Selasa, 07 Agustus 2012

Katakanlah Ini

Katakanlah ini pada diri yang lemah, ini hanya sementara hingga aku mulai menemukannya kembali. Aku hanya kehilangan arah ketika aku terjatuh namun tak ada yang mengerti dan mengulurkan tangannya untukku. Aku bisa menerima keadaanku. Aku bukan lagi jiwa yang lemah karena harus terlalu lama berlarut dalam kesedihan. Aku bisa menjadi diriku sendiri dengan caraku sendiri. Aku bisa membanggakan mimpiku untuk menjadikannnya nyata hingga nanti aku menjadi pribadi yang tangguh. 

Katakanlah ini pada diri yang takut. Aku hanya sesaat terjatuh dalam kegelapan dan tidak tahu arah manapun. Aku tersesat dan ketakutan ketika aku kehilangan hatiku untuk pencahayaan langkahku sendiri. Apa lagi yang aku takuti ? Aku tidak sendiri berjalan dalam ribuan orang yang masih berada disekelilingku. Aku tidak lagi takut akan kesendirian. Ketakutan ini hanya sementara. Ini hanya akal-akalanku saja menciptakakn sesuatu yang hanya menjatuhkanku dalam sebuah kesemuan belaka. Aku bukan lagi penakut yang harus selalu bersembunyi dari sombongnya dunia. 

Katakan ini bagi diri yang kecewa. Ini memang menyakitkan ketika apa yang diharapkan tidak seperti kenyataannya. Kecewa ini telah membuatku mengerti warna yang bisa membuat perjalanan ini indah. Ini tidak seburuk dari apa yang dibayangkan. Kecewa hanya sebuah lelucon jika aku tidak lagi mengindahkannya. Ini bukan sebuah drama yang harus selalu dimainkan hanya oleh kebahagiaan. Karena dengan kecewa ada jalan untuk menemukan pengharapan akan pemenuhan sebuah kebahagiaan. 

Katakan ini bagi hati yang terluka. Sakit ini hanya masalah waktu. Aku bisa menyembuhkannya. Aku bisa mengikhlaskannya. Buat apa aku meratapi kekalutan hati yang hanya semakin membuatku terpuruk ? Bukankah masih banyak hal yang bisa aku hargai dengan pengorbananku ? Ini akan terdengar sia-sia jika aku hanya menangisi sesuatu yang tidak pasti. Hidup ini penuh dengan cerita, buat apa aku hanya stuck dalam satu kisah yang hanya akan menghambat pencarian kebahagiaanku ? 

Katakan ini pada diri yang sombong. Apa yang aku cari bisa selalu memberiku ketenangan hati ? enyalah wahai engkau kesombongan. Ini tidak akan menghantarkanku pada sebuah pencapaian. Ini hanya akan memperburuk harapanku. Dengan kesombongan hanya akan menjerumuskanku dalam tuah yang selalu aku banggakan. Biarkan aku mengiringi sejalannya waktu dengan apa adanya diriku. Aku tahu kesombongan hanya membawaku pada ketidakbahagiaan yang menjauhkanku dari apa yang aku ingin capai. 

Katakanlah ini pada diri yang rindu. Kerinduan ini indah. Membawaku pada imaji yang bisa aku ciptakan sendiri. Terdengar konyol dan bodoh memang. Namun biarkan aku bermain dengan duniaku sejenak. Terlepas dari carut marutnya kehidupan yang penuh dengan kepalsuan ini. Bahakan dengan kerinduan ini aku bisa melepaskan sejuta harapanku pada seseorang disana. Entah kerinduan ini bermakna atau tidak, namun aku yakini dengan kerinduan ini akan ada sebuah doa yang tulus yang selalu terucap bagi dan untuk jiwa yang tenang. 

Katakanlah ini pada diri yang tak terbalaskan. Ini sebuah lelucon ada cerita dimana selalu ada hal yang tidak pernah kesampaian. Penolakan ini menjadi sebuah cermin. Tempat untuk belajar banyak hal, menggali banyak hal bahkan mengeksplore banyak hal pula. Penolakan bukan sebuah ajang perendahan, namun dengan penolakan membuat kita mengerti bahwa diir kita jauh dari kesempurnaan, banyak hal yang harus kita lakukan untuk perbaikan diri. Perbaikan diri dengan keikhlasan menjadi diri sendri yang seutuhnya. 

Katakalah ini pada diri yang ragu. Keraguan hanya akan menghambat langkahku untuk maju. Bukan kita yang mampu menentukan segala sesuatu yang akan terjