Kamis, 19 Juni 2014

Jurnal Pertama

Dimana kamu saat ini ? Kamu masih mampu berdiri dan memandang. Nafasmu masih menderu dan menjagamu hingga saat ini. Darahmu masih mengalir melewati setiap pembuluh yang membuatmu tetap tersenyum sampai saat ini. Lalu siapa yang akan tahu apa itu arti senyuman ? Mungkin orang berusaha untuk menyembunyikan seutas kesedihannya dibalik senyum yang berusaha ia kembangkan. Lalu berapa lama hal itu akan bertahan ? Sekelilingmu banyak orang-orang yang peduli akan keberadaanmu, lalu untuk apa mencari yang sudah hilang ? Bukankah lebih baik menjaga yang masih ada ? Apa yang datang akan pergi. Seriap orang senyatanya sudah menyiapkan jalan untuknya sendiri. Meski bukan yang terbaik, namun kamu berusaha untuk memilih pilihan yang terbaik. Semua akan ada saatnya. Siapa yang menanam, dia akan menuai. Kamu bukanlah juri atas permainanmu sendiri, kamu hanya seorang pemain, yang diminta untuk memainkan peranmu seelok mungkin. Kamu adalah penanggungjawab atas dirimu sendiri. Semangat, senyum, keceriaan, kesediahan, masalah, cinta, kecurangan, mungkin itu adalah bagian dari pilihan. Kamu diminta untuk lebih lihat dan tidak ceroboh. Jalan yang kamu tuju mungkin tidak akan seiindah nirwana, tapi siapa yang akan tahu bahwa di depan sana akan ada ruang seindah nirwana yang sudah disiapkan untukmu ? Lantas bagaimana bisa kamu tahu jika kamu tidak mencobanya ? 

Beribu-ribu kilometer kamu tempuh untuk melakukan perjalanan. Bukan tentang tujuannya tetapi lebih pada perjalanan itu sendiri. Kamu melintasi ribuan jalanan yang mungkin bagi kamu itu adalah pantulan akan keberadaanmu. Keberadaan yang mungkin kamu lupa untuk mensyukurinya. Lihat saja, sang cakrawala masih terbentas sama jika kita berjalan sejauh apapun itu. Dalam naungan bulan yang sama, kita masih bisa melihatnya meski dari tempat yang berbeda. Kamu bukan seorang pengecut yang seolah melarikan diri dari apa yang tidak akan pernah bisa pergi darimu. Dia ada bersamamu, tengok saja apa yang ada dalam dirimu. Dia akan tetap bersamamu, dan seolah menjadi momok jika nyatanya kamu tidak mau sejenak saja berdamai dengannya. Banyak inginmu untuk mencapai langit setinggi mungkin, tapi apa mungkin bagimu jika yang ada kamu mengingkari dirimu sendiri ? Mungkin aku dan kamu berjuang bersama, tapi pada akhirnya jalan kita berbeda, aku akan berjalan pada alur yang sudah tersedia untukku, begitu juga dengan kamu. Kamu akan meneruskan langkahmu. 

Lalu apa lagi yang kamu takuti akan perpisahan ? Perpisahan itu hanya sementara, tapi mengapa banyak manusia menundanya karena tidak ingin sendiri. Apa yang salah dengan sendiri. Kamu mungkin boleh dikatakan sendiri, tapi jangan pernah dirimu dikuasai oleh kesepian yang mungkin akan memaksamu untuk lari. Sejauh appaun kamu lari, kamu sekali lagi tidak bisa terhindar. Kamu akan tetap berada di koordinatmu saat ini. Waktu mungkin akan berbaik hati untuk mengupayakan usahamu, memberimu ruang untuk semakin yakin bahwa dimana ada kemauan disitu akan ada jalan. Mungkin kamu akan merasa nyaman dengan apa yang kamu pilih, merasa itu satu-satunya. Tapi apa kamu lupa, bahwa kadang yang nyaman itu belum tentu yang terbaik ? 

Rabu, 11 Juni 2014

[CERPEN] : PULANG

"Aku ingin pulang"
Aku meyakinkan diriku sendiri. Lalu kemana aku harus pulang. Arah itu semakin menyemu, dan seolah tidak ada lagi cahaya di jalanan yang bisa menunjukkan arah padaku. Ah di depan sana ada seseorang yang mungkin bisa aku tanyai.
"Permisi, bisa tunjukkan kemana arah untuk saya pulang ?" Tanyaku sambil merapatkan jaket tipis yang kini melindungiku dari dinginnya malam.
Orang itu tetap diam dan tidak bergeming. Dia tetap menghisap rokok yang hanya tinggal setengah batang di tangan kanannya sambil memandangku heran.
"Kamu tanya pada saya kemana anda harus pulang ?" Lelaki itu bertanya balik. Aku yang kini hanya bisa diam heran atas pertanyaan orang itu.
Sungguh. Sepertinya aku sudah kehilangan jejak untukku pulang. Malam sepertinya semakin menjadi-jadi, hanya ada raungan anjing yang saling bersautan mengisi kekosongan malam. Aku terus berjalan. Terus dan terus. Meninggalkan orang yang kini seolah pandangannya masih tertuju heran padaku.
Seberkas cahaya dimata orang itu, sepertinya aku pernah melihat cahaya yang sama, tetapi dimana. Ah aku segera menghilangkan rasa penasaranku. Mungkin aku hanya baru pertama kali ini bertemu dengan orang itu, dan mungkin hanya perasaanku saja kalau aku pernah mengenalnya.

"Aku ingin pulang." Gumamku lagi pada diriku sendiri. 
Aku membayangkan sebuah ruang yang tidak perlu luas, mewah ataupun mahal. Yang pasti aku hanya merindukan untuk pulang. Senyaman di pangkuan ibu yang seolah tidak ada lagi yang mengganggu. Tapi dimana aku. Aku mengedarkan kembali pandangan ke sekitarku. Semuanya masih gelap. Tidak ada seorangpun yang bisa aku tanyai. Mungkin aku harus mempersiapkan pertanyaan baru jika nanti aku bertemu dengan orang. Yah, aku tidak akan menanyakan arah, aku akan menyusun pertanyaan baru. Tapi tiba-tiba semakin aku memaksakan otakku untuk berpikir, aku semakin lemas, neuron-neuron dalam otakku seolah semakin melambat. Paksaku lagi pada sel-sel di tubuhku, namun mereka seolah berkebalikan dengan apa yang aku perintakan.

Dan kali ini aku terjatuh. Menopang tubuhku sendiri yang dilawan oleh tubuhku sendiri. Ada apa denganku ini. Aku berusaha untuk merintih minta tolonng. Aku mengapai-gapai apa-apa yang mungkin ada di dekatku. Tapi aku kini seolah berada di tengah jalanan luas tanpa seorangpun yang mempedulikanku. Tiba-tiba satu, dua, tiga, empat yang semakin banyak orang berdatangan dan hilir mudik namun mereka seolah tidak melihatku merintih kesakitan dan minta tolong. Mereka sibuk dengan urusan mereka masing-masing. Malam yang pekat seketika berubah menjadi panas yang terik. Langkah-langkah orang semakin cepat dikejar berbagai hal yang sudha ada di pikiran mereka. Mata mereka membuta, telinga mereka menuli. Aku berusaha untuk mengeraskan suara, dan kini kekuatanku kembali aku berteriak sekuat mungkin. Tapi apa, semua orang tetap sibuk dengan urusannnya masing-masing. Aku mencoba memegang mereka, mencoba bertanya dan memohon untuk diperhatikan barang sedetikpun.Tapi mereka bahkan terlihat acuh dan tidak mau tahu. 

"Aku ingin pulang." Kini pertahananku sepertinya mulai runtuh. Aku mulai terisak. Air mata yang keluar dari pelupuk mataku seolah jeritan dari sel-sel tubuhku yang selama ini aku penjarakan sendiri, aku sembunyikan dan aku samarkan. Mereka berebut untuk keluar bersama dengan tetes air mataku. Aku seolah tidak mengenal diriku sendiri. Aku hanya seorang yang berusaha untuk berdamai dengan perlawanan yang datang dari dalam diriku. 
"Apa maumu ?" Aku bertanya pada diriku sendiri. Aku menggeleng. 
"Apa salahku padamu selama ini ?" Lagi-lagi aku bertanya pada diriku sendiri. 
Telingaku seolah tidak mampu mendengar apa-apa selain isakan dari diriku sendiri. 
"Lalu buat apa aku disini, jika aku tak tahu akan harus kemana. Aku ingin pulang." Teriakku. 
Aku memejamkan mata. Aku ingin keluar dari tubuh rapuh ini, aku ingin lepas, aku ingin bebas. Aku ingin pergi. 

Tidak perlu menunggu hitungan detik, kini jiwaku mebali melayang. Aku serasa terbang. Tapi aku tidak tahu kemana arahku pergi. Yang terlihat hanya putih, semua serba putih. 
Putih yang menyilaukan, mataku perih, tapi aku menyukainya. Aku terbang. Aku menghibur diriku sendiri. Nikmati ini, ayo nikmati ini. Ada sebuah suara yang seolah memberiku petunjuk. Akhirnya aku menemukan petunjuk itu. Tapi apa yang bisa aku nikmati di tempat serba putih seperti ini. Lagi-lagi jiwaku memberontak pada ragaku. Aku ingin bebas, aku ingin pergi. Dan lagi, "aku ingin pulang".

"Dia. mengapa dia ada disana dengan kamera kesayangannya itu ?" Aku bertanya pada diriku sendiri. Aku menyipitkan mata untuk memperjelas penglihatanku. 
"Apakah benar itu dia ? Aku bertemu dia lagi ? Dimana aku ?" Aku menggerutu pada diriku sendiri.
"Mungkin ini hanya mimpi, aku selalu bertemu dia dalam mimpi. Yah setelah ini aku akan terbangun. Dan semua akan kembali seperti sediakala." Aku meyakinkan diriku sendiri. 
"Tapi bukan, ini bukan mimpi. Lalu apa ?" Aku meragukan keyakinanku sendiri.

Aku mencoba menghampiri sosok tegap yang sedang sibuk dengan kamera kesayangannya itu. Yah aku ingat sekali. dia terlalu sayang dengan kamera itu. Kamera itu. Dari balik lensanya aku pernah melihat dunia apa yang hanya dia lihat. Mungkin hanya seberkas cahaya yang selalu dia cari untuk menangkap fokus, tapi aku tahu dunianya begitu berbeda dengan yang lain. Aku selalu suka mengamati gayanya dalam membidik sasaran. Dia nampak angkuh dengan caranya, tapi aku suka. Dia selalu berkata kalau apa yang dilihatnya dari balik lensa kameranya itu tidak akan pernah bohong. Dia akan berkata apa adanya. 
"Lalu apakah dia tahu bahwa aku merindukannya ?" Ah aku segera menghapus pertanyaan yang lagi-lagi muncul tentang dia.
Aku ragu, perlukan aku mendekat. Dia kini hanya diam. Dia terlihat sedang mengamati gambar hasil potretnya. Senyum itu mengembang. Aku segera bergetar ketika pupil mataku mengecil dan menangkap senyum yang tersimpan dalam memoriku. Masih sama dan mungkin akan tetap sama.

Aku tetap setia berdiri di tempatku kini. dia tahu keberadaanku di dekatnya. Dia berjalan mendekat padaku dengan senyum itu. Senyum itu yang masih terpotret jelas dalam ingatanku. Dia mendekat dan dia memandangku lama. Aku hanya mampu terpatung. Aku memaksakan syaraf-syaraf wajahku untuk sedikit saja menyunggingkan senyum, tetapi kenapa ini terasa berat sekali. Aku mulai merutuki diriku sendiri. Kini dia mungkin hanya berjarak satu jengkal dari wajahku. Dia masih dengan senyumnya. Dia tidak berkata apa-apa. Sebentar saja dia lalu memperbaiki posisi kacamatanya, ternyata tidak ada yang berubah dari kesombongannya. Lalu terdiam melihatku dengan senyumnya. Aku berusaha menangkap isyarat yang dia sampaikan dari molekul-molekul udara di ruang antara aku dan dia. Aku mengartikannya satu persatu kiriman itu. Mata itu, seolah segera melumpuhkaku, membuat semua pertahanan dalam diriku melemah. Aku seolah kehilangan keseimbanganku, aku mengalami fase trans.

Dan dalam sekejap dia langsung menangkapku dan merengkuhku ke dalam pelukannya. Pelukannya, yah pelukannya. Aku merasakan kedamaian itu, aku merasakan kekuatanku kembali lagi. Aku merasakan penyatuan sukma yang aku sendiri tidak mengerti apa itu. Dia masih tetap diam dan tidak bergeming. Dia memelukku erat dan semakin erat. Aku hirup dalam-dalam aroma tubuh yang dikeluarkan oleh hormon-hormon itu. Aku merasakan mendapatkan kekuatanku kembali, aku mendapati diriku kembali. 

Aku ingin mengucapkan sesuatu, tetapi mengapa lidahku masih saja kelu. Semakin berusaha untuk aku berucap, semakin aku melemah. Aku berusaha untuk mempertahankan fase ini, fase dimana aku menemukan kekuatanku, tidak ada tempat lain yang aku tuju. Disini. dipelukannya, aku kembali mendapatkan kekuatan itu. Tetapi, ketika aku mencapi titik dimana aku merasakan sebuah ketenangan, ucapan lirih itu terlontar juga, "Aku harus pulang." 
Dan, semakin lama pelukan itu merenggang dan merenggang. Dia menyemu dan semakin menyemu. Dan kini lagi-lagi hanya ada aku. Dia menghilang.
Pelukan itu masih terasa, tapi apa, kini aku meyakinkan diriku sendiri bahwa dia telah pulang. Begitu juga dengan aku "Aku ingin pulang."

Peluit panjang itu memekakkan telingaku. Aku mencoba mengerjapkan mata. Aku mencoba menyandarkan diriku di kursi ruang tunggu dengan sisa-sisa tenagaku. Suara gesekan besi dengan besi itu semakin jelas. Aku mencoba untuk memfokuskan dan menyadarkan diriku sendiri. Hiruk pikuk itu mulai terasa. Pengumuman bahwa kereta api sebentar lagi akan di berangkatkan. Aku menarik nafas panjang. Dan kini aku tersadar aku sudah tertidur di kursi tunggu peron. Sepertinya aku sudah melewati banyak dimensi waktu, tetapi aku melirik pada jam yang melingkar di tangan kiriku, aku baru tertidur kurang dari 30 menit. Tapi rasanya sudah berhari-hari dan melelahkan.

Suasana stasiun malam ini cukup ramai. Disini aku lihat orang berlalu lalang, mengucap janji, mengucapkan selamat datang dan selamat tinggal. Di tempat ini semua orang mulai berharap. Disini semua orang mulai merasa cemas. Tapi yang pasti ditempat ini aku tahu bahwa perjalanan itu hanya sementara. Pada akhirnya semua akan datang dan pergi lagi. Dan paa akhirnya akan pulang.
Aku segera membereskan ranselku dan dengan sedikit terhuyung aku menaiki kereta yang akan membawaku. Terimakasih perjalanan. "Aku pulang."




Sabtu, 07 Juni 2014

Just For Information

yang aku dengar dari kamu adalah sebuah kebohogan, bukan lagi kejujuran. Buat apa kejujuran yang kamu nyatankan jika nyatanya kamu tidak akan pernah mempu menjadikannya nyata. Aku berharap apa yang terucap dari mulutmu adalah omong kosong, tak berarti dan seolah hanya ingin membuatku senang. Apa dengan begitu kamu seolah menyelamtkan kehilangan itu ? Tidak. Yang ada kamu malah seolah membuka lebah pintu yang seharunya sudah tertutup rapat itu. Untuk apa sebuah kejujuran jika nyatanya kamu tidak mampu menepatinya. Tidak usah kamu mengumbar seribu janjimu untuk terus mengingatku jika nyatanya kamu selalu bercumbu dengannya tanpa lagi mengingat namaku. Jangan lagi mengucapkan kata-kata yang hanya akan membuatku enggan bertemu denganmu lagi, dan sekalipun ucapkalah selamat tinggal sebagai bentuk perpisahan yang memang seharusnya begitu. Pergi saja, lupakan saja semua tentang aku dan kamu. Bukankah itu adalah bagian dari perjalanan. Tidak lagi ada yang perlu dikenang jika nyatanya itu tak sanggup menahanmu. Yah aku tahu ini terlalu berat, tapi tidak jika tanpamu. Aku lebih sanggup menjalaninya sendiri, tanpa lagi ada bayang wajahmu yang seolah mengiba untuk aku selalu baik-baik saja. Jangan lagi epdulikan keadaanku, memang seperti ini keadaanku, selalu bergumul dengan keadaan yang berusaha untuk aku jadikan sahabat. Jangan lagi panggil aku sahabat, jika nyatanya kita hanya berteman. Bertemu untuk berpisah, bukan untuk saling mempertahankan. Aku hanya memintamu untuk membandingkan dia yang lebih beruntung itu dengan diriku. Aku bukan siapa-siapa, aku hanya wanita biasa yang mengharapkan perkataanmu itu hanya kebohongan. Seolah berusaha untuk memanipulasikan keadaan sesuai dengan drama yang tiada akhirnya. Cukup, aku tidak mau lagi mendengar komentarmu tentang diriku, yang seolah tahu banyak tentang keadaanku saat ini. Jika nanti kita bertemu lagi, jangan sedikitpun tanyakan bagaimana keadaanku, aku akan baik baik saja dan selalu berusaha untuk baik-baik saja. 

Aku tidak berharap lebih, aku hanya sebatas menjalaninya. Aku harap kamu mengerti. Aku terbiasa seperti ini, dan tidak lagi aku ingin kamu mengerti. Karena aku tahu pengertianmu hanya untuk dia yang saat ini disampingmu, menggenggammu erat dan seolah takut untuk kamu lupakan barang sedetikpun. Untuk apa menjanjikan bahwa kamu akan selalu menyediakan ruang tersendiri untukku, jika nyatanya semua ruang itu telah dia kuasai. Kamu selalu berujar, itu masih kamu, tapi untuk apa kamu mengumbar semua kelakarmu itu jika nyatanya dengan jelas kamu menyatakan bahwa it's you, dia yang kini memilikimu, pantas disampingmu dan memilikimu. Tidak ada banyaj harapku saat ini, yang aku mau mulai saat ini, hilangkan saja memory tentang aku dan kamu. Aku dan kamu hanyalah sebuah kisah klise yang membuat banyak orang mendengarnya muak. Lupakan saja tentang hari, hujan dan cerita itu. Itu hanya ada dalam ingatan masa lalu, bukan untuk masa yang akan datang. Yang akan datang adalah milikmu dan dia, sedangkan aku adalah aku dan duniaku. 

Rabu, 28 Mei 2014

DIMENSI PARALEL

Disana, mungkin di sudut bumi lain. ada sepasang mata yang saling beradu untuk mengucapkan janji. Mungkin bukan ditempat ini, janji suci itu terucap. Bahkan mungkin tidak terdengar dan terjangkau oleh frekuensi pendengaranku. Aku hanya bisa merasakannya, mengimajinasikannya, dan memahaminya. Mungkin bukan dengan cara yang kasat mata. Coba lihat saja. Di dimensi lain mungkin sepasang tangan itu saling menggenggam untuk saling menguatkan, bukan sumpah janji sehidup semati yang terlantun, namun lebih dari itu tatapan hangat salaing menjanjikan bahwa tidak akan ada celah untuk saling menjauh. Mungkin detak jantung itu sedang berirama melantunkan doa dan harapan bersama, tentang sebuah rasa, tentang sebuah arti yang banyak orang menyebutnya dengan cinta. Mungkin dibelahan dunia sana, bukan kemolekan yang menjadi senjata utama untuk saling memikat, namun radar yang saling menemukan untuk menjalin sebuah keharmonian. Mungkin bukan disini yang selalu memuja-muja keindahan fisik untuk menjadi jalan penentu sebuah rasa itu tercipta. Mungkin disana ada sebuah rasa yang pantas untuk diperjuangkan hingga tampilan bukanlah sebagai penentu.

Disana, roda-roda itu saling bergesak untuk melanjutkan langkah demi perjalanan menuju keabadian. Bukan dengan omong kosong, namun dengan sebuah pengaharapan bahwa tidak akan ada yang mustahil. Mungkin disana, disebuah ruang, jemari itu saling mneyentuh dan memberi sebuah kekuatan bahwa tidak akan ada yang akan hilang meski waktu dengan angkuhnya mengilas semua kenangan. Mungkin, di sebuah waktu disana, raga itu saling bersanding untuk menikmati malam yang sunyi bukan dengan keriuhan akan dunia, namun dengan kedamaian yang melantunkan nyanyian alam. 

Bukankah bisa kamu bayangkan, barang sejenak saja. Bukan detak jam yang menjadi petunjuk waktu. Bukan pandangan dinding ruangan sebagai penyita perhatian, tapi tentang kita. Hanya ada aku dengan kamu, dan mimpi mimpi indah itu. Telantun dalam sebaris doa yang tertuju pada empuNya kehidupan. Mungkin disana, tidak ada tempat lain yang mendamaikan selain berada disampingmu, untuk bersandar bahwa hidup ini hanyalah soal menjalani, bukan untuk dikeluhi. Mungkin disuatu masa aku dan kamu saling menciptalan ruang untuk saling berpegang tangan hingga rambut memutih bersama, berproses dengan waktu yang terus berlalu, hingga nanti aku dan kamu menua bersama. Mungkin, itu yang ada dalam bayangan. Bayangan yang mungkin akan semakin menyemu jika nyatanya itu hanya ada di tempat lain, karena yang seharusnya belum tentu yang senyatanya. Kini senyatanya, aku hanya duduk termenung untuk sejenak saja menuliskan sebuah dimensi yang aku ciptakan sendiri untuk melukiskan jika aku menua bersamamu. Mungkin bukan hari ini, namun di dimensi lain aku dan kamu akan saling berjalan beriringan untuk saling meyakinkan bahwa semuanya akan baik-baik saja. 

Selasa, 13 Mei 2014

Pada sebuah "DONGENG"

Hei kamu yang berdiri menghadap senja. Betapa sukanya engkau berlama-lama untuk menghadap senja ? Apakah ada ucap kata perpisahan yang engan untuk kamu ucapkan ? Ah rasa-rasanya senyummu selalu tegas untuk meyakinkan bahwa aku harus tetap berjalan. Bukan untuk berhenti di tempat yang hanya akan sama-sama menahan kita. Sungguh, terlalu jelas tegap tubuhmu ketika kamu berdiri memandangi besi kotak panjang yang berjalan di atas jalanannya sendiri. Bukankah itu saat-saat yang memilukan ? Aku tidak sedikitpun melihat senyummu. Mana senyummu yang selalu kamu banggakan itu ? Ah bayangan itu sungguh masih terlalu jelas untuk aku ingat. Waktu seolah menghanyutkan semua ingatan tentang sorot mata itu. Jangan, jangan sedikitpun pernah berbohong dengan kata-kata manismu. Mungkin aku terlalu mengenalmu sebagai pemain sadiwara yang sangat lihai. Kamu bisa memainkan peran yang sekalipun tidak kamu sukai. Kamu begitu memukau dengan peranmu dibalik topeng yang tidak pernah tertebak itu. Masihkah kamu anggun memainkan peranmu itu ? Ah aku rasa kamu akan tetap ahli dalam usahamu menutupi semuanya. Coba ajarkan padaku bagaimana caramu itu ? Biar sebentar saja aku bisa lupa untuk tidak membicarakan tentang kamu. 

Apa istimewanya dirimu ? Rasa-rasanya tidak ada. Yah, kamu sama saja seperti yang lain. Tidak lebih dan tidak kurang, tetapi kamu satu paket yang memiliki dua sisi. Aku tidak mengagumimu karena segala kelebihanmu. Bahkan aku terlalu bosan dengan kelebihan yang seolah ingin kamu banggakan itu. Yang terlihat dimata telanjangku, kamu itu tetap sosok yang manja dan "pembohong". Tapi coba saja kalau kamu berusaha membohongiku, pasti akan aku pelintir tanganmu. Terlalu menyeramkankah caraku untuk menghormatimu. Tidak peduli apa dan bagaimana caraku, tapi ini caraku untuk menerimamu dan melihatmu dengan apa adanya dirimu. 

Apakah kamu masih menyukai hujan ? Oh atau ingatanku sudah mulai memburuk tentang kamu, sepertinya kamu paling benci jika harus berhadapan dengan hujan. Tapi masih ingatkah kamu, jika aku menyukai hujan ? Kamu pernah bilang kalau saat hujan datang, sejenak saja kamu memintaku untuk mendengarkan nada yang dimainkan oleh rintik-rintik hujan dengan naturalnya. Dari situ aku bisa mendengar bissikan alam yang seolah memberikan kedamaian. Kamu selalu menyadarkanku akan sesuatu yang sedari awal tidak pernah terpikirkan olehku. Ah terlalu lama aku menikmati hujan, tetap saja ingatan itu masih tentang kamu. 


Apalagi yang harus aku mengerti ? Apalagi yang harus aku pahami ? Aku harus melihatmu menikmati tarian hujan dengan sosok penyempurna hidupmu ? Yah, itu harapku. Aku belajar untuk menikmati hujan meski hujan kali ini dan seterusnya tidak akan lagi sama. Kemarin, hari  ini dan yang akan datang, apa bedanya jika nyatanya tidak ada lagi teriakmu untuk mengingatkanku menikmati rintik hujan ? Kamu memainkan melodi hujan dengan cara yang berbeda, di dunia yang berbeda dan dengan anggukan anggun yang berbeda. Ah pasti rasanya menyenangkan, duduk berdua hanya mengitung bulir-bulir hujan seperti orang yang tidak punya kerjaan. Bukakah itu kebiasaan kita ? Melakukan berbagai hal yang seolah nampak konyol dan tidak bemanfaat. Tapi tahukan kamu, setiap sudut kota bahkan menertawakanku karena kenangan itu seolah timbul tenggelam karena ingatanku masih tentang kamu. 

Bukan hanya mereka saja yang menertawakanku, bahkan diriku sendiripun juga begitu. Aku seolah menertawakan kebodohanku yang mengulur-ulur kenangan dan tidak ingin menyimpannya dalam kotak hitam rahasia kita. Aku memilih menikmatinya, meski aku sendiripun tahu itu hanya caraku untuk selalu menghadirkanmu disini. Seperti orang bodoh bukan ? Ini kenyataannya, meski kadang kita selalu nampak egois yang memaksakan yang seharusnya. Lihat saja kenyataannya, kamu memunggungiku dan berjalan, terus berjalan. Mungkin melupakan atau memang sengaja untuk dilupakan, karena semua waktu dan ingatan itu akan tetap tertuju pada satu kenangan. Mungkin ini hanya akan menjadi catatan usang yang tidak berarti. Tapi percayalah ketika aku kembali membaca kertas usang ini, aku percaya, aku dan kamu sudah berada di dunia kita masing-masing. Siapa yang bisa menebak apa yang akan terjadi. Karena bukan hidup namanya jika tidak memainkan rasa. 

Sabtu, 03 Mei 2014

because dreams will come true

Bukan hidup namanya jika tidak mempermainkan rasa. Mungkin kalimat itu yang akhir-akhir ini selalu tergiang dan selalu menjadi bahan permenungan. Benar bukan ? Coba lihat saja, baru sejenak manuisa dikunjungi bahagia, bisa dalam sekejam manusia ditinggalkan bahagia lantas yang ada hanya sepi. Terlalu klise jika mengatakan hidup itu adalah perjuangan, hidup itu adalah perjalanan. Yah terlalu sering mendengar hal itu bukan ? Apa ada filosofi lain yang bisa dijelaskan pada dunia apa itu hidup ? Ah terlalu luas jika harus berdiskusi tentang makna hidup dan kawan-kawannya, toh itu akan kembali lagi pada bagaimana orang itu menerima hidupnya dan menghabiskan kesempatan yang diberikan kepadanya. Ini bukan sekedar omong kosong atau apalah yang orang kira membual. Mungkin ada kalanya kita mau menurunkan ego kita untuk menerima yang terjadi. Apa yang kita rencanakan tidak selalu terjadi sesuai dengan detail yang kita bayangkan. Persiapkan diri kita untuk sebuah kemungkinan dan menerima kemungkinan yang lain. Jika satu pintu tertutup percaya saja kalau akan ada pintu lain yang akan terbuka.

Seberapa besar kamu percaya akan sebuah keajaiban itu ? Ah hidup ini memang penuh dengan kejutan, baik kejutan yang bisa kita terima atau bahkan kita tolak dengan mentah-mentah. Manusia terkadang terkesan egois, selalu mau apa yang dia mau, bukan mencoba apa yang Tuhan mau. Benar begitukan ? Bukan cuma aku, kamu, bahkan mungkin kita. Kita, ya kita yang sekarang sedang belajar berpijak pada realitas. Sungguh, jangan terlalu sinis akan dunia yang berpantul dari pikiranmu, meski itu yang akan kamu dapati. Percayalah, yang kita bisa hanya melakukan yang terbaik dan siap dengan kemungkinan terburuk sekalipun. Lihat, banyak orang berjuang untuk hidupnya. Ayah berjuang untuk emncari nafkah bagi keluarganya, ibu berjuang untuk menopang keluarganya, anak berjuang untuk mempersiapkan kehidupannya kelak. Belajar, belajar, dan belajar. Hidup itu adalah proses belajar. Belajar untuk menerima. Belajar untuk mengerti. Belajar untuk merelakan. Belajar untuk melepaskan. Belajar untuk bahagia. Belajar untuk sedih. Dan pada akhirnya belajar untuk berserah. Lantas apa yang bisa kita lakukan untuk belajar ? mempersiapkan diri, toh pendaki gunung mana yang tahu bahwa didepan sana ada tebing yang curam, jalan yang rata, hutan yang rindang, badai yang menghadap, atau pemandangan yang menakjubkan ? Siapa yang bisa menjamin semua itu. Manusia hanya sebatas menerima, karena ada kalanya dengan menerima manusia harus terus berharap. Meminta untuk sesuatu yang lebih baik. Walaupun bukan untuk saat ini juga, tetapi untuk kehidupan yang akan datang. 


Manusia boleh menyerah, siapa yang tidak memperbolehkan manusia menyerah ? Karena dengan menyerah mungkin manuasia bisa tahu batas kemampuannya, dan dia tahu diri bahwa bukan hanya kekuatannya yang menjadikan semuanya nyata. Lalu apa yang bisa manusia lakukan ? Kadang menjaga mimpi untuk terus bermimpi itu adalah salah satu hal yang kita butuhkan. Bayangkan saja jika kita hidup tanpa mimpi ? Apakah hidup akan berjalan lebih indah ? Oh sungguh mimpi itu memang memabukkan. Tetapi dengan mimpi itu, orang yang yang sekarat sekalipun masih berharap memiliki hari esok. Berkumpul dengan keluarganya, melihat matahari terbit dan terbenam, bahkan melihat kejutan kehidupan mempermainkannya. Pelihara saja mimpi itu, walaupun banyak orang yang gembar gembor jangan mimpi setinggi langit, tapi itu yang menuntun langkah kita bahwa mentari esok akan terbit dari timur dan tenggelam di ufuk barat. Jaga saja mimpi itu dan percaya saja, memintalah belas kasihNya, dan bagikan belaskasihNya. Dan lihatlah hidup  kita akan memiliki warna meski tanpa harus terlihat oleh orang lain. 

Rabu, 02 April 2014

[CERPEN] : WAKE (me) UP

Matahari masih saja menampakkan kegarangannya hari ini. Lalu apa yang Elsa cari ? Yah yang bisa dia lakukan sekarang hanya menyisir jalanan kota yang sudah terlalu bermakna untuknya.
"Ah orang-orang itu juga sendiri. Apa yang mereka takuti ?' Gerutu Elsa pada dirinya sendiri.
Pandangan Elsa tertujua pada seorang anak kecil yang sedang mengais-ngais tong sampah hanya untuk mencari sesuap nasi.
"Lalu apa yang aku cari ?" Elsa bertanya pada dirinya sendiri. 
Lagi-lagi Elsa mencoba untuk tidak menghiraukan segala pemandangan disekitarnya. Elsa terus berjalan seorang jalan yang dia lewati sama sekali tak berujung.

"Nak kasiani saya nak. Saya belum makan dari kemarin." Tiba-tiba langkah Elsa terhenti oleh rintihan seorang kakek tua yang tersudut dijalanan yang ramai ini. Tatapan mata Elsa langsung tertuju pada wajah sayu dan badan kurus berbaju combang camping dihadapannya. Elsa dalam sekejap tidak berkedip. Hanya mematung, seolah Tuhan segera memberi jawaban akan segala tanyanya. 
Elsa merogoh sepotong roti yang baru saja tadi dibelinya, dan diberikannya pada kakek tua itu tanpa berkata apapun. Tatapan Elsa hanya menerawang seolah inin menembus batin kakek tua itu.
"Apa ada pilihan lain ketika hidup dirasa tidak adil ? Inikah yang dinamakan dengan keadilan alam ?" Lagi-lagi Elsa hanya mampu menggerutu.

