Rabu, 02 April 2014

[CERPEN] : WAKE (me) UP

Matahari masih saja menampakkan kegarangannya hari ini. Lalu apa yang Elsa cari ? Yah yang bisa dia lakukan sekarang hanya menyisir jalanan kota yang sudah terlalu bermakna untuknya.
"Ah orang-orang itu juga sendiri. Apa yang mereka takuti ?' Gerutu Elsa pada dirinya sendiri.
Pandangan Elsa tertujua pada seorang anak kecil yang sedang mengais-ngais tong sampah hanya untuk mencari sesuap nasi.
"Lalu apa yang aku cari ?" Elsa bertanya pada dirinya sendiri. 
Lagi-lagi Elsa mencoba untuk tidak menghiraukan segala pemandangan disekitarnya. Elsa terus berjalan seorang jalan yang dia lewati sama sekali tak berujung.

"Nak kasiani saya nak. Saya belum makan dari kemarin." Tiba-tiba langkah Elsa terhenti oleh rintihan seorang kakek tua yang tersudut dijalanan yang ramai ini. Tatapan mata Elsa langsung tertuju pada wajah sayu dan badan kurus berbaju combang camping dihadapannya. Elsa dalam sekejap tidak berkedip. Hanya mematung, seolah Tuhan segera memberi jawaban akan segala tanyanya. 
Elsa merogoh sepotong roti yang baru saja tadi dibelinya, dan diberikannya pada kakek tua itu tanpa berkata apapun. Tatapan Elsa hanya menerawang seolah inin menembus batin kakek tua itu.
"Apa ada pilihan lain ketika hidup dirasa tidak adil ? Inikah yang dinamakan dengan keadilan alam ?" Lagi-lagi Elsa hanya mampu menggerutu.

Rasa-rasanya lelah juga Elsa menyusuri jalanan kota Malioboro ini. Elsa menghentikan langkahnya di tempat itu. Ya lagi-lagi ditempat itu. Bukan tempat yang terlalu istimewa. Hanya sebuah tempat duduk sederhana. Namun seketika tatapan Elsa menerawang jauh.
"Aku sendiri. Lalu apa yang harus aku takuti ?" Elsa lagi-lagi menanyakan hal yang sama pada dirinya sendiri. Es yang sembari tadi dibelinya kini mulai mencair. Kenangan itu. Yah kenangan itu. Kenangan akan tempat ini juga membangkitkan Elsa pada sosok yang dirindukannya. Seorang sahabat yang dirindukannya. Seolah waktu berputar dengan cepatnya. Lantas siapa yang bisa menawar ego Sang Waktu ? Apa manusia bisa berbuat lebih ? Tidak. Kini Elsa hanya duduk menyendiri bertemankan dengan kenangannya. Orang yang biasanya disampingnya kini telah tiada.


"Kamu masih selalu datang ke tempat ini ?" Suara itu seolah berada dalam angan Elsa. Elsa mencoba menegakkan duduknya untuk memperjelas suara itu. Yah suara itu, begitu familiar di telinga Elsa. 
"Ah ini hanya imajinasiku saja." Elsa mencoba meyakinkan dirinya sendiri. Sebeginikah efek yang harus ditanggungnya. Dalam himpitan masalah yang seolah merobohkannya, Elsa hanya mampu menompangnya sendiri.

"Iya hanya ingin menepati janji. Aku akan selalu punya alasan datang kesini. Bukan karena kamu teapi karena tempat ini aku punya sejumput kenangan yang bisa menghidurku."Elsa akhirnya berani membalas suara itu. 
Keriuhan kota ini serasa tidak berarti untuk Elsa. Dia hanya sendiri. Menunggu waktunya kembali ke realita semula.

"Aku masih sehatkan. Apa separah ini keadaanku sekarang. Hingga aku tidak mampu lagi beroroentasi pada waktu. Tuhan ada apa denganku ini." Elsa mencoba menyadarkan dirinya sendiri.

"Woi Sa kamu dimanaaaaa ?" Lengking suara dari telepon itu mengagetkan Elsa dan membuatnya kembali berpijak pada realitanya sendiri. "Duh, iya iya nggak harus pake teriak juga kali." Teriak Elsa tak kalah kerasnya. "Aku tahu kamu dimana. Udah kamu disitu dulu sebentar lagi aku nyamperin kamu kesitu. Jangan kemana-mana." Teriak Tias lagi. Ah dia memang sahabat yang pengertian. Di tengah gempa hidup yang Elsaalami, selalu saja terselip satu orang yang masih mau tahu keadaan Elsa. Dia itu Tias.


"Non, are you okay ?" Tanya Tias tiba-tiba. "Maybe yes maybe no. Beginilah." Jawab Elsa engan. "Kamu kenapa lagi ? Kamu kangen kangen dia ?" Tanya Tias tanpa tendeng aling. 

Bukan lagi kata-kata yang sanggung Elsa bantah namun hanya air matanya yang seolah dari tadi di tanhannya. Secepat kilat juga Tias memeluk Elsa. 
"Aku takut As. Aku takut. Aku ngerasa sendiri. Aku harus gimana ?" Suara Elsa bahkan tenggelam oleh sesenggukannya. Tias tidak berkata apa-apa hanya pelukan yang mampu dia berikan saat ini.
Tias tahu apa yang Elsa harus lakukan, tapi Tias tidak bisa memaksanya. 
"Sa, kamu tahu apa yang harus kamu lakukan. Lepaskan dia. Biarkan dia pergi. Kamu tidak pernah sendiri. Ada aku disini yang selalu nemenin kamu. Jangan pernah takut." Tias mencoba meyakinkan Elsa.

Tangis Elsa masih juga belum reda. Seolah bom waktu. Dibalik ketegaran Elsa tersimpan kerapuhannya yang berusaha dia tutupi. Namun kali ini tangis itu akhirnya pecah juga.
"Aapa aku bisa lakukan lebih dari ini. Aku hanya ingin dia kembali. Cukup itu." Suara Elsa masih juga belum jelas.
"Sa, wake up. Kamu bisa melakukan lebih dari ini." Tias mencoba menenagkan Elsa.
"Tapi apa yang bisa aku lakukan ?" Tanya Elsa ragu.
"Tepati janjimu kalau kamu akan baik-baik saja disini." Sebaris kalimat yang diucapkan Tias seolah membekap sejuta alasan Elsa untuk berkilah dan membendung semua tangisnya yang baru saja pecah. 

Selasa, 01 April 2014

T-E-R-U-N-T-U-K

Ini bukan tentang surat istimewa ataupun tentang ungkapan mendalam. Ini hanya sebatas kata yang bisa saja dianggap sebagai angin lalu. Tidak terlalu pantas dipedulikan atau dihiraukan barang semenitpun. Ini tentang sebuah rasa, ini tentang sebuah makna. Meski hanya tertuang dalam susunan huruf-huruf namun kelak kamu akan mengerti ini adalah sebuah caraku menyampaikannya padamu. Bukan dengan kata-kata indah yang sanggup menyanjungmu. Ini hanya bait demi bait yang berusaha untuk kamu mengerti. Mengerti bahwa menunggu itu adalah bagian dari perjalananku menemukanmu. Coba sejenak saja dengarkan apa yang ingin aku sampaikan, jika ini membutuhkan waktumu terlalu banyak, jangan kau anggap sia-sia tentang apa yang telah susah payah aku susun untukmu. Aku tidak berlagak menjadi sosok yang romantis untuk menyanjungmu. Namun aku ingin berusaha untuk menjadi apa adanya diriku teruntukmu. 

Teruntuk.
Kalimat ini hanya sederhana. Sesederhana caraku meniti setiap waktu untuk aku nikmati sendiri. Dalam diamku. Dalam hembusan nafasku. Dalam setiap detakmu. Dalam setiap baris doaku. Aku memintaNya untuk mempertemukanku denganmu. Bukan denganmu yang tersegalanya, namun denganmu yang terbaik yang selama ini kurindu. Setiap saat aku mencoba berbincang dengan empuNya perasaan. Aku hanya meminta dengan sederhana. Jika waktunya sudah tiba, dekatkanlah apa yang terbaik untukku. Sungguh, bukan lagi harapku yang muluk-muluk. Walaupun dalam setiap hening seolah aku menggerutu pada langit yang seolah diam menatapku dengan tatapan hampanya. Bukan nama yang aku sebutkan, namun pasangan jiwa yang aku rindukan. Dibawah naungan langit yang sama. Setiap malamnya kita selalu ditemani oleh bintang yang sama pula. Aku tidak mengharapkan lebih. Meski egoku kadang mendesakku untuk meminta lebih. Namun aku coba untuk tidak letih menunggu sesuatu yang lebih. Bukan tentang harapku, bukan tentang mimpiku namun tentang mauNya. Siapa yang akan tahu apa yang sudah ditakirkan untukku ? Toh semua sudah berjalan sebagaimana mestinya. Apalagi yang perlu aku tuntut. Bahkan dia yang Maha Membolak balikkan perasaan manusia seolah tahu apa yang memang sejatinya terbaik untukku.


Teruntuk.
Teruntuk kamu yang bahkan mungkin sampai saat ini belum terjangkau oleh mataku. Aku tahu alam akan mempertemukanku denganmu disaat yang tepat. Aku terlalu bosan jika harus mendengar satu kata "sabar". Tapi apa yang bisa aku perbuat lebih dari itu. Karena itu yang bisa aku usahakan untuk saat ini. Lalu aku coba tulikan telingaku dari olok-olokan sekitar yang seolah menyudutkan keadaanku. Lalu apa aku harus menyerah dengan semua itu ? Tidak. Aku ingin tunjukkan padamu ini adalah caraku menemukanmu. Entah kamu sedang berada dimana dan dengan siapa. Tenanglah tenang aku akan mengusakan untuk menjadi wanita yang kelak kamu bisa banggakan. Mungkin bukan karena rupa, mungkin juga bukan karena tahta. Namun aku ingin usahakan menjadi wanita terbaik yang bisa membangun mimpi dan mewujudkannya bersamamu. Apa ini terdengar terlalu belebihan ? 

Teruntuk. 
Taukah kamu aku selau menyukai hujan. Entah mengapa aku selalu melihat bulir wajahmu disetiap rintik hujan yang turun. Terlalu hiperbolis atau berlebihan ? Apa peduliku. Ini caraku menyampaikan sejuta kerinduanku kepada alam. Ini caraku menyentuhmu dalam diamku. Bukan dengan cara yang kasat mata karena mungkin saat ini aku hanya bisa menyapamu melalui isyarat yang sanggup aku rasa. Aku selau mencoba mendeteksimu dengan radar yang aku punya. Bukankah kelihatannya aku canggih ? Menemukanmu seolah kamu itu alien yang bisa tertangkap radar dimanapun kamu berada ? Ah aku tidak terlalu muluk untuk nanti kamu bilang lucu, aku mungkin akan memperlihatkan diriku sebagaimana adanya. Inilah diriku, inilah caraku untuk menerimamu. Aku ingin kelak kita sama-sama berjalan beriringan untuk belajar akan sebuah kata yaitu "hidup". Aku mencoba untuk mengosongkan diriku utuk nantinya kamu jadikan utuh karena telah berhasil menemukanmu. Kelak aku ingin menyapamu dengan caraku yang tidak terlalu berlebihan, bukan dengan panggilan sayang ataupun panggilan lainnya. Kelak aku hanya akan memanggilmu pasangan jiwaku. Karena kamu adalah penyempurna hidupku.

Kamis, 27 Maret 2014

SOMEDAY

Alam. Apa yang manusia bisa lakukan untuk sebentar saja bercengkerama dengan alam ? Mencoba menghindar tapi apa yang manusia bisa ? Konspirasi alam itu seolah menujukkan sebuah jalan untuk mengungkap takdir manusia. Mana yang dikatakan cobaan dan mana yang bisa dikatakan pertanda ? Coba beri satu alasan untuk membedakannya. Bukankah itu amat sangat beda tipis sekali? Seolah menjadi pertanda kalau semua itu hanya ada dalam jangkauan mata untuk membedakannya. Bukankah manusia hanya diminta untuk berusaha lebih ? Lalu apa mau alam ? Seolah usaha manusia terkesan sia-sia jika alam menampakkan kemauannya yang tidak bisa dinego lagi. Ada hitam ada putih. Ada datang ada pergi. Ada hujan ada pelabgi. Bukankan dari hal sekecil itu semua membutuhkan proses ? Proses untuk mengubahnya. Yah, hati tidak bisa lagi memohon jika ntanya usaha yang manusia lakukan belum menujukkan hasil yang maksimal. Semua butuh usaha. Itu adalah kata-kata klise untuk mempermulus sebuah kekecewaan dan keputusasaan. Ini hanya tentang proses mengubah. Bukan tentang cara untuk memaksa. Wajar jika manusia berharap yang terbaik bagi hidupnya saat ini dan yang akan datang. Lalu bagaimana yang telah berlalu ? Itu hanya sementara. Toh pada akhirnya sudah berlalu. Lihat saja susunan katanya "masa lalu". Bisakah diubah ? Tidak yang bisa dilakukan hanyalah melakukan yang terbaik untuk waktu yang akan datang. Saat ini dan yang akan datang.Manusia sewajarnya boleh berusaha dan berdoa, berharap dan menerima. Hingga kelak semua akan indah pada waktunya. Akan ada masa dimana masa itu yang awalnya hanya ada di pelupuk mata kita, di angan kita, dan di mimpi kita. Semua akan begitu nyata hingga hidup menjadi terasa utuh karenanya. 

Selasa, 18 Maret 2014

TWIST

Rasa-rasanya baru kemarin kamu ingin segera mengejar ketertinggalanmu? Ah iya, rasanya juga baru kemarin juga kamu ingin segera menyelesaikan apa yang memang sepantasnya diselesaikan. Dan baru saja kamu berusaha meyakinkan dirimu sendiri bahwa kamu bisa dengan dirimu. Lalu sepertinya memang benar jika banyak orang berdalil kalau Tuhan itu memang Maha membolak balikkan perasaan umatNya. Mau buktinya ? Lihat saja kamu sekarang. Kamu baru saja mencari banyak keyakinan untuk memperkuat langkahmu sendiri menghadapi apa yang memang harus kamu hadapi. Lalu apa ? Sepertinya semuanya terlihat sia-sia. Ruang yang kamu kira sejenak saja memberimu kekuatan ternyata jauh dari apa yang kamu harapkan. Tempat untukmu sejenak saja mengadu sepertinya tidak mendengar teriakan dari dalam hatimu. Mereka bahkan membisu, menulikan telinganya untuk menghindar dari teriakanmu. Lalu apa yang salah dari sikapmu ? Coba sejenak saja kamu merenungkan apa yang kamu cari saat ini. Yah, kamu lagi-lagi harus berusaha berdiri di kakimu sendiri. Tidak tergantung dengan orang lain. Toh siapa yang mau kamu andalkan ? Bukankah dirimu sendiri, keyakinanmu pada Tuhanmu. Tidak ada yang lain. Jangan terlalu banyak berharap orang-orang mendengarkan rintihanmu, keluhakan saja semuanya pada Tuhanmu. Tidak ada tempat yang lebih mendamaikan ketika kamu bersujud dan memohon kepadanya. Sudah, abaikan saja segala kejengahanmu akan dunia ini. Luapkan saja apa yang membuatmu marah dan membuatmu merasa muak. Coba dengarkan saja kata hatimu. Tetaplah tersenyum untuk menghibur dirimu sendiri. Bukan dia atau mereka tapi dirimu sendiri. Tidak ada yang lain. Jangan terlalu percaya pada apa yang ditampilkan mereka dihadapanmu. Bukan mengajarkan untuk memiliki dendam namun yang pasti tempat untukmu menimba lagi semangat ya ada dalam dirimu sendiri. Lagi-lagi bukan dia atau mereka. Yah, memang rasa-rasanya tidak perlu hitungan hari, bulan atau tahun jika kamu ingin menguji seberapa kuat dirimu bertahan. Buktinya tidak dalam hitungan 24 jam kamu lagi-lagi diminta untuk yakin. Yakin untuk apa ? Yakin bahwa ruang itu ada dalam hatimu. Mungkin selama ini mereka tidak tahu apa yang kamu perjuangkan dibalik senyum bahagiamu ? Yah, mereka mungkin hanya tahu apa yang terlihat dari wajahmu. Tenanglah tenang kamu harus yakin bahwa dirimu tidak selemah itu. Belajarlah untuk mengampuni. Mungkin benar jika kamu belum melakukan yang terbaik. Anggap saja ini cara waktu dan keadaan menempamu hingga menjadi kuat. Tidak Harus setangguh baja namun jika kamu jatuh kamu tahu bagaimana caranya untuk berdiri. Oke, boleh saja kamu menertawakan dirimu sendiri saat ini. Dirimu yang ternyata tidak sekuat apa yang kamu bayangkan. Lagi-lagi janganlah kamu mengasiani dirimu sendiri. Gunakan saja waktu yang tersisa untuk menerima. Bukan menerima keadaan namun belajar untuk menerima dirimu sendiri. Lihat, kamu dalam hitungan detik kebelakang kamu masih terbakar oleh semangatmu. Namun seketika kamu mengingat titik lemahmu, hei ini saatnya untukmu berdiri. Bukan untuk tergantung dan hanya mematung. Tapi kamu harus tahu bahwa dirimu tetaplah sosok yang tahu bagaimana terus melanjutkan langkah meski setiap kali mengikis rasa percayamu pada sekitarmu. 

Selasa, 11 Maret 2014

Lantas (?)

Mau komentar apa ? Yah, sepertinya kepalamu itu sudah penuh dengan buncahan kata-kata yang seolah ingin kamu luapkan semua. Coba keluarkan saja apa itu yang sering orang sebut dengan unek-unek. Tidak. Tidak perlu kamu mempedulikan orang disekitr kamu. Apa kuasa mereka hingga dengan mudahnya menilai kamu dengan semaunya ? Memang mereka tahu apa tentang kamu ? Mereka hanya melihatmu dari apa yang mereka lihat secara kasat mata. Bahkan mungkin mereka tidak akan mempedulikan apa itu yang dinamakan rahasia. Atau mungkin mereka ingin mengetahuinya untuk tahu apa kelemahanmu. Oh sungguh menyedihkan. Orang nampak berempati namun hanya untuk menjatuhkanmu. Kamu berhak mendapatkan cara untukmu berbahagia. Tidak perlu kamu dengar teriakan orang akan kekuranganmu. Memang mereka tahu juga apa yang salah dari mereka ? Cukup. Diam saja. Tidak perlu kamu seolah merasa kehilangan muka atas apa yang mereka lontarkan kepadamu. Kamu punya hak untuk membahagiakan dirimu sendiri. Peduli apa mereka denganmu. Cukupkan saja semua ketakutanmu akan penilaian orang tentang dirimu. Ini hanya sesaat. Toh mereka yang merasa tahu segalanya pasti akan ada saat dimana dia akan merasa buta akan apa yang jelas dihadapannya. Sekali lagi itu bukan hak mereka untuk menilaimu dan memintamu menjadi sesuai dengan pemikiran mereka. Bebaskan saja segala inginmu dengan caramu. Biarkan saja dirimu mendapatkan bahagianya sendiri. Jangan terlalu mempercayai mereka yang hanya menampakkan keanggunannya untuk mengelabuhimu, hingga pada akhirnya mau menjerumuskanmu dengan cara kalah telak. Mereka seolah tahu dengan pembenaran mereka sendiri. Mereka seolah yakin bahwa caranya itu benar. Lantas dengan begitu harus takut ? Tidak. Ini hidupmu dan kamu berhak menentukan arah hidupmu. Mereka tidak behak mengemudikan hidupmu yang seutuhnya milikmu. Abaikan saja kata-kata sumbangnya. Ini caramu dan ini hidupmu. Kamu berhak untuk menjadi dirimu sendiri tanpa harus takut untuk sendiri. 

Senin, 10 Maret 2014

DEBU

Manuisa itu memang mahkluk yang rumit. Susah untuk imengerti namun bukan berarti tidak pernah bisa. Mungkin hanya butuh sebuah teknik saja untuk memahami apa yang sebenarnya terjadi pada manusia. Dengan pemikirannya, ide, gagasan, dan perasaannya manusia selalu tampak anggun memainkan perannya sebagai mahkluk Tuhan yang memang sejatinya menjadi mahkluk pemikir. Manusia memang dibekali oleh akal, budi dan karsa untuk menjadikan kehidupan ini selaras. Namun bagaimana ketika esensi manusianya itu telah menghilang ? Rasa-rasanya semakin sulit untuk mentolelir yang terjadi pada manusia. Ada titik-titik dimana manusia bertumbuh dengan keadaan yang membawanya pada fase yang memang seharusnya mereka lalui. Masa kanak-kanak, masa remaja, masa dewasa, dan pada akhirnya masa lanjut usia. Oh begitulah perjalanan hidup manusia. Manusia hanya diminta untuk melakukan perannya dengan apik, lalu skenario itu sudah ada dengan apiknya dibuat untuknya. Tapi banyak manusia selalu meenggerutu dengan jalan yang sudah ditetapkan untuknya. Ingin begini, bukan begini, seharusnya begitu dan rutukan lainnya. Oh sungguh manusia ini memang juaranya kalau diminta untuk menggerutu. Selalu menuruti keinginan sendiri dan terlalu memaksakannya itu yang dinamakan ego manusia. Tidak pernah merasa puas dengan apa yang didapatnya. Seolah semuanya harus menjadi miliknya. Ketika pemikiran-pemikiran liar sudah terasa angkuh dan mengorbankan banyak keinginan orang, lantas dimana letak bela rasa itu ? Ah disaat seperti ini rasanya munafik kalau orang masih diminta untuk memperhatikan kepentingan orang lain. Seperti 1 : 1000. Sejauh itukah rasio keberadaan bela rasa itu diantara sesama manusia saat ini ? Tidaklah cukup untuk menjadi orang yang selalu tampil dengan tampang sok sucinya. Semua orang nampak dengan anggun menutupi kedoknya untuk memenuhi hasratnya. Seolah matanya tertutup untuk merampas kebahagiaan yang lain, dan untuk apa ? Ya untuk kepuasaan dirinya sendiri. Manusia seolah tidak ada bedanya antara satu dengan yang lain. Semua berbaur dengan dunia yang semakin menua ini. Lantara skenario itu apa gunanya ? Skenario itu tetaplah yang terkuat. Siapa yang bisa melawan skenario yang orang sering menyebutnya dengan istilah takdir ? Ah rasanya mustahil jika ingin beringkar dari jalan itu. Setangguh-tangguhnya manusia, dia tidak ada bedanya dengan debu. Manusia bisa terbang dan terombang ambing oleh angin yang membawanya. Bahkan seolah manusia tidak ada artinya, manusia hakikatnya hanyalah debu. Manusia tidak akan ada artinya tanpa penyerahan seutuhnya hingga menyadari bahwa manusia itu penuh dengan kelemahan. Lihat saja debu. Apakah mereka sebenarnya diperhatikan orang ? Tidak. Debu selalu tidak nampak jelas oleh pengelihatan. Mereka bisa terbawa kemanapun angin emnerbangkannya. Hingga debu itu jatuh ditempat yang semestinya. Karea debulah kita. 

Jumat, 07 Maret 2014

Tuan dan Nona

Lucu memang. Jarak seperti apa lagi yang nona harapkan ? Kurang jauh apa tempat ini dengan keberadaan nona dan tuan ? Bukankah kita sudah tidak saling bertegur sapa lagi. Tenanglah tenang nona, dia seutuhnya milik anda. Jangan cemaskan dan khawatirkan apa yang akan terjadi. Tempat ini sudah terlalu nyaman untuk saya beranjak dan mengusik ketenangan nona dan tuan. Tidak ada sedikitpun rasa ingin berada disana bersama sang tuan. Cukup tempat ini, meski itu tidak akan mungkin lagi. Lupakanlah saja apa yang telah berlalu. Ini hanya sementara dan tidak akan lama lagi. Silahkan saja menghapus semua jejak keberadaan untuk menyamarkan jalan hingga tidak lagi tahu jalan untuk kembali. Boleh saja nona menghilangkan semua jalan untuk menemukan ruangnya kembali. Sekali lagi tidak ada yang perlu Anda takutkan. Janganlah lagi anda hujani tuan dengan kecurigaan. Dia untuk milik nona. Bukankah yang pasti itu yang di depan sana ? Dia berusaha untuk meyakinkan nona. Terimalah keyakinan dia untuk nona. Hargai usahanya untuk meyakinkan nona bahwa nona adalah yang utama. Meski nona sering menanyakan keseriusan ungkapannya. Tenanglah tenang nona. Hidup Anda terlalu indah untuk diikuti rasa takut akan terulangnya masa lalu. Lihatlah wajah tuan. Dia sudah meyakinkan nona dengan seribu caranya bahwa masalalunya telah terlupakan. Namun nona tetap meronta, seolah tidak percaya. Yah, jika nona ingin tahu. Jangan salahkan jika nyatanya ruang itu masih ada untuk menyimpan dengan rapi segalanya yang telah lalu. Namun lihatlah dimatanya nona. Kesungguhan itu ada untuk anda. Bukan untuk siapa-siapa, bahkan bukan untuk yang lain. Itu hanya untuk nona seorang. Nona, tahukan anda jika dia berusaha selalu untuk emnjaga hati nona ? Meski dia sendiri harus mengingkari hatinya sendiri akan rasanya ? Nona, aku mohon percayalah. Tuan tidak akan pernah ingkar janji. Tapi aku mohon beri sedikit ruang dihatinya untuk berdamai dengan dunia. Biarkan dia menyimpannya dengan rapi. Bukan dengan keterpaksaan karena keangkuhan nona yang memintanya. Sungguh nona, aku tidak sedikitpun berusaha untuk kembali. Tuan tahu apa yang harus dia lakukan, begitu juga dengan aku. Tenanglah tenang nona, dia tulus untukmu (saat ini).