Rabu, 28 Mei 2014

DIMENSI PARALEL

Disana, mungkin di sudut bumi lain. ada sepasang mata yang saling beradu untuk mengucapkan janji. Mungkin bukan ditempat ini, janji suci itu terucap. Bahkan mungkin tidak terdengar dan terjangkau oleh frekuensi pendengaranku. Aku hanya bisa merasakannya, mengimajinasikannya, dan memahaminya. Mungkin bukan dengan cara yang kasat mata. Coba lihat saja. Di dimensi lain mungkin sepasang tangan itu saling menggenggam untuk saling menguatkan, bukan sumpah janji sehidup semati yang terlantun, namun lebih dari itu tatapan hangat salaing menjanjikan bahwa tidak akan ada celah untuk saling menjauh. Mungkin detak jantung itu sedang berirama melantunkan doa dan harapan bersama, tentang sebuah rasa, tentang sebuah arti yang banyak orang menyebutnya dengan cinta. Mungkin dibelahan dunia sana, bukan kemolekan yang menjadi senjata utama untuk saling memikat, namun radar yang saling menemukan untuk menjalin sebuah keharmonian. Mungkin bukan disini yang selalu memuja-muja keindahan fisik untuk menjadi jalan penentu sebuah rasa itu tercipta. Mungkin disana ada sebuah rasa yang pantas untuk diperjuangkan hingga tampilan bukanlah sebagai penentu.

Disana, roda-roda itu saling bergesak untuk melanjutkan langkah demi perjalanan menuju keabadian. Bukan dengan omong kosong, namun dengan sebuah pengaharapan bahwa tidak akan ada yang mustahil. Mungkin disana, disebuah ruang, jemari itu saling mneyentuh dan memberi sebuah kekuatan bahwa tidak akan ada yang akan hilang meski waktu dengan angkuhnya mengilas semua kenangan. Mungkin, di sebuah waktu disana, raga itu saling bersanding untuk menikmati malam yang sunyi bukan dengan keriuhan akan dunia, namun dengan kedamaian yang melantunkan nyanyian alam. 

Bukankah bisa kamu bayangkan, barang sejenak saja. Bukan detak jam yang menjadi petunjuk waktu. Bukan pandangan dinding ruangan sebagai penyita perhatian, tapi tentang kita. Hanya ada aku dengan kamu, dan mimpi mimpi indah itu. Telantun dalam sebaris doa yang tertuju pada empuNya kehidupan. Mungkin disana, tidak ada tempat lain yang mendamaikan selain berada disampingmu, untuk bersandar bahwa hidup ini hanyalah soal menjalani, bukan untuk dikeluhi. Mungkin disuatu masa aku dan kamu saling menciptalan ruang untuk saling berpegang tangan hingga rambut memutih bersama, berproses dengan waktu yang terus berlalu, hingga nanti aku dan kamu menua bersama. Mungkin, itu yang ada dalam bayangan. Bayangan yang mungkin akan semakin menyemu jika nyatanya itu hanya ada di tempat lain, karena yang seharusnya belum tentu yang senyatanya. Kini senyatanya, aku hanya duduk termenung untuk sejenak saja menuliskan sebuah dimensi yang aku ciptakan sendiri untuk melukiskan jika aku menua bersamamu. Mungkin bukan hari ini, namun di dimensi lain aku dan kamu akan saling berjalan beriringan untuk saling meyakinkan bahwa semuanya akan baik-baik saja. 

Selasa, 13 Mei 2014

Pada sebuah "DONGENG"

Hei kamu yang berdiri menghadap senja. Betapa sukanya engkau berlama-lama untuk menghadap senja ? Apakah ada ucap kata perpisahan yang engan untuk kamu ucapkan ? Ah rasa-rasanya senyummu selalu tegas untuk meyakinkan bahwa aku harus tetap berjalan. Bukan untuk berhenti di tempat yang hanya akan sama-sama menahan kita. Sungguh, terlalu jelas tegap tubuhmu ketika kamu berdiri memandangi besi kotak panjang yang berjalan di atas jalanannya sendiri. Bukankah itu saat-saat yang memilukan ? Aku tidak sedikitpun melihat senyummu. Mana senyummu yang selalu kamu banggakan itu ? Ah bayangan itu sungguh masih terlalu jelas untuk aku ingat. Waktu seolah menghanyutkan semua ingatan tentang sorot mata itu. Jangan, jangan sedikitpun pernah berbohong dengan kata-kata manismu. Mungkin aku terlalu mengenalmu sebagai pemain sadiwara yang sangat lihai. Kamu bisa memainkan peran yang sekalipun tidak kamu sukai. Kamu begitu memukau dengan peranmu dibalik topeng yang tidak pernah tertebak itu. Masihkah kamu anggun memainkan peranmu itu ? Ah aku rasa kamu akan tetap ahli dalam usahamu menutupi semuanya. Coba ajarkan padaku bagaimana caramu itu ? Biar sebentar saja aku bisa lupa untuk tidak membicarakan tentang kamu. 

Apa istimewanya dirimu ? Rasa-rasanya tidak ada. Yah, kamu sama saja seperti yang lain. Tidak lebih dan tidak kurang, tetapi kamu satu paket yang memiliki dua sisi. Aku tidak mengagumimu karena segala kelebihanmu. Bahkan aku terlalu bosan dengan kelebihan yang seolah ingin kamu banggakan itu. Yang terlihat dimata telanjangku, kamu itu tetap sosok yang manja dan "pembohong". Tapi coba saja kalau kamu berusaha membohongiku, pasti akan aku pelintir tanganmu. Terlalu menyeramkankah caraku untuk menghormatimu. Tidak peduli apa dan bagaimana caraku, tapi ini caraku untuk menerimamu dan melihatmu dengan apa adanya dirimu. 

Apakah kamu masih menyukai hujan ? Oh atau ingatanku sudah mulai memburuk tentang kamu, sepertinya kamu paling benci jika harus berhadapan dengan hujan. Tapi masih ingatkah kamu, jika aku menyukai hujan ? Kamu pernah bilang kalau saat hujan datang, sejenak saja kamu memintaku untuk mendengarkan nada yang dimainkan oleh rintik-rintik hujan dengan naturalnya. Dari situ aku bisa mendengar bissikan alam yang seolah memberikan kedamaian. Kamu selalu menyadarkanku akan sesuatu yang sedari awal tidak pernah terpikirkan olehku. Ah terlalu lama aku menikmati hujan, tetap saja ingatan itu masih tentang kamu. 


Apalagi yang harus aku mengerti ? Apalagi yang harus aku pahami ? Aku harus melihatmu menikmati tarian hujan dengan sosok penyempurna hidupmu ? Yah, itu harapku. Aku belajar untuk menikmati hujan meski hujan kali ini dan seterusnya tidak akan lagi sama. Kemarin, hari  ini dan yang akan datang, apa bedanya jika nyatanya tidak ada lagi teriakmu untuk mengingatkanku menikmati rintik hujan ? Kamu memainkan melodi hujan dengan cara yang berbeda, di dunia yang berbeda dan dengan anggukan anggun yang berbeda. Ah pasti rasanya menyenangkan, duduk berdua hanya mengitung bulir-bulir hujan seperti orang yang tidak punya kerjaan. Bukakah itu kebiasaan kita ? Melakukan berbagai hal yang seolah nampak konyol dan tidak bemanfaat. Tapi tahukan kamu, setiap sudut kota bahkan menertawakanku karena kenangan itu seolah timbul tenggelam karena ingatanku masih tentang kamu. 

Bukan hanya mereka saja yang menertawakanku, bahkan diriku sendiripun juga begitu. Aku seolah menertawakan kebodohanku yang mengulur-ulur kenangan dan tidak ingin menyimpannya dalam kotak hitam rahasia kita. Aku memilih menikmatinya, meski aku sendiripun tahu itu hanya caraku untuk selalu menghadirkanmu disini. Seperti orang bodoh bukan ? Ini kenyataannya, meski kadang kita selalu nampak egois yang memaksakan yang seharusnya. Lihat saja kenyataannya, kamu memunggungiku dan berjalan, terus berjalan. Mungkin melupakan atau memang sengaja untuk dilupakan, karena semua waktu dan ingatan itu akan tetap tertuju pada satu kenangan. Mungkin ini hanya akan menjadi catatan usang yang tidak berarti. Tapi percayalah ketika aku kembali membaca kertas usang ini, aku percaya, aku dan kamu sudah berada di dunia kita masing-masing. Siapa yang bisa menebak apa yang akan terjadi. Karena bukan hidup namanya jika tidak memainkan rasa. 

Sabtu, 03 Mei 2014

because dreams will come true

Bukan hidup namanya jika tidak mempermainkan rasa. Mungkin kalimat itu yang akhir-akhir ini selalu tergiang dan selalu menjadi bahan permenungan. Benar bukan ? Coba lihat saja, baru sejenak manuisa dikunjungi bahagia, bisa dalam sekejam manusia ditinggalkan bahagia lantas yang ada hanya sepi. Terlalu klise jika mengatakan hidup itu adalah perjuangan, hidup itu adalah perjalanan. Yah terlalu sering mendengar hal itu bukan ? Apa ada filosofi lain yang bisa dijelaskan pada dunia apa itu hidup ? Ah terlalu luas jika harus berdiskusi tentang makna hidup dan kawan-kawannya, toh itu akan kembali lagi pada bagaimana orang itu menerima hidupnya dan menghabiskan kesempatan yang diberikan kepadanya. Ini bukan sekedar omong kosong atau apalah yang orang kira membual. Mungkin ada kalanya kita mau menurunkan ego kita untuk menerima yang terjadi. Apa yang kita rencanakan tidak selalu terjadi sesuai dengan detail yang kita bayangkan. Persiapkan diri kita untuk sebuah kemungkinan dan menerima kemungkinan yang lain. Jika satu pintu tertutup percaya saja kalau akan ada pintu lain yang akan terbuka.

Seberapa besar kamu percaya akan sebuah keajaiban itu ? Ah hidup ini memang penuh dengan kejutan, baik kejutan yang bisa kita terima atau bahkan kita tolak dengan mentah-mentah. Manusia terkadang terkesan egois, selalu mau apa yang dia mau, bukan mencoba apa yang Tuhan mau. Benar begitukan ? Bukan cuma aku, kamu, bahkan mungkin kita. Kita, ya kita yang sekarang sedang belajar berpijak pada realitas. Sungguh, jangan terlalu sinis akan dunia yang berpantul dari pikiranmu, meski itu yang akan kamu dapati. Percayalah, yang kita bisa hanya melakukan yang terbaik dan siap dengan kemungkinan terburuk sekalipun. Lihat, banyak orang berjuang untuk hidupnya. Ayah berjuang untuk emncari nafkah bagi keluarganya, ibu berjuang untuk menopang keluarganya, anak berjuang untuk mempersiapkan kehidupannya kelak. Belajar, belajar, dan belajar. Hidup itu adalah proses belajar. Belajar untuk menerima. Belajar untuk mengerti. Belajar untuk merelakan. Belajar untuk melepaskan. Belajar untuk bahagia. Belajar untuk sedih. Dan pada akhirnya belajar untuk berserah. Lantas apa yang bisa kita lakukan untuk belajar ? mempersiapkan diri, toh pendaki gunung mana yang tahu bahwa didepan sana ada tebing yang curam, jalan yang rata, hutan yang rindang, badai yang menghadap, atau pemandangan yang menakjubkan ? Siapa yang bisa menjamin semua itu. Manusia hanya sebatas menerima, karena ada kalanya dengan menerima manusia harus terus berharap. Meminta untuk sesuatu yang lebih baik. Walaupun bukan untuk saat ini juga, tetapi untuk kehidupan yang akan datang. 


Manusia boleh menyerah, siapa yang tidak memperbolehkan manusia menyerah ? Karena dengan menyerah mungkin manuasia bisa tahu batas kemampuannya, dan dia tahu diri bahwa bukan hanya kekuatannya yang menjadikan semuanya nyata. Lalu apa yang bisa manusia lakukan ? Kadang menjaga mimpi untuk terus bermimpi itu adalah salah satu hal yang kita butuhkan. Bayangkan saja jika kita hidup tanpa mimpi ? Apakah hidup akan berjalan lebih indah ? Oh sungguh mimpi itu memang memabukkan. Tetapi dengan mimpi itu, orang yang yang sekarat sekalipun masih berharap memiliki hari esok. Berkumpul dengan keluarganya, melihat matahari terbit dan terbenam, bahkan melihat kejutan kehidupan mempermainkannya. Pelihara saja mimpi itu, walaupun banyak orang yang gembar gembor jangan mimpi setinggi langit, tapi itu yang menuntun langkah kita bahwa mentari esok akan terbit dari timur dan tenggelam di ufuk barat. Jaga saja mimpi itu dan percaya saja, memintalah belas kasihNya, dan bagikan belaskasihNya. Dan lihatlah hidup  kita akan memiliki warna meski tanpa harus terlihat oleh orang lain. 

Rabu, 02 April 2014

[CERPEN] : WAKE (me) UP

Matahari masih saja menampakkan kegarangannya hari ini. Lalu apa yang Elsa cari ? Yah yang bisa dia lakukan sekarang hanya menyisir jalanan kota yang sudah terlalu bermakna untuknya.
"Ah orang-orang itu juga sendiri. Apa yang mereka takuti ?' Gerutu Elsa pada dirinya sendiri.
Pandangan Elsa tertujua pada seorang anak kecil yang sedang mengais-ngais tong sampah hanya untuk mencari sesuap nasi.
"Lalu apa yang aku cari ?" Elsa bertanya pada dirinya sendiri. 
Lagi-lagi Elsa mencoba untuk tidak menghiraukan segala pemandangan disekitarnya. Elsa terus berjalan seorang jalan yang dia lewati sama sekali tak berujung.

"Nak kasiani saya nak. Saya belum makan dari kemarin." Tiba-tiba langkah Elsa terhenti oleh rintihan seorang kakek tua yang tersudut dijalanan yang ramai ini. Tatapan mata Elsa langsung tertuju pada wajah sayu dan badan kurus berbaju combang camping dihadapannya. Elsa dalam sekejap tidak berkedip. Hanya mematung, seolah Tuhan segera memberi jawaban akan segala tanyanya. 
Elsa merogoh sepotong roti yang baru saja tadi dibelinya, dan diberikannya pada kakek tua itu tanpa berkata apapun. Tatapan Elsa hanya menerawang seolah inin menembus batin kakek tua itu.
"Apa ada pilihan lain ketika hidup dirasa tidak adil ? Inikah yang dinamakan dengan keadilan alam ?" Lagi-lagi Elsa hanya mampu menggerutu.

Rasa-rasanya lelah juga Elsa menyusuri jalanan kota Malioboro ini. Elsa menghentikan langkahnya di tempat itu. Ya lagi-lagi ditempat itu. Bukan tempat yang terlalu istimewa. Hanya sebuah tempat duduk sederhana. Namun seketika tatapan Elsa menerawang jauh.
"Aku sendiri. Lalu apa yang harus aku takuti ?" Elsa lagi-lagi menanyakan hal yang sama pada dirinya sendiri. Es yang sembari tadi dibelinya kini mulai mencair. Kenangan itu. Yah kenangan itu. Kenangan akan tempat ini juga membangkitkan Elsa pada sosok yang dirindukannya. Seorang sahabat yang dirindukannya. Seolah waktu berputar dengan cepatnya. Lantas siapa yang bisa menawar ego Sang Waktu ? Apa manusia bisa berbuat lebih ? Tidak. Kini Elsa hanya duduk menyendiri bertemankan dengan kenangannya. Orang yang biasanya disampingnya kini telah tiada.


"Kamu masih selalu datang ke tempat ini ?" Suara itu seolah berada dalam angan Elsa. Elsa mencoba menegakkan duduknya untuk memperjelas suara itu. Yah suara itu, begitu familiar di telinga Elsa. 
"Ah ini hanya imajinasiku saja." Elsa mencoba meyakinkan dirinya sendiri. Sebeginikah efek yang harus ditanggungnya. Dalam himpitan masalah yang seolah merobohkannya, Elsa hanya mampu menompangnya sendiri.

"Iya hanya ingin menepati janji. Aku akan selalu punya alasan datang kesini. Bukan karena kamu teapi karena tempat ini aku punya sejumput kenangan yang bisa menghidurku."Elsa akhirnya berani membalas suara itu. 
Keriuhan kota ini serasa tidak berarti untuk Elsa. Dia hanya sendiri. Menunggu waktunya kembali ke realita semula.

"Aku masih sehatkan. Apa separah ini keadaanku sekarang. Hingga aku tidak mampu lagi beroroentasi pada waktu. Tuhan ada apa denganku ini." Elsa mencoba menyadarkan dirinya sendiri.

"Woi Sa kamu dimanaaaaa ?" Lengking suara dari telepon itu mengagetkan Elsa dan membuatnya kembali berpijak pada realitanya sendiri. "Duh, iya iya nggak harus pake teriak juga kali." Teriak Elsa tak kalah kerasnya. "Aku tahu kamu dimana. Udah kamu disitu dulu sebentar lagi aku nyamperin kamu kesitu. Jangan kemana-mana." Teriak Tias lagi. Ah dia memang sahabat yang pengertian. Di tengah gempa hidup yang Elsaalami, selalu saja terselip satu orang yang masih mau tahu keadaan Elsa. Dia itu Tias.


"Non, are you okay ?" Tanya Tias tiba-tiba. "Maybe yes maybe no. Beginilah." Jawab Elsa engan. "Kamu kenapa lagi ? Kamu kangen kangen dia ?" Tanya Tias tanpa tendeng aling. 

Bukan lagi kata-kata yang sanggung Elsa bantah namun hanya air matanya yang seolah dari tadi di tanhannya. Secepat kilat juga Tias memeluk Elsa. 
"Aku takut As. Aku takut. Aku ngerasa sendiri. Aku harus gimana ?" Suara Elsa bahkan tenggelam oleh sesenggukannya. Tias tidak berkata apa-apa hanya pelukan yang mampu dia berikan saat ini.
Tias tahu apa yang Elsa harus lakukan, tapi Tias tidak bisa memaksanya. 
"Sa, kamu tahu apa yang harus kamu lakukan. Lepaskan dia. Biarkan dia pergi. Kamu tidak pernah sendiri. Ada aku disini yang selalu nemenin kamu. Jangan pernah takut." Tias mencoba meyakinkan Elsa.

Tangis Elsa masih juga belum reda. Seolah bom waktu. Dibalik ketegaran Elsa tersimpan kerapuhannya yang berusaha dia tutupi. Namun kali ini tangis itu akhirnya pecah juga.
"Aapa aku bisa lakukan lebih dari ini. Aku hanya ingin dia kembali. Cukup itu." Suara Elsa masih juga belum jelas.
"Sa, wake up. Kamu bisa melakukan lebih dari ini." Tias mencoba menenagkan Elsa.
"Tapi apa yang bisa aku lakukan ?" Tanya Elsa ragu.
"Tepati janjimu kalau kamu akan baik-baik saja disini." Sebaris kalimat yang diucapkan Tias seolah membekap sejuta alasan Elsa untuk berkilah dan membendung semua tangisnya yang baru saja pecah. 