Rasa-rasanya lelah juga Elsa menyusuri jalanan kota Malioboro ini. Elsa menghentikan langkahnya di tempat itu. Ya lagi-lagi ditempat itu. Bukan tempat yang terlalu istimewa. Hanya sebuah tempat duduk sederhana. Namun seketika tatapan Elsa menerawang jauh.
"Aku sendiri. Lalu apa yang harus aku takuti ?" Elsa lagi-lagi menanyakan hal yang sama pada dirinya sendiri. Es yang sembari tadi dibelinya kini mulai mencair. Kenangan itu. Yah kenangan itu. Kenangan akan tempat ini juga membangkitkan Elsa pada sosok yang dirindukannya. Seorang sahabat yang dirindukannya. Seolah waktu berputar dengan cepatnya. Lantas siapa yang bisa menawar ego Sang Waktu ? Apa manusia bisa berbuat lebih ? Tidak. Kini Elsa hanya duduk menyendiri bertemankan dengan kenangannya. Orang yang biasanya disampingnya kini telah tiada.


"Kamu masih selalu datang ke tempat ini ?" Suara itu seolah berada dalam angan Elsa. Elsa mencoba menegakkan duduknya untuk memperjelas suara itu. Yah suara itu, begitu familiar di telinga Elsa. 
"Ah ini hanya imajinasiku saja." Elsa mencoba meyakinkan dirinya sendiri. Sebeginikah efek yang harus ditanggungnya. Dalam himpitan masalah yang seolah merobohkannya, Elsa hanya mampu menompangnya sendiri.

"Iya hanya ingin menepati janji. Aku akan selalu punya alasan datang kesini. Bukan karena kamu teapi karena tempat ini aku punya sejumput kenangan yang bisa menghidurku."Elsa akhirnya berani membalas suara itu. 
Keriuhan kota ini serasa tidak berarti untuk Elsa. Dia hanya sendiri. Menunggu waktunya kembali ke realita semula.

"Aku masih sehatkan. Apa separah ini keadaanku sekarang. Hingga aku tidak mampu lagi beroroentasi pada waktu. Tuhan ada apa denganku ini." Elsa mencoba menyadarkan dirinya sendiri.

"Woi Sa kamu dimanaaaaa ?" Lengking suara dari telepon itu mengagetkan Elsa dan membuatnya kembali berpijak pada realitanya sendiri. "Duh, iya iya nggak harus pake teriak juga kali." Teriak Elsa tak kalah kerasnya. "Aku tahu kamu dimana. Udah kamu disitu dulu sebentar lagi aku nyamperin kamu kesitu. Jangan kemana-mana." Teriak Tias lagi. Ah dia memang sahabat yang pengertian. Di tengah gempa hidup yang Elsaalami, selalu saja terselip satu orang yang masih mau tahu keadaan Elsa. Dia itu Tias.


"Non, are you okay ?" Tanya Tias tiba-tiba. "Maybe yes maybe no. Beginilah." Jawab Elsa engan. "Kamu kenapa lagi ? Kamu kangen kangen dia ?" Tanya Tias tanpa tendeng aling. 

Bukan lagi kata-kata yang sanggung Elsa bantah namun hanya air matanya yang seolah dari tadi di tanhannya. Secepat kilat juga Tias memeluk Elsa. 
"Aku takut As. Aku takut. Aku ngerasa sendiri. Aku harus gimana ?" Suara Elsa bahkan tenggelam oleh sesenggukannya. Tias tidak berkata apa-apa hanya pelukan yang mampu dia berikan saat ini.
Tias tahu apa yang Elsa harus lakukan, tapi Tias tidak bisa memaksanya. 
"Sa, kamu tahu apa yang harus kamu lakukan. Lepaskan dia. Biarkan dia pergi. Kamu tidak pernah sendiri. Ada aku disini yang selalu nemenin kamu. Jangan pernah takut." Tias mencoba meyakinkan Elsa.

Tangis Elsa masih juga belum reda. Seolah bom waktu. Dibalik ketegaran Elsa tersimpan kerapuhannya yang berusaha dia tutupi. Namun kali ini tangis itu akhirnya pecah juga.
"Aapa aku bisa lakukan lebih dari ini. Aku hanya ingin dia kembali. Cukup itu." Suara Elsa masih juga belum jelas.
"Sa, wake up. Kamu bisa melakukan lebih dari ini." Tias mencoba menenagkan Elsa.
"Tapi apa yang bisa aku lakukan ?" Tanya Elsa ragu.
"Tepati janjimu kalau kamu akan baik-baik saja disini." Sebaris kalimat yang diucapkan Tias seolah membekap sejuta alasan Elsa untuk berkilah dan membendung semua tangisnya yang baru saja pecah.