Rabu, 29 Mei 2013

DENIAL

Perahkah kamu merasa benci dengan apa yang kamu rasakan sendiri ? Seperti sebuah rasa yang ada begitu saja namun kamu sendiri menginginkan perasaan itu seketika menghilang dari kamu. Sebuah perasaan yang tidak pernah dipaksa namun ada seakan menggelitik minat kita untuk memanjakannya. perasaan yang seolah seperti seorang tamu yang tidak punya malu karena kehadirannya hanya bisa mengusik ketenangan kita. Ibaratnya sebuah genangan air yang sudah tenang namun seolah-olah dijatuhi benda ke dalamnya dan akhirnya genangan air itu menjadi tidak lagi berada dalam titik tenangnya. Terdistraksi. Apa itu ? Ya semacam terganggu atau seolah menyita segala pikiran dan perasaan kita untuk lebih memperhatikan lebih pada apa yang sebenarnya ingin kita hindari. Sesuatu itu sama sekali mencoba untuk kita hindari namun sekalinya kita coba untuk menghindarinya, yang ada sesuatu itu malah semakin nyata dan jelas adanya. Ingin melupakan apa yang mengganggu pikiran kita namun sejauh apapun kita pergi dan berlari rasa itu tetap ada seolah seperti bayangan yang selalu mengikuti kita. Ada apa dengan sesuatu itu ? Apakah punya maksud yang lain ?

Pernahkah kamu merasakan rindu sekaligus benci akan sesuatu yang seolah ingin kamu tolak keras untuk lebih memanjakannya ? Sebuah perasaan yang tak sanggup untuk dimengerti mengapa sesuatu itu selalu dan selalu ada dalam sebauh pemikiran yang dicoba dibuat untuk serasional mungkin. Mencari alasan sekauat dan sebanyak apapun namun rasa itu seolah memiliki alasan terbesarnya sendiri untuk selalu diperhatikan. Lalu mengapa apa yang kita tolak itu malah semakin menjadi-jadi ? Mencoba untuk merealitiskan perasaan dengan berbagai macam logika untuk menolaknya seolah tidak mempan untuk mengusir segala sesuatu yang seyogyanya masih ingin singgah. Lalu mengapa harus dipikirkan kalau nyatanya hanya menjerumuskan ? Bukankan bahagia itu sederhana ? Sesederhana membuang dan menjauhi apa yang membuat kita sedih. Namun sesuatu itu selalu dan selalu muncul ketika kita ingin menghindar daripadanya. Selalu ada celahnya untuk sesuatu itu mempunyai ruang tersendiri dalam benak kita. Sesuatu yang sangat menyebalkan pastinya. Seolah ingin melemparkannya ketempat yang sedalam-dalamnya supaya tidak lagi-lagi mengikuti kemana kaki kita melangkah. Namun sesuatu itu rasanya lebih cerdik, seolah kita ingin membuatnya merasa terbodohi, namun semakin kita membuatnya merasa bodoh semuanya itu malah berbalik dengan lebih liciknya kepada kita. Dia tak pernah mau pergi. Ketika sesuatu itu datang yang ada hanya penyangkalan dan penyangkalan dengan berbagai macam logika kita. Sesuatu itu memiliki kekuatannya sediri untuk mengusik kita. Ia seolah haus akan perhatian dan memaksa kita untuk lebih memperhatikannya. Namun bagaimana sesuatu itu yang hanya membuat kita tidak mau bangkit ? Lagi-lagi sesuatu yang menjengkelkan. 

Itu dia apa yag dinamakan dengan perasaan. Selicik apapun kita membohonginya, sekuat itu pula dia akan membuktikan dan membawa kita pada sebuah bisikan untuk lebih merasakannya. Bukan untuk diketahui namun lebih pada untuk dipahami. Logika mampu membawa kita pada pencerahan, namun perasaan akan emnuntun kita pada pencerahan itu. Dia tidak akan pernah mau dikalahkan kalau nyatanya logika hanya membuat kita menjadi pribadi yang bebal. Itu yang dinamakan dengan penyangkalan atau denial. Rasa itu ada untuk emmbuat kita lebih merefleksikan diri, tahu apa yang kita mau dan tahu apa yang harus kita perbuat. Logika dan perasaan tidak akan pernah bisa untuk ditandingkan, karena mereka ada untuk dikolaborasikan. Kita punya seribu alasan untuk melogikakan sesuatu, tetapi apa kita punya satu alasan untuk merasakan sesuatu ? Dengarkan apa kata hati kita, terima dia, biarkan dia yang menuntun kita pada logika yang lebih rasional. 

Minggu, 26 Mei 2013

Lampion

Indonesia dikenal sebagai negara yang kaya akan segala macam bentuk budaya, alam, penduduk, suku dan segala macam yang ada di dalamnya. aku, kamu, kita saling hidup berdampingan satu sama lain. Kita saling menyapa, kita saling bertukar cerita, dan kita saling bergandengan tangan untuk menuju sebuah negara yang lebih berbudaya. Indonesia terkenal sebagai salah satu negara yang masih memegang teguh adat ketimurannya. Mengapa begitu ? Karena semakin maraknya arus globalisasi yang trejadi akhir-akhir ini, Indonesia berusaha keras untuk menunjukkan ciri khas Indonesianya yaitu negara yang masih beradat, berbudaya dan bersopan satun. Karena banyaknya ragam masyarakat yang ada di Indonesia, kita tidak bisa trepisah dari apa itu namanya mainstream dan anti mainstream. Sebuah kata-kata yang mungkin tidak asing lagi ditelinga kita. 

Mainstream sendiri berarti sesuai dengan kebanyakan orang pada umumnya. Fenomena yang trejadi saat ini, ketik asemua orang marak menggunakan smartphone maka semua orang berlomba-lomba untuk menggunakannya juga, entah itu efektif digunakan atau hanya untuk mengikuti perkembangan jamannya saja. Sedangkan antimainstream sendiri lebih pada melawan arus yang sedang terjadi, kalau saja kebanyakan orang berajalan kearah kanan, yang anti-mainstream akan berjalan melawan arah ke kiri. 

Namun kali ini kita tidak akan membahas tentang kemainstreaman dan keanti-mainstreaman yang terjadi akhir-akhir ini. Namun disini akan dibahas tentang perayaan acara Waisak. Dimana perayaan Waisak yaitu hari suci saudara kita umat Budha. Mereka merayakan hari besarnya setelah setahun dinanti dengan penuh pengharapan. Umat Budha layaknya seperti umat agama lainnya, dimana kita mengharapkan ketenangan dan kedamaian ketika menrayakan hari besar yang ditunggu-tunggu selama setahun. Ketika momen itu datang banyak umat Budha yang merayakannya dengan penuh sukacita, pengharapan dan segala macam bentuk permohonan lainnya. Namun, seperti perayaan acara Waisak yang diacarakan semalam di Borobuder banyak hal yang membuat saya bertanya-tanya akan penyelenggarannya sendiri. Ketika mereka semua beribadah, mungkin ketenangan dan kedamaian yang mereka cari, tapi mengapa hal ini dijadikan sebagai momentum kedatangan para wisatawan dari berbagai macam penjuru untuk mengikuti ritual yang diadakan oleh umat Budha yang merayakan hari besarnya. Banyak orang datang mengharapkan untuk lebih dekat bisa menikmati keindahan pada saat upacara ceremonial pelepasan lampion dan satu lampion dijual pada pengunjung yang datang seharga  Rp 100.0000,00 Awalnya kita semua yang datang kesitu sudah saling berdesak-desakakn untuk mendapatkan stiker yang disana bisa kita tulis wish yang nantinya bisa ditukar dengan lampion yang sudah dipesan. Namun karena keadaan semalam yang hujan lebat, membuat acara pelepasan lampion ditunda sampai waktu yang belum bisa diketahui. Hal ini membuat banyak pengunjung kecewa. Mereka berharap bisa melewati momen setahun sekali ini lebih dekat namun speertinya alam mengatakan hal lain. Dan pada saat itu juga saya berpikiran, "atau mungkin malam ini Tuhan memang sengaja membuat hujan supaya kedamaian dan ketenangan umat Budha yang melakukan ibadah tidak terganggu ?" Tapi pada kenyataannya bukannya pengunjung berkurang atau gimana, namun banyak pengunjung yang ricuh karena banyaknya yang datang dan mereka berebut untuk mendapatkan hak mereka kembali yaitu uang seratus ribu. Belum lagi yang disayangkan, kawasan Borobudur yang awalnya bagus dan ditata apik menjadi tidak karuan karena sampah yang dibuang sembarangngan belum kawasan yang rusak karena pengunjung yang ricuh dan terllau banyak. Mainstream memang banyak orang yang datang ke situ untuk tidak melewatkan moment pelepasan lampion.
Tapi kenyataan berkata lain.


Bahkan ditengah kerumunan orang yang berteduh di payungnya masing-masing ada sepasang calon pengantin yang melakukan foto pre-wedding. Mungkin niat mereka tidak mau melewatkan pelepasan 1000 lapion untuk foto pre-wedding mereka, namun karena hujan foto mereka dirubah konsepya menjadi romantisme dibawah payung. Yang lebih anti-mainstreamnya lagi hal itu dilakukan ditengah banyaknya kerumunan orang yang menunggu hujan reda. Dan yang paling memprihatinkan yaitu kekhusyukan saudara kita Umat Budha dalam menjalankan ibadah yang mungkin terganggu dengan kehadiran banyaknya pengunjung. Belum lagi kawasan yang awalnya tertata apik menjadi carut marut. Ya inilah ketika fenomena itu ada yang ada hanyalah mainstream dan ati-mainstream. 

Senin, 06 Mei 2013

why so serious ?

setiap orang punya cerita. setiap orang memiliki rahasianya masing-masing. Ada empat dimensi dalam pemikiran kita. pertama, aku tahu orang lain tahu. kedua, aku tahu orang lain tidak tahu. ketiga, aku tidak tahu orang lain tahu. dan yang terakhir aku tidak tahu dan orang lain tidak tahu. Ini menjadi sebuah dimensi yang menjadikan kita mengkotak-kotakkan setiap masa dan setiap cerita yang kita miliki. Bukan tentang sebuah pengertian, namun ini tentang sebuah pemahaman. Kita tidak akan pernah tahu jalan kehidupan sebelum kita sendiri yang menjalaninya. Setiap orang bisa berasumi ini dan itu, namun apa yang menjamin segala asumsi itu benar ? Tidak ada yang berani menjamin. Kita bukan hanya dituntut untuk berlaku baik terhadap orang lain dan diri kita sendiri, namun kita diminta untuk berlaku cerdas. Memang sudah semestinya kita berbuat baik, namun akan luar biasa kalau kita cerdas dalam berbuat baik. Entah itu terhadap diri sendiri ataupun orang lain. Ada bagian dalam diri kita yang bahkan kita sendiri tidak mengetahuinya. Mungkin di tempat itu ada banyak hal yang menyimpan sebuah rahasia yang nantinya akan terungkap dalam tatanan waktu. Siapa lagi yang bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan kalau bukan waktu yang nantiny akan menjabarkan dengan detail mana-mana saja yang memang semestinya untuk kita.

Kita ditakdirkan untuk hidup dan berkembang ditengah-tengah banyak pribadi yang jelas berbeda dengan diri kita. Kita berbeda dengan yang lain, itu sudah pasti. Kita istimewa dengan cara dan pemikiran kita sendiri, itu juga sudah semestinya. Apa yang kita presepsikan, itulah yang kita lakukan. Karena apa yang menjadi pandangan kita akan mempengaruhi kita dalam bertindak. Orang selalu beranggapan kalau yang untuh itu yang selalu memiliki cerita yang utuh pula. Kata siapa ? Mengapa harus lahir sebuah pemahaman seperti itu kalau apa yang kita butuhkan itu ditawarkan oleh sekitar kita yang banyak memberi sebuah ruang untuk kita meminta ? 

Kita diberi keleluasaan akan hidup kita. Banyak jalan yang dilapangkan untuk kita, tinggal jalan mana yang akan kita pilih untuk kita lewati. Entah akan melalui kanan, kiri, tengah, semua tergantung bagaimana kita menemukan jalan itu. Cara penemuan jalan inipun setiap orang akan berbeda. Ada yang harus merangkainya dulu hingga mendapatkan sebuah jalan yang selama ini hanya terangkai dalam pikiran saja. Ini sungguh rumit ketika kita mencoba untuk menjabarkannya. Karena tidak akan ada pernah yang tahu dimana nantinya ujung dari perjalanan ini. Ada yang tidak bisa terhindar dalam kehidupan ini yaitu kematian. Karena kita semua akan bertemu dengan apa yang dinamakan dengan kematian. Ini hanya masalah waktu. Kapan dan dimana, semua itu bukan kita yang menentukan. Meskipun kita sendiri yang menentukan seberapa lama perjalanan yang akan kita tempuh. Ada banyak hal yang tidka kita ketahui tentang diri kita, walaupun kita hidup dengan diri kita. Namun, kadang kita akan merasa terasing dengan diri kita. Siapa kita, apa mau kita, dan apa yang kita inginkan. Inilah kita. Perlu perkenalan lebih lanjut tentang diri kita. Tidak akan mudah bersahabat dengan diri kita sendiri kalau yang ada kita selalu menyepelekan diri kita dan membandingkannya dengan kegemerlapan yang ada diluar diri kita. Karena sesungguhnya yang berkilau itu belum tentu emas, namun yang redup itu juga belum tentu bukan emas. Banyak hal yang harus kita ketahui. Bagaimana kita tahunya ? Yah, cuma masalh waktu. Lagi-lagi hanya wkatu yang mampu menjabarkan jawaban hingga merangkais ebuah jawaban menjadi sejelas mungkin. 

Selasa, 23 April 2013

salut

salut sama orang yang mampu berjuang. Salut sama orang yang mempu bertahan. Salut sama orang yang mampu mempertahankan prinsip. Salut sama orang yang tidka pernah mengenal putus asa. Salut sama orang yang konsisten dengan ucapannya. Salut sama orang yang mau berkorban. Salut kepada mereka yang mau mencoba hingga akhirnya tahu apa yang trebaik untuk mereka. Kadang banyak dari kita merasa ketika menghadapi sebuah masalah, kitalah yang paling menderita, namun cobalah kita lihat disekita kita, bagaimana dengan mereka ? Banyak yang lebih dan lebih dari kita, entah itu lebih sengsara atau lebih bahagia dari kita. Itu tergantung dari kita, ingin menengok ke atas atau menengok ke bawah. Semua itu ada disekeliling kita. Ini belum seberapa yang kita alami. Masih banyak yang tidak seberuntung kita. Kita ini hanya bagian dari mereka yang saling bertumbuh dan saling menyapa. Bukan untuk saling menyaingi, namun untuk saling beriringan. 

Mungkin kita memang tidak seberuntung mereka, namun kita juga tidak pernah tahu kalau mereka juga berpikiran mereka tidka seberuntung kita. Kita ini adalah semacam materi yang ada dalam sebuah bola, bola yang terus berputar tanpa sebuah poros, kadang kita ada disana kadang kita ada disini, semua itu adalah sebuah ketidakpastian masa yang akan membawa kita pada sebuah pertukaran posisi. Untuk saling merasakan satu sama lain. Bukan untuk saling mengunggulin, namun slaing melengkapi. Namun pada kenyataannya, orang ingin selalu dipandang paling pertama dan utama. Tidak ingin biasa-biasa saja, karena sesuatu yang biasa-biasa saja saat ini akan terabaikan begitu saja. Mengingat untuk terlupakan, memperhatikan untuk diabaikan, mencintai untuk dikecewakan. Ini semacam timbal balik yang bukan pada tempatnya. Namun pada kenyataannya hal ini banyak terjadi saat ini. Tetap salut dengan mereka yang mampu menunjukkan konsistensinya dalam menjalani prinsipnya, tetap melangkah tanpa menyerah hingga pada akhirnya mas aitu datang juga. 

Tuhan. Punya. Rencana.

Kita selalu mengeluhkan sesuatu yang sebenarnya sudah ada jalan dan alurnya masing-masing. Pekerjaan yang sulit, kehidupan yang semakin susah, kuliah yang lama, ini dan itu. Belum setiap detail dari kehidupan kita, selalu saja ada keluahan yang membuat kita merasa kurang dan selalu menjadi alasan kita untuk mengeluh meminta ini dan itu. Mulai dari kita bangun di pagi hari, kadang kita sejenak kembali mengumpulkan kesadaran dan aware kalau nyatanya kita kembali ke rutinitas kita yang itu dan itu lagi. Rutinitas apa itu ? Kuliah, tugas, teman, kegiatan lagi, pekerjaan, belum lagi pertemanan, belum lagi hubungan kita. Dan masih banyak lagi hal-hal yang akan sellau kita temui setiap harinya. Oke coba kita lihat perbagian dari kehiudpan kita. Bangun pagi, tersadar kalau mimpi semalam hanyalah sebuah mimpi dan kita kembali lagi mengijak ke dunia nyata, ke realitas yang tidak bis akita hindari kecuai kita meninggal. Terbangun dan sekejap kita melihat ke sekeliling kita, dinding di kamar kita, barang-barang yang setiap harinya menemani kita. Lalu pernahkah kita terpikirkan kalau kita kadang mengabaikan nafas yang masih mengalir di paru-paru kita, darah yang masih mampu kita rasakan desirannya di nadi kita ? Ah pasti ketika sekejap terbangun hal pertama yang dilakukan mengecek HP, belum membuat planning ini itu buat sehari. 

Kita bangun, mempersiapkan diri untuk menjalani hari dengan penuh kepercayaan diri. Selalu ingatkah kita kalau hal yang paling berharga dari hiudp kita yaitu satu detik yang baru saja berlalu dari hidup kita ? lalau mengapa untuk setiap detik itu kita kadang lupa untuk mengucapkan terima kasih ? Terlalu susahkah aksen kata itu sampai kita kadang lupa untuk mengucapkannya ? Ah inilah kita, manusia yang penuh dengan kelalaian. Kita terlalu dimanjakan oleh keadaan sekitar, dimanjakan oleh keinginan ini dan itu, dan sekalinya keinginan itu tidak terpenuhi, pasti akan ada pemberontakan dalam diri kita. Wajar. Ya, karena kita hanyalah manusia biasa yang penuh dengan kekurangan. Jauh dari kesempurnaan. Namun bagaimana dari kita yang selalu mengusahakan kesempurnaan ? Mereka selalu mengejar kepuasan, dan itu kadang mengabaikan kebutuhan sekitar. 

"Hai para pencari kesempurnaan, semakin kamu mencarinya semakin kamu akan dikecewakan oleh kenyataan."
Pernahkah kita sejenak merenungkan mengapa Tuhan kadang tidak mengabulkan doa kita ? Tuhan bukannya tidak mengabulkan doa kita, namaun Dia tahu cara dan saat yang tepat untuk menjadikannya semua indah pada waktunya. Kadang kita sebagai manusia apa-apa menginginkan segalanya berjalan sesuai dengan keinginan kita. Mempercepat segalanya sesuai dengan keinginan kita. Lalu apa kuasa kita untuk semua itu ? Bukankah kita ini hanya sebagai pemain dan bukan sutradara akan permainan ini ? Bahkan kita bukan juri atas apa yang telah kita mainkan. Kita hanya mampu dan bisa melakukan segalanya sesuai dengan peran kita masing-masing. Namun kenyataannya saat ini, sudah banyak orang beralih peran untuk mengejar sebuah kepuasaan diri. Entah titik mana nantinya yang akan mereka temui untuk mencapai puncaknya. Karena kepuasaan itu ibarat sebuah candu, sekali kita mendapatkannya kita akan terus dan terus mengejarnya sampai tidak ada standar yang pasti akan kosakata satu itu. Kepuasaan. Manusia adalah mahkluk yang serba kompleks. Mereka mampu menjelma menjadi apapun untuk menjadikan dirinya terpandang dan memiliki nama. Solah kehidupan ini menjadi sebuah ajang untuk memperbesar nama. Semakin kita mengingkari kenyataan itu, namaun inilah realita yang terjadi saat ini.

Kita kadang terlalu memperjuangkan apa yang sebenarnya tidak worth it buat kita perjuangkan. Kita terlalu mengharapkan segala sesuatu menjadi milik kita padahal sebenarnya bukan kapasitas kita untuk memilikinya. Kita berusaha sekuat mungkin untuk mempertahankan apa yang sebenarnya ingin terlepaskan dari kita. Sekuat apapun kita mencoba, sekeras apapun kita menunggu, selama apapun kita setia, namun jika Tuhan tidak menuliskannya untuk kita, semua itu sama saja bohong. Pernahkah kita terpikir, sebenarnya ada jalan, sebenarnya kalau diperjuangkan hal itu akan menjadi nyata, sebenarnya kalau mau dikompromikan semuanya itu akan menjadi komitmen, namaun seakan cerita membawa pada alur yang hanya memperumit saja. Taukah kita mengapa ? Karena Tuhan tidak ingin kita tersakiti. Tuhan terlampau sayang pada mereka yang pernah dikecewakan. Misalnya saja, dalam sebuah hubungan kita tahu kalau seandainya kita hanya bertahan dalam ekadaan yang hanya memperburuk keadaan itu akan menyakiti diri kita. Kita tahu kalau sosok itu tidak abik untuk kita, namun dalam doa kita, kita seakan memaksa untuk meminta jalan itu dibukakan kembali, dan pintu itu terbuka kembali. Tatapi yang ada keadaan semakin rumit dan tidak seperti yang kita inginkan. Tahukah mengapa ? Karena Tuhan memiliki rencana yang luar biasa dibandingkan rencana-rencana amatir kita.

Satu hal yang mungkin akan selalu terdengar klise, namun kalau kita tahu, inilah yang akan mempermudah setiap jalan kita. Ikhlas. Dalam setiap tindakan, perkataan, ucapan, pelayanan, dalam apapun itu jika kita mengunakan hati yang tulus untuk meskipun tidak menerima kita akan selalu dihadirkan sebuah keikhlasan yang lebih untuk menjalaninya. Apa yang perlu kita kuatirkan ? kekuatiran hari ini cukuplah hari ini, karena esok akan ada kekuatirannya sendiri. 

"Kamu lelah ? Ya aku tahu kamu lelah. Kamu bosan ? Ya aku tahu kamu bosa ? Istirahatlah sejenak, panjangkanlah nafasmu. Ketika kedamainan itu sudah berada digenggamanmu, lanjutkanlah langkahmu, dan lapangkanlah jalanmu dengan keikhlasan."

Senin, 22 April 2013

whatever...

Apa pernah kita bisa memilih pada siapa kita jatuh cinta ? Apa pernah kita bisa kepada siapa kita takut untuk dikecewakan ? Taukah kamu bagaimana rasanya jika orang yang kamu sayangin memintamu untuk berhenti menyanyanginya ? Pastinya setiap orang memiliki rasanya masing-masing. Tidak pernah bisa disamakan. Pernahkah kamu merasa lelah dan cepak dengan menunggu ? Menunggu tanpa sebuah harapan yang pasti ? Kamu tahu bagaimana melawan segala rasa yang ternyata itu salah ? Perahkan kamu disalahkan oleh orang akan rasa yang begitu besar ? Pernahkah kita bisa meminta untuk dibuat keadaan sesuai dengan apa yang kita mau ?

Pernahkah kamu berlari namun lagi-lagi sampai pada titik itu lagi dan lagi ? Lelah, jenuh, dan muak. Namun itulah perasaan. Kita tidak akan pernah bisa memilih pada siapa kita menaruh hati. Sebuah kata klise dan semua. Namun kenyataan itu mengatakan apa yang sejujurnya terjadi. Keadaan tidak pernah berbohong walaupun sebisa mungkin kita mencoba membohongi diri sendiri. Belari sekencang dan sejauh mungkin, namun lagi-lagi kesalahan yang sama yang ditemui. Bukan sebuah ruang baru untuk tempat singgah. Namun ruang itu seolah menjebak kita dalam sebuah rasa yang tiada akhir.

Ketika bertemud engan orang yang salah kita mengira kalau rasa itu salah. Sesungguhnya semua perasaan itu suci, dia lahir tanpa dibuat-buat. Tumbuh seiring waktu yang berjalan. Andai saja setiap dari kita punya kekuatan magic, pasti banyak dari kita akan memilih apa yang dari awal kita ingini untuk menjadi milik kita dan menjauhkan segala macam kesakitan yang hanya mengecewakan. Namun inilah realitanya, semua tidak akan selalu berjalan mulus dengan apa yang menjadi sejuta cumbu imajinasi orang. Realitanya itu yang kadang mengejutkan. Inilah mengapa kalau realita itu dinamakan dengan misteri.


Jumat, 19 April 2013

too much. too hurt.

Kita makan, kita minum, kita memilih pakaian, kita mengisi bahan bakar, apapun itu pasti ada takarannya masing-masing. Takaran itu sesuai dengan porsinya masing-masing juga. Tidak bisa melebihi ataupun kurang dari itu. Apa yang terjadi kalau kita melakukannya lebih ? Yah pasti akan ada yang terbuang dengan percuma. Begitu juga dalam memberi dan menerima. Kadang kita lebih mementingkan siapa mereka yang ingin kita beri, sampai kita lupa siapa diri kita dan apa yang sebenarnya kita butuhkan pula. Begitulah adanya. Kita lupa apa itu esensi dari memberi, entah itu memberi bantuan, perhatian, kasing sayang, care, dan semacamnya. Kita terlalu berfokus bagaimana menyenangkan objek yang kita beri, namun ada satu hal yang kita lupa dari situ. Seberapa porsinya dari kita memberi itu. Sudah cukupkah, berlebihankah, atau kurangkah. Bahkan kadang kita sampai membenarkan kalau peduli itu salah. Dimana letak kesalahannya ? Ya karena kita terlalu berlebihan. Kita lupa kalau setiap orang memiliki porsinya masing-masing. Ibaratnya gelas yang diisi oleh air, apakah mungkin gelas itu bisa menampung air lebih dari volume yang semestinya. Tidak akan pernah bisa, bahkan air itu akan tumpah dan terbuang dnegan percuma. 

Disini kita bisa lihat kalau apa yang berlebihan itu tidak akan ada artinya dan akan terbuang dengan percuma. Lantas bagaimana mengukurnya untuk tahu seberapa porsinya ? Dalam hidup ini tidak ada takaran yang pas dimana kita bisa memberi dan menerima dengan pas. Kita mencaripun tidak akan ada lelahnya. Mengapa ? Ya karena kita tidak pernah punya standar yang pasti akan mencari itu. Kita selalu mencari dan mencari lagi, karena kepuasan tidak ada batasnya. Itu yang mungkin bisa menyamakan persepsi orang stau dengan orang lainnya. Kepuasan itu tidak akan ada batasnya. Tapi mengapa bisa ketika kita memberi dan menerima harus pas ? Karena ini beda konteks dan beda tema. Kita harus selalu aware kalau segala sesuatu itu tidak bisa digeneralisasikan begitu saja. Setiap detail dalam kehidupan ini ada aspeknya masing-masing. Jika saja dalam kehiudpan ini bisa dipersepsikan merah semua, pasti kita akan melakukannya dalam garis merah dan tidak lagi peduli dengan warna lainnya.

Memberi untuk menerima. Kita seakan tahu, siapa apa dan untuk apa kita memberi dan menerima. Ini semacam ada korelasi yang saling timbal balik. Tidak bisa dipisahkan begitu saja. Karena mereka memiliki simbiosis. Memberilah untuk menerima, memberilah secukupnya untuk menerima secukupnya. Memberilah lebih maka menerimalah sepantasnya. Seakan tidak adil dalam kasus satu ini. Kita mencintai berlebih itu hanya akan menjadi jalan penghalus untuk kita kehilangan apa yang kita cintai. Kita peduli lebih, itu hanya akan menjadi jalan kita untuk lebih terlihat bodoh. Lalu bagaimana semestinya ? Tidak akan ada yang pernah tahu akan yang stau ini. Too much ? simpel tapi complicated. 

Sudahlah tidak usah pedulikan tentang porsi itu. Kita tahu dan sadar kalau segala sesuatu itu ada resikonya. Simpelnya, kita makan padahal itu untuk mengenyangkan perut tapi disisi lain kita memiliki resiko dari makan itu sendiri. Kalau kita tidak makan makanan yang sehat bisa-bisa kita terkena penyakit, belum dalam proses makannya, bisa-bisa kita tersendak dan akhirnya jadi penyakit juga. Sudahlah, bebaskanlah diri kita masing-masing. Listen to your heart. Jangan pernah memikirkan akan apa yang trejadi nanti, karena itu hanyalah sebuah misteri. Manusia hanya bisa berasumi. Kadang tanpa fakta pendukungpun, manusia bebas mengasumsikan apapun sesuka yang kita mau. Itulah kita, penuh dengan asumsi. 

"Menarilah sebebas mungkin seakan tidak ada orang yang akan melihatmu. Menyanyilah sebebas mungkin seakan tidak akan ada orang yang mendengarmu. Mencintailah sebebas mungkin seakan tidak ada orang yang akan menyakitimu."