Selasa, 01 April 2014

T-E-R-U-N-T-U-K

Ini bukan tentang surat istimewa ataupun tentang ungkapan mendalam. Ini hanya sebatas kata yang bisa saja dianggap sebagai angin lalu. Tidak terlalu pantas dipedulikan atau dihiraukan barang semenitpun. Ini tentang sebuah rasa, ini tentang sebuah makna. Meski hanya tertuang dalam susunan huruf-huruf namun kelak kamu akan mengerti ini adalah sebuah caraku menyampaikannya padamu. Bukan dengan kata-kata indah yang sanggup menyanjungmu. Ini hanya bait demi bait yang berusaha untuk kamu mengerti. Mengerti bahwa menunggu itu adalah bagian dari perjalananku menemukanmu. Coba sejenak saja dengarkan apa yang ingin aku sampaikan, jika ini membutuhkan waktumu terlalu banyak, jangan kau anggap sia-sia tentang apa yang telah susah payah aku susun untukmu. Aku tidak berlagak menjadi sosok yang romantis untuk menyanjungmu. Namun aku ingin berusaha untuk menjadi apa adanya diriku teruntukmu. 

Teruntuk.
Kalimat ini hanya sederhana. Sesederhana caraku meniti setiap waktu untuk aku nikmati sendiri. Dalam diamku. Dalam hembusan nafasku. Dalam setiap detakmu. Dalam setiap baris doaku. Aku memintaNya untuk mempertemukanku denganmu. Bukan denganmu yang tersegalanya, namun denganmu yang terbaik yang selama ini kurindu. Setiap saat aku mencoba berbincang dengan empuNya perasaan. Aku hanya meminta dengan sederhana. Jika waktunya sudah tiba, dekatkanlah apa yang terbaik untukku. Sungguh, bukan lagi harapku yang muluk-muluk. Walaupun dalam setiap hening seolah aku menggerutu pada langit yang seolah diam menatapku dengan tatapan hampanya. Bukan nama yang aku sebutkan, namun pasangan jiwa yang aku rindukan. Dibawah naungan langit yang sama. Setiap malamnya kita selalu ditemani oleh bintang yang sama pula. Aku tidak mengharapkan lebih. Meski egoku kadang mendesakku untuk meminta lebih. Namun aku coba untuk tidak letih menunggu sesuatu yang lebih. Bukan tentang harapku, bukan tentang mimpiku namun tentang mauNya. Siapa yang akan tahu apa yang sudah ditakirkan untukku ? Toh semua sudah berjalan sebagaimana mestinya. Apalagi yang perlu aku tuntut. Bahkan dia yang Maha Membolak balikkan perasaan manusia seolah tahu apa yang memang sejatinya terbaik untukku.


Teruntuk.
Teruntuk kamu yang bahkan mungkin sampai saat ini belum terjangkau oleh mataku. Aku tahu alam akan mempertemukanku denganmu disaat yang tepat. Aku terlalu bosan jika harus mendengar satu kata "sabar". Tapi apa yang bisa aku perbuat lebih dari itu. Karena itu yang bisa aku usahakan untuk saat ini. Lalu aku coba tulikan telingaku dari olok-olokan sekitar yang seolah menyudutkan keadaanku. Lalu apa aku harus menyerah dengan semua itu ? Tidak. Aku ingin tunjukkan padamu ini adalah caraku menemukanmu. Entah kamu sedang berada dimana dan dengan siapa. Tenanglah tenang aku akan mengusakan untuk menjadi wanita yang kelak kamu bisa banggakan. Mungkin bukan karena rupa, mungkin juga bukan karena tahta. Namun aku ingin usahakan menjadi wanita terbaik yang bisa membangun mimpi dan mewujudkannya bersamamu. Apa ini terdengar terlalu belebihan ? 

Teruntuk. 
Taukah kamu aku selau menyukai hujan. Entah mengapa aku selalu melihat bulir wajahmu disetiap rintik hujan yang turun. Terlalu hiperbolis atau berlebihan ? Apa peduliku. Ini caraku menyampaikan sejuta kerinduanku kepada alam. Ini caraku menyentuhmu dalam diamku. Bukan dengan cara yang kasat mata karena mungkin saat ini aku hanya bisa menyapamu melalui isyarat yang sanggup aku rasa. Aku selau mencoba mendeteksimu dengan radar yang aku punya. Bukankah kelihatannya aku canggih ? Menemukanmu seolah kamu itu alien yang bisa tertangkap radar dimanapun kamu berada ? Ah aku tidak terlalu muluk untuk nanti kamu bilang lucu, aku mungkin akan memperlihatkan diriku sebagaimana adanya. Inilah diriku, inilah caraku untuk menerimamu. Aku ingin kelak kita sama-sama berjalan beriringan untuk belajar akan sebuah kata yaitu "hidup". Aku mencoba untuk mengosongkan diriku utuk nantinya kamu jadikan utuh karena telah berhasil menemukanmu. Kelak aku ingin menyapamu dengan caraku yang tidak terlalu berlebihan, bukan dengan panggilan sayang ataupun panggilan lainnya. Kelak aku hanya akan memanggilmu pasangan jiwaku. Karena kamu adalah penyempurna hidupku.

Kamis, 27 Maret 2014

SOMEDAY

Alam. Apa yang manusia bisa lakukan untuk sebentar saja bercengkerama dengan alam ? Mencoba menghindar tapi apa yang manusia bisa ? Konspirasi alam itu seolah menujukkan sebuah jalan untuk mengungkap takdir manusia. Mana yang dikatakan cobaan dan mana yang bisa dikatakan pertanda ? Coba beri satu alasan untuk membedakannya. Bukankah itu amat sangat beda tipis sekali? Seolah menjadi pertanda kalau semua itu hanya ada dalam jangkauan mata untuk membedakannya. Bukankah manusia hanya diminta untuk berusaha lebih ? Lalu apa mau alam ? Seolah usaha manusia terkesan sia-sia jika alam menampakkan kemauannya yang tidak bisa dinego lagi. Ada hitam ada putih. Ada datang ada pergi. Ada hujan ada pelabgi. Bukankan dari hal sekecil itu semua membutuhkan proses ? Proses untuk mengubahnya. Yah, hati tidak bisa lagi memohon jika ntanya usaha yang manusia lakukan belum menujukkan hasil yang maksimal. Semua butuh usaha. Itu adalah kata-kata klise untuk mempermulus sebuah kekecewaan dan keputusasaan. Ini hanya tentang proses mengubah. Bukan tentang cara untuk memaksa. Wajar jika manusia berharap yang terbaik bagi hidupnya saat ini dan yang akan datang. Lalu bagaimana yang telah berlalu ? Itu hanya sementara. Toh pada akhirnya sudah berlalu. Lihat saja susunan katanya "masa lalu". Bisakah diubah ? Tidak yang bisa dilakukan hanyalah melakukan yang terbaik untuk waktu yang akan datang. Saat ini dan yang akan datang.Manusia sewajarnya boleh berusaha dan berdoa, berharap dan menerima. Hingga kelak semua akan indah pada waktunya. Akan ada masa dimana masa itu yang awalnya hanya ada di pelupuk mata kita, di angan kita, dan di mimpi kita. Semua akan begitu nyata hingga hidup menjadi terasa utuh karenanya. 

Selasa, 18 Maret 2014

TWIST

Rasa-rasanya baru kemarin kamu ingin segera mengejar ketertinggalanmu? Ah iya, rasanya juga baru kemarin juga kamu ingin segera menyelesaikan apa yang memang sepantasnya diselesaikan. Dan baru saja kamu berusaha meyakinkan dirimu sendiri bahwa kamu bisa dengan dirimu. Lalu sepertinya memang benar jika banyak orang berdalil kalau Tuhan itu memang Maha membolak balikkan perasaan umatNya. Mau buktinya ? Lihat saja kamu sekarang. Kamu baru saja mencari banyak keyakinan untuk memperkuat langkahmu sendiri menghadapi apa yang memang harus kamu hadapi. Lalu apa ? Sepertinya semuanya terlihat sia-sia. Ruang yang kamu kira sejenak saja memberimu kekuatan ternyata jauh dari apa yang kamu harapkan. Tempat untukmu sejenak saja mengadu sepertinya tidak mendengar teriakan dari dalam hatimu. Mereka bahkan membisu, menulikan telinganya untuk menghindar dari teriakanmu. Lalu apa yang salah dari sikapmu ? Coba sejenak saja kamu merenungkan apa yang kamu cari saat ini. Yah, kamu lagi-lagi harus berusaha berdiri di kakimu sendiri. Tidak tergantung dengan orang lain. Toh siapa yang mau kamu andalkan ? Bukankah dirimu sendiri, keyakinanmu pada Tuhanmu. Tidak ada yang lain. Jangan terlalu banyak berharap orang-orang mendengarkan rintihanmu, keluhakan saja semuanya pada Tuhanmu. Tidak ada tempat yang lebih mendamaikan ketika kamu bersujud dan memohon kepadanya. Sudah, abaikan saja segala kejengahanmu akan dunia ini. Luapkan saja apa yang membuatmu marah dan membuatmu merasa muak. Coba dengarkan saja kata hatimu. Tetaplah tersenyum untuk menghibur dirimu sendiri. Bukan dia atau mereka tapi dirimu sendiri. Tidak ada yang lain. Jangan terlalu percaya pada apa yang ditampilkan mereka dihadapanmu. Bukan mengajarkan untuk memiliki dendam namun yang pasti tempat untukmu menimba lagi semangat ya ada dalam dirimu sendiri. Lagi-lagi bukan dia atau mereka. Yah, memang rasa-rasanya tidak perlu hitungan hari, bulan atau tahun jika kamu ingin menguji seberapa kuat dirimu bertahan. Buktinya tidak dalam hitungan 24 jam kamu lagi-lagi diminta untuk yakin. Yakin untuk apa ? Yakin bahwa ruang itu ada dalam hatimu. Mungkin selama ini mereka tidak tahu apa yang kamu perjuangkan dibalik senyum bahagiamu ? Yah, mereka mungkin hanya tahu apa yang terlihat dari wajahmu. Tenanglah tenang kamu harus yakin bahwa dirimu tidak selemah itu. Belajarlah untuk mengampuni. Mungkin benar jika kamu belum melakukan yang terbaik. Anggap saja ini cara waktu dan keadaan menempamu hingga menjadi kuat. Tidak Harus setangguh baja namun jika kamu jatuh kamu tahu bagaimana caranya untuk berdiri. Oke, boleh saja kamu menertawakan dirimu sendiri saat ini. Dirimu yang ternyata tidak sekuat apa yang kamu bayangkan. Lagi-lagi janganlah kamu mengasiani dirimu sendiri. Gunakan saja waktu yang tersisa untuk menerima. Bukan menerima keadaan namun belajar untuk menerima dirimu sendiri. Lihat, kamu dalam hitungan detik kebelakang kamu masih terbakar oleh semangatmu. Namun seketika kamu mengingat titik lemahmu, hei ini saatnya untukmu berdiri. Bukan untuk tergantung dan hanya mematung. Tapi kamu harus tahu bahwa dirimu tetaplah sosok yang tahu bagaimana terus melanjutkan langkah meski setiap kali mengikis rasa percayamu pada sekitarmu.