Selasa, 28 Oktober 2014

TIMING (2)

Seberapa kuat waktu mengikat seseorang untuk bertahan ? Apakah waktu menjadi alasan untuk selalu diulur-ulur ? Nanti dan nanti. Seolah semuanya menjadikan waktu sebagai alasan untuk tetap mempertahankan apa yang sudah sepantasnya dilepaskan. Lihat saja padi di ladang itu. Ada waktu untuk menabur benih dan ada waktu untuk menuainya. Apakah padi-padi itu bisa sedikit saja meminta waktu kepada petani untuk memperpanjang waktu tumbuhnya ? Yah memang semuanya sudah punya waktunya masing-masing. Terlalu terpacu dengan apa yang dinamakan dengan kuantitas tanpa mengesampingkan kualitas. Kebimbangan dan keraguan seolah juga ikut dimanjakan oleh waktu. Lalu apakah ada yang lebih pasti dari ketidakpastian itu sendiri ? Semuanya nampak masih semua, belum jelas pasti warna yang nampak. Bukankan hanya berpasrah dengan waktu sama saja memberi ruang untuk memberi bimbang pada diri sendiri ? Kembali mepertanyakan apa yang sudah diyakini dan dipegang bahwa itu benar adanya. Tapi dengan begini semuanya kembali menjadi titik nol. Mulai berusaha untuk menumbuhkan sebuah keyakinan yang sedari awal sudah ada digenggaman. Lantas menunggu apa lagi ? Apa kamu lupa dengan satu kata itu ? Proses. Proses yang menjadikan semuanya begitu nampak sempurna. Walaupun alam semesta tahu sekalipun tidak ada yang sempurna di dunia ini, namun apa ada yang salah jika hanya memamdang seolah itu nampak sempurna ?


Terimakasih waktu karena kesempatan yang kamu beri memberi ruang untuk kembali menelisik jalan mana yang memang seharusnya ditempuh. Coba pertanyakan saja dengan keraguan yang seolah menertawakan sudut-sudut keyakinan itu. Lalu apa yang terjadi nanti ? Apakah sudah siap ? Apakah kamu seyakin itu ? Sungguh tidak ada jaminan yang pasti akan semua itu. Lalu apakah ada yang bisa dilakukan lebih daripada sekedar percaya ? Ah sepertinya akan nampak klise jika harus mengosongkan diri dan seolah-olah tidak tahu menahu apa yang terjadi, bahkan semuanya sudah jelas terpampang dan bahkan sudah pernah mencicipinya. Mana lagi yang akan menghadirkan ruang untuk sejak saja hening sebelum semuanya sejauh angan-angan ? 


Apakah kamu mampu menjamin dirimu sendiri akan keraguan yang seolah terus mengejarmu ? Ah rasa-rasanya ini hanya semacam sepaket yang memang semuanya harus ditinjau ulang. Setiap orang punya ceritanya masing-masing. Apa ada yang salah dari proses itu ? Tidak semuanya terjadi sebagaimana mestinya. Bahkan tidak ada yang bisa memperlambat apa yang seharusnya dipercepat dan tidak ada yang bisa mempercepat apa yang seharusnya diperlambat. Apakah ruang bimbang itu akan terus meluas ? Lihat saja nanti. Yah tidak akan ada yang tahu pasti. Semua itu pasti akan ada konsekuensi, meski kadang sudah melakukan yang terbaik, namun itu masih jauh dari cukup. Segalanya tidak bisa diganti secepat apa yang kebanyakan orang inginkan. Nampak egois, lalu tanyakan saja lagi siapa kamu. Kamu bukan pengendali akan apa yang memang seharusnya ada dan terjadi. Biar saja semuanya menjadi yang semestinya. Serahkan saja semua ketakuttan, kekhawatiran dan keraguanmu di tanganNya. Percaya saja Dia tidak akan pernah ingkar janji. Meski keraguan bertubi-tubi mendatangimu, namun pada akhirnya Dia hanya menyatakan janjiNya bahwa semuanya akan indah pada waktunya. 

Kamis, 02 Oktober 2014

The End

Ini bukan tentang menang atau kalah. Bukan tentang persaingan, namun tentang sebuah cerita yang sudah digariskan untuk menjadi kisah nyata. Bukan tentang bersaing untuk menjadi siapa yang lebih hebat. Toh setiap dari manusia selalu diciptakan untuk menjadi hebat dan istimewa dengan cara dan pembawaannya sendiri-sendiri. Tidak perlu nampak seolah gagah atau tangguh untuk mendapat pujian, hingga namanya perlu dieluk-elukkan dimana-mana. Ah siapa yang akan bisa menebak apa yang akan terjadi. satu detik kedepan, satu menit kedepan, atau sampai satu tahun kedepan ? Semuanya masih nampak semu. Manusia hanya bisa menerawang dan menebak-nebak yang akan terjadi saat ini dan yang akan datang ? Kembali ke menang atau kalah. Orang yang bertanding selalu menampilkan yang terbaik untuk dirinya, hingga nantinya dia akan terpilih untuk penyandang gelar yang pantas. Apa sebenarnya hakikat pemenang itu ? Lagi-lagi bukan dalam arena pertandingan, ini bagaimana cara untuk memenangkan diri sendiri akan ego yang selama ini seolah menantang dan manja untuk dituruti. Akan semua mau yang seolah menjadi-jadi, akan semua harapan yang seolah dipaksakan. Lalu apa yang manusia perbuat dengan semua itu ? Ah manusia kadang tidak mau mengenalinya, yang dia mau hanyalah hasil akhir dari apa yang mereka perjuangkan untuk dimiliki. Nampak egois bukan manusia itu ? Tapi dengan begitu kita akan sadar bahwa tidak ada yang sempurna dalam perjalanan hidup ini. Aku kamu dan kita hanya saling memandang dan menjadi cermin satu sama lain akan semua yang kita lakukan, baik itu yang terbaik dari diri kita atau mungkin hanya sebagain diri kita yang mau berjuang. 

Let's see. Kita lihat saja nanti. Itu seolah kata aman yang menjaga manusia dari ketakutan akan spekulasi yang akan terjadi nanti. Jika tidak A mungkin akan B, atau mungkin malah akan melesat jauh menjadi Z. Yah, hidup ini memang penuh dengan kejutan. Namun, Tuhan sudah menepati janjiNya dan akan terus menepati janjiNya, karena semua itu akan indah pada waktunya. Tidak akan usaha yang sia-sia hingga pada akhirnya alam semesta mendukung. Minta saja, maka akan diberikan padamu. Ketuk saja maka pintu akan dibukakan bagimu. Kita ini adalah anak-anak kesayanganNya yang selalu diberikan kesempatan lebih dan lebih lagi untuk meminta. Lalu ada yang Dia minta dari kita ? Berusaha, doa dan percaya hingga mukjizat itu menjadi nyata. Diantara ketiga itu kadang kita dipatahkan semangat oleh satu istilah yaitu menunggu. Yah memang. Siapa bilang menunggu itu sangat mengasyikkan ? Semua orang mungkin tanpa terkecuali akan bilang kalau menunggu itu adalah hal yang sangat menjemukan. Manusia dibuat tidak pasti. Memang ada yang pasti dalam penantian ? Lalu apa yang membuatnya pasti. Hanya satu yang membuatnya pasti, keyakinan. Menunggu seolah menjadi momok yang membuat orang berpikir seribu kali lagi untuk melakukkannya. Tapi apakah bisa barang sedetik saja manusia dipisahkan dari kata menunggu ? Bukankan untuk menuju detik selanjutnya dalam hidup kita itu sama saja dengan menunggu. Memang, kadang manusia tidak sadar akan hal itu. Menunggu. semua kemungkinan bisa terjadi. Menunggu semua hal bisa terbolak balikkan karena yang empuNya perasaan adalah Maha membolak balikkan perasaan manusia. Tidak ada yang pasti dalam menunggu. Karena menunggu itu tidak akan terdefisnisi hasilnya hingga ujung waktu menunggu itu sendiri. Menunggu tidak bisa kita tawar. Menunggu hanya masalah menikmati dan membencinya. Menunggu membuat manusia lebih sadar bahwa perjalanan ini masih sangat panjang dengan segala kemungkinannya. Karena dengan menunggu manusia tahu bahwa dia bukan pemilik kendali akan kehidupan ini. Manusia hanyalah pelaku, pejalan kaki hingga nanti pada akhirnya akan menemui garis finis sebagai bukti janji yang telah ditepati. 

Kamis, 25 September 2014

Letting Go

Bukankah baru saja kemarin kamu bilang akan terus berjuang ? Lalu kenapa tiba-tiba kamu bilang kamu lelah ? Apa yang membuatmu lelah dengan semua yang sudah ada di depan mata ini ? Apa kamu sedang merasakan titik acomodador ? Lalu apa titik acomodador itu ? Yah memang setahuku titik acomodador itu adalah titik jenuh yang dialami oleh manusia untuk memperjuangkan apa yang diimpikannya. Dia akan bertemu dengan titik itu untuk menguji seberapa kuat dan mantap kamu akan apa yang kamu inginkan dan kamu pilih. Kamu akan kembali mempertanyakan apa yang sedari awal kamu ingini dan kamu mau. Ah mungkin aku terlalu sok tahu jika harus menjelaskan terlalu banyak ke kamu. Toh setiap manusia akan melewati dan merasakan masa-masa itu. Ketika dari awal dia yakin untuk memperjuangkan mimpinya, tetapi ditengah jalan dia menemui banyak halangan yang seolah menjadi batu sandungan akan apa yang diimpikannya itu. Lalu kamu menanyakan kepadaku apa yang harus kamu perbuat ? Bukankah jawabannya simpel saja ? Jika kamu memang sedari awal yakin dengan apa yang kamu impikan dan sudah sampai tengah jalan kamu perjuangkan, teruskan saja. Percayalah tidak akan ada yang percuma jika kamu mau mengusahannya. Apa lagi jika menurutmu itu yang memang pantas kamu perjuangkan. 


Tidak perlu menjadi orang lain untuk selalu mendapat sanjungan atau pujian. Tetaplah saja menjadi dirimu sebagaimana adanya. Kamu terlampau istimewa dengan caramu sendiri. Teruslah melangkah pada jalan yang sudah dibukakan untukmu. Lihat saja disekelilingmu. Betapa terberkatinya kamu. Dikelilingi oleh orang-orang yang luar biasa. Tapi sayang mungkin selama ini kamu terlalu tidak memperdulikan mereka. Hingga saatnya satu persatu dari mereka pergi yang ada kamu akan kehilangan kesempatan. Lalu bagaimana jika semua itu sudah terlambat ? Sudahlah. Yakinkan dan mantapkanlah saja pilihanmu. Percayalah tidak akan ada yang percuma dengan usahamu. Tuhan akan selalu memberikan jalan bagi orang yang mau berusaha. Yang kita bisa hanya melakukan yang terbaik siap dengan kemungkinan terburuk dan selebihnya serahkan saja pada Tuhan. Hingga nantinya semua akan terjadi dengan sendirinya. Bahkan mungkin itu akan jauh diluar ekspektasi kita. Terima saja semua pertanda yang Tuhan sudah berikan pada kita. Setiap detik, setiap sudut waktu, setiap pasang mata, dan setiap apapun itu, Tuhan mampu berkarya disana. Dia menjadikannya begitu nampak sempurna diluar akal sehat kita. Terima saja apa yang memang sudah digariskan untukmu. Jalani saja hingga kamu akan menemui akhir yang indah. Lagi-lagi manusia tetaplah manusia, dia tidak bisa mempercepat apa yang seharusnya diperlambat dan tidak bisa memperlambat apa yang seharusnya dipercepat. Karena semuanya itu akan terjadi diluar kendali kita. Jalani saja semuanya dengan tulus dan ikhlas, hingga akhirnya nanti apapun keputusan yang Tuhan telah tetapkan untuk kita mampu kita terima dengan sepenuhnya. Mungkin bersukur itu tidak hanya sekedar bersyukur dengan segala kelebihan yang telah Tuhan berikan pada kita. Tetapi esensi bersyukur itu adalah tetap berterima kasih akan apa yang telah Tuhan berikan pada kita waluapun itu tidak bisa sesuai dengan yang kita harapkan sekalipun. Tenang, bukannya aku berusaha untuk menguruimu. Aku dan kamu belajar untuk saling mendewasakan. Semoga kita akan seterusnya berproses bersama untuk menjadi diri kita masing-masing yang seutuhnya. 

Senin, 01 September 2014

Pertanyaan Bodoh Tentang Jodoh

Ehm oke, mungkin ini yang dialami oleh orang-orang yang menginjak umur 20 sekian-sekian yang tidak lagi muda ataupun ABG. Oh mungkin terlalu jauh jika harus mengatakan seperti forever ataupun aku cinta kamu selamanya, atau aku tidak akan mungkin meninggalkanmu. Apa kita akan terus berkutat dalam kata-kata yang masih sangat rentan dengan sebutan ABG labil ? Hahaha ya mungkin jika anak gaul jaman sekarang itu adalah masa alay yang seolah dunia akan kiamat jika dia meninggalkan kita, dia berpaling dari kita atau bahkan dia menduakan kita ? Ya ya ya bisa dipahami dan diterima, mungkin memang itu tugas perkembangan yang harus dialami dan dijalani oleh banyak orang hingga sampai pada suatu titik. Bahkan mungkin selama perjalanan hidup ini tidak ada titik dewasa yang pasti seorang itu akan bertumbuh dan mulai bijaksana dalam hidup. Karena hidup itu sendiri adalah proses belajar, bagaimana menerima, bagaimana melepas, bagaimana menjalani dan bagaimana berproses itu sendiri.

Oke, kali ini mungkin akan sedikit membahas tentang hal yang ehm mungkin banyak orang juga selalu mempertanyakan ini ? Atau mungkin mencoba seolah biasa saja tetapi dalam benak mereka selalu penasaran dengan apa itu jodoh. Selalu saja ada pertanyaan-pertanyaan bodoh yang membuat kita tergelitik untuk sebentar saja meluangkan waktu melihat jodoh dari sudut pandang lain, yaitu secara bodoh. Yang pertama, apa itu jodoh ? Yah kebanyakan orang ketika ditanya jodoh, pasti mereka memiliki jawabannya masing-masing, bahkan ketik ada yang ditanya soal jodoh seolah mata itu berbinar, ada yang seperti itu. Ada juga yang seolah langsung hening dan mendadak mata menjadi nanar dan seakan kehilangan kata-kata, ada juga yang seperti itu. Ada juga yang langsung memiliki dalilnya sendiri dan dengan berapi-api seperti orasi yang menjelaskan detail apa itu jodoh. Ah setiap orang memang selalu unik dengan pemikirannya masing-masing. Wajar saja, karena kita ini memang beranekaragam, kalau tidak begitu pelangi tidak akan nampak indah jika hanya ada satu warna saja. 

Jodoh. Selalu ada pertanyaan yang pertama kali muncul ketika ada stimulus kata jodoh. Bagaimana kita tahu kalau dia jodoh kita ? Seperti itukah ? Yah, orang yang mendapat pertanyaan itu dan sudah melewati masa itu mungkin tidak memiliki kata-kata untuk menjelaskan secara spesifik apa itu jodoh dan bagaimana mengindikasi bahwa dia jodoh kita. Itu soal rasa. Mungkin kamu bisa makan permen tapi kamu tidak bisa menjelaskan bagaimana manisnya permen. Karena mungkin yang kita tahu permen itu ya manis. Manis itu bagaimana ? ya manis. Apakah ada definisi secara pasti untuk menjelaskan rasa manis itu seperti apa ? Yah, mungkin itu sama jadinya ketika berbicara tentang jodoh. Jodoh itu rasa. Rasa itu selera. Dan selera itu adalah keyakinan. Tidak ada alat ukur yang pasti ketika keyakinan itu yang membuat orang mampu memutuskan hal terbesar dalam hidupnya. Memulai sesuatu jenjang kehidupan yang baru dan pada akhirnya mengatakan yes, i'm ready. 

Lalu bagaimana jadinya jika orang yang bercerai atau meninggal menikah lagi dengan orang baru ? Lalu yang mana yang bisa dikatakan jodoh ? Lalu untuk apa kita selalu memperumit dan membebani diri kita sendiri menanyakan hal-hal yang diluar akal dan kendali kita ? Bukannya kita semua ini hanya pemain ? Pemain yang memainkan peran sesuai dengan tugas dan ceritanya masing-masing. Toh, semua itu sudah pasti begitu adanya. Seindah apapun rancangan rencana manusia, tidak akan ada yang lebih indah dibandingkan dengan kehendak yang Maha Kuasa. Lakukan saja apa yang menjadi tugas kita. Seperti seorang pemain yang dengan lihai dan piawai dalam bermain peran. 

Jodoh. Kita mungkin hanya diminta untuk yakin bahwa setiap manusia akan melewati momen-momen luar biasa dalam hidupnya, baik yang kita sadari atau tidak kita sadari. Semua berjalan begitu indah tanpa harus dikhawatirkan. Dia akan datang disaat semuanya sudah tepat, pantas dan mantap. Bukan lagi tentang keraguan namun tentang keyakinan bahwa Tuhan menjadikan segalanya indah pada waktunya :)

Sabtu, 30 Agustus 2014

Cerita Sepatu "Baru"

Mungkin hanya dalam beberapa hari terakhri aku tertarik pada salah satu sepatu yang terpajang di salah satu toko. Awalnya aku pernah sekilas mencobanya dan berniat untuk membelinya namun aku urungkan niatku itu, dengan pertimbangan masih ada sepatu lain yang bisa digunakan sekaligus hemat. Namun entah mengapa, pada suatu kesempatan akhirnya aku bisa membeli sepatu itu mungkin karena diskon atau karena memang secara kebetulan aku ada kesempatan untuk memilikinya. Mungkin terlalu naif jika aku mengatakannya kebetulan jika nyatanya memang tidak ada yang kebetulan. 

Dari awal melihatnya aku sudah tertarik dengan sepatu itu, ya memang aku pencinta flat shoes. Mungkin modelnya yang sederhana namun elegan itu yang aku suka. Intinya aku suka dengan gayanya. Hingga akhirnya aku bisa memilikinya. Biasanya ukuran sepatuku 38, saat itu ukuran 38 aku merasa tidak nyaman dan telalu besar. Bahkan aku berpikiran lama kelamaan pasti tidak akan nyaman jika untuk berjalan ataupun beraktivitas. Dan pada akhirnya dalam waktu yang singkat dan sedikit gegabah, aku memutuskan untuk membeli sepatu itu dengan ukuran 37. Padahal waktu itu temanku sempat menanyakan dan memastikan padaku, apakah yakin aku akan memmbeli sepatu dengan ukuran 37 ? Ah aku selalu membuat kemungkinan sendiri. Aku berpikiran sepatu itu semakin lama akan semakin melebar jika sering dipakai.

Untuk pertama kalinya sepatu itu aku pakai, mungkin awalnya memang lucu dikaki dan yang pasti aku suka. Tetapi aku baru sadar, pilihan yang aku sukai itu ternyata menyakiti kakiku dan membuat aku tidak nyaman. Sepatu yang aku anggap bisa menemani setiap langkahku ternyata bisa membuatku gerah dan menahan sakit karena kesempitan. Aku tahu sekarang, apa yang kadang aku pikir baik dan aku sukai, ternyata belum tentu nyaman dan terbaik untukku. Ah aku menyukai sepatu itu. Tetapi ternyata dari sepatu baruku ini aku belajar, bahwa bukan kehendakku yang menjadikan semuanya sesuai dengan pemikiran dan keinginanku, namun terkadang kenyataan yang aku anggap biasa itulah yang menyamankanku.

Tiba-tiba aku merindukan sepatuku yang lama. Walaupun tampak belel atau bahkan bau sekalipun, namun aku merasa nyaman menggunakannya. Awal aku memilikinya biasa saja tetapi ternyata itu yang membuatku nyaman. Sesuatu yang terbiasa itu mungkin yang menjadi habit untukku. Dia bisa menemaniku berlari, melompat atau bahkan hanya diam mematung. Yah bukan dari mahal ataupun bermerk yang aku gunakan, karena mungkin semua itu bisa didefinisikan. Tapi aku tahu satu hal bahwa tidak akan ada yang bisa menandingi dari sebuah kata "nyaman". Baik itu lama baru, karena yang pasti nyaman tidak akan mungkin menyakiti. 

Minggu, 24 Agustus 2014

Like a HOME

Rumah. Dimana kamu bisa menjadi dirimu sendiri. Kamu bisa merengek, berteriak, dan menangis sepuasnya. Tidak perlu malu dan menjadi sosok lain. Kamu hanya membutuhkan rasa nyaman dan damai ketika berada di rumah. Rumah, menjadikanmu tempat untuk bertumbuh. Mempersiapkan pribadi untuk menjadi sosok yang tangguh dan tidak mudah menyerah ketika harus berjuang melawan kerasnya dunia. Rumah adalah tempatmu bertumbuh menjadi sosok yang mampu menerima dan belajar bahwa hidup terus berjalan dan berubah. Dunia tidak akan terus monoton, karena perubahan itulah yang abadi. Siapa yang sanggup bertahan dialah pemenangnya. Rumah menempamu untuk lebih siap menerjang berbagai kisruh dunia yang seakan mengolok-olokmu dalam kesombongamu. Rumah menjadikanmu merasa damai seperti berada di pangkuan seorang ibu. Kamu tidak membutuhkan apa-apa lagi selain perasaan itu, yah perasaan damai itu. Merasakan seperti hangatnya pelukan sang mentari yang seolah tidak pernah sedikitpun memejamkan matanya untuk melihat kita terus bertumbuh dalam dinamika kehidupan. Seperti itukan perasaan yang seolah tanpa terdefinisi itu ? Nyaman. Apakah ada perasaan lain yang bisa menyaingi apa yang dinamakan dengan perasaan nyaman itu ? Ah rasa-rasanya terlalu retoris jika harus membandingkan sebuah perasaan yang setiap orang memiliki definisinya masing-masing. Biarkan saja setiap manusia memiliki kriterianya sendiri untuk menikmati apa itu yang dinamakan nyaman.

Rumah. Dimana alam semesta selalu memberimu petunjuk untukmu kembali berpulang. Alam semesta selalu memberikan tanda bagaimana kamu bisa menemukan jalan itu. Dia tidak akan pernah membisu ketika kamu kehilangan arah kemana kamu harus melangkah. Dengarkan saja hembusan angin yang bertiup. Dengarkan saja lolongan anjing malam yang seolah berteriak memanggil namamu. Dengarkan saja rintik hujan yang turun seperti serdadu-serdadu yang seolah mengempurmu untuk terus berjalan. Alam semesta hanya menjalankan misinya dan kitalah tujuannya. Rumah, disinilah rumah yang sesungguhnya. Alam semesta telah menujukkannya. Lihat ke dalam hatimu, disana akan ada jiwa yang menantimu untuk kembali berpulang. Kedalam rahim yang akan menjagamu dari apa yang akan melukaimu. Lihat disana ada tempat yang akan selalu melantunkan lagu kedamaian untukmu dimana tidak ada lagi yang mampu mengoyahkanmu. Disana, rumah yang kamu nanti karena kamu akan menemukan cinta yang tidak lagi bersyarat. 

Rabu, 13 Agustus 2014

Like a bus

Ada kalanya kamu merasa terlambat dan melewatkan sebuah kesempatan. Kamu seolah telah berjalan menjauh dan nyatanya apa yang telah kamu lewatkan itulah yang terbaik untukmu. Lalu adakah jalan untuk kembali ? Jika pintu itu sudah tertutup dan takdir memintamu untuk terus melangkah, apa yang bisa kamu lakukan lebih daripada menerima ? Yah, kadang memang segalanya baru kamu sadari ketika apa yang sudah kamu lewatkan itu sejenak kembali berjalan di hadapanmu namun kamu tidak bisa berbuat lebih. Hanya mengenang sebuah kesempatan yang mungkin sempat menhampirimu namun kamu seolah menutup mata akan hal itu. Lalu bagaimana dengan kesempatan kedua ? Mungkin kesempatan kedua itu ada karena kita ciptakan. Namun apakah kesempatan kedua akan masih sama jadinya seperti kesempatan pertama ?

Seperti seseorang yang menunggu sebuah bus dan merasa bus yang ada di depannya tidak layak untuk dia tumpangi, akhirnya dia memutuskan untuk menunggu bus selanjutnya. Tapi apa nyatanya jika bus selanjutnya lebih tidak layak daripada bus yang pertama. Dan saat itu juga kamu menyadari bahwa kamu sudah jauh tertinggal oleh bus itu. Temukan dia yang menjemputmu dan selalu memberimu ruang untuk berubah, temukan dia yang menemukanmu dengan apa adanya dirimu. Mungkin kenangan itu sudah usang dan tidak layak lagi untuk diceritakan. Namun cobalah sejenak mengerti bahwa kenangan itu yang seolah mengingatkanmu bahwa kamu mungkin sudah melewatkan sebuah kesempatan yang tidak mungkin bisa lagi dapat diulang.

Mungkin itu sudah berlalu, bersama dengan waktu yang menghpuskan sebuah kesempatan. Lalu apa yang kamu lihat saat ini ? Mungkin keadaanmu saat ini menertawakanmu karena kamu sudah berlaku bodoh akan hidupmu. Kamu seolah melepaskan apa yang mungkin bisa kamu pertahankan. Hanya karena sebuah pemikiran sesaat semua mungkin tidak akan berulang kembali. Lalu apakah ada hal yang lebih dari ini selain menerima ? Lalu kamu harus mencoba untuk melapangkan dadamu menerima, jika nantinya apa yang kamu lewatkan berjalan menjauh dan semakin menjauh dengan pilihan hidupnya yang mungkin bukan lagi kamu.