah, semacam butuh effort yang lebih untuk lebih bisa mengerti dan memahami diri kita sendiri. Kurang ini, kurang itu, kenapa ini, kenapa itu, sellau saja mencoba untuk berebut untuk berkecamuk dalam pikiran kita. Tapi kembali lagi pada upaya kita untuk menghalaunya. Untuk apa mengeluh jika itu hanya akan menyusahkan diri kita sendiri ? Yah, memang benar, terkadang tidak ada pilihan lain selain menikmatinya. Mengeluh hanya akan menjadi semacam tambahan beban untuk diri kita sendiri. Sadarkah kita jika terkadang mengeluh itu berasal dari kita yang selalu berupaya membandingkan hidup kita dengan orang lain ? Tapi kita lebih sering untuk tidak menyadari hal itu. Apa yang kita lihat dan kita bandingkan dengan kepunyaan orang belum tentu begitu adanya.

Mengeluh ? Bukan menjadi solusi ketika kita sudah mendapati jalan buntu, dan pada akhirnya hanya akan membawa kita pada keputusasaan. Lantas, apakah dengan begitu kita hhanya berhenti sampai disini saja ? Tidak. Perjalanan itu masih panjang. Dan petualangan itu masih sangat mengasyikkan jika kita hanya berhenti disini saja. Masih banyak tantangan yang akan membawa kita pada satu tingkat lebih tinggi dari pada level kita saat ini. Berani menantang keterbatasan dalam diri untuk mendapatkan yang lebih dari apa yang kita ketahui dari diri kita sendiri.

Belajar menghargai diri sendiri dengan segala lebih dan kurangnya itu menjadi cara kita untuk lebih bebal dalam menghadapi setiap cobaan yang ada. Tidak pernah kalah dengan mereka yang hanya akan menjatuhkan kita. Tapi bagaimana kita berusaha untuk terus berdiri dalam kemenangan yang nantinya bisa kita nikmati. Hormatilah dirimu sendiri, ketahuilah bahwa kamu mampu dan kamu bisa menjadi lebih dari apa yang sekarang. Cintailah dirimu sendiri, seperti kamu mencoba untuk memberikan yang terbaik untuk dirimu. Merasalah terberkati oleh semesta bahwa setiap perkara yang ada itu akan semakin mengajarkan pada kita apa itu artinya berjuang.


Kamis, 12 Oktober 2017

love what you do, do what you love.

Setiap orang punya tujuan dan garis finishnya masing-masing. Kita tidak akan pernah bisa memaksakan seseorang berada dijalan yang kita mau. Mereka  berada dipetualangan dan tracknya masing-masing. Jika kita pernah bertemu atau bersingungan, itu hanya karena ada sebuah misi yang perlu dipenuhi untuk mengenapkan tugas semsta. Toh pada akhirnya nanti kita akan kembali berjalan pada track masing-masing. Seperti apa bekal yang dibawah itu juga akan berbeda, mungkin kamu nyaman di tempat ini belum tentu kamu akan nyaman di tempat yang lain. Zona itu yang berbeda. Seperti apanya nanti kamu, itulah sekitamu yang akan menempa. Jangan dipandang sekitar itu hanya lingkunganmu saja, tetapi bagaimana keadaan juga akan membentukmu. 

Lucu memang jika masih saja sampai sekarang ada yang memaksamu untuk ini dan itu, jadilah saja seperti apa yang kamu maui dari hidupmu. Karena memang sejatinya nyaman itu tidak bisa dipaksakan seperti kehendak kita. Bukan ini bukan tentang sebuah iri hati karena melihat yang lain bisa mengexplore kemampuannya, tapi ini lebih semacam mengamati bahwa sesuatu itu karena hati yang mengerakkan. Bagaimana bisa kita menjalani sesuatu kalau memang itu bukan "passion" kita ? Passion ? Saya lebih suka mengartikan passion ini seperti jiwa kita, jiwa yang kita yakini bisa membimbing kita pada suatu yang memang itu memang dunia kita. Duni yang kita mau, dan dunia yang membuat kita menjadi diri sendiri, bukan orang lain atau bahkan diri yang diingini orang lain. 

Benar jika banyak orang mengatakan kalau jadilah dirimu sendiri, ikuti kemana hatimu akan memandumu. Karena hati nurani itu tidak akan pernah salah. Jika pada akhirnya ada orang yang menyesalkan keputusannya, mungkin itu adalah salah satu kebebalan kita tidak peka terhadap bikikan hati nurani kita sendiri. Mungkin bisa dikatakan seperti itu. Karena akan menjadi perdebatan yang panjang ketika kita akan membahas topik ini, individual differences, yes that's true. Kita tidak bisa menyamaratakan setiap orang itu sama. Aku aja bisa, kenapa kamu enggak ? Kalau ada semacam kalimat seperti itu, tergantung bagaimana kita memaknainya. Mau dilihat dari sisi positif atau dari sisi negatif. Jika ingin melihatnya dari sisi positif, berarti kita harus bisa mechallange diri kita sendiri menjadi lebih lagi dari sekarang. Tapi jika mau dilihat dari sisi negatif, bisa jadi kita akan terlalu memikirkannya dan membuat kita merasa rendah diri.

Unik bukan kita ini ? Dengan segala kelebihan dan kekurangan kita dibuat istimewa dengan cara kita masing-masing. Cara kita menerima, cara kita memaafkan, cara kita mensyukuro, dan cara kita mengusahakan. Tutup mata saja dari apa yang sepertinya terlalu naif dengan segala kemewahannya, bukankah kita lebih merasa terberkati jika kita memandang mereka yang memang sejatinya membutuhkan perhatian ? Bukan mereka yang mengumbar semua keberadaannya untuk membutuhkan pengakuan. Itulah keberagaman yang ada disekitar kita saat ini. Terkadang kita hanya memilih terdiam sebagai penonton akan pertunjukan kenaifan mereka. Nikmatii saja, toh itu akan menjadi semacam hiburan yang menyenangkan. Lantas kenapa harus dipikirkan keterlaluan ? Toh pada akhirnya mereka tidak akan tahu seberapa kita berjuang untuk lebih menikmati hidup kita sendiri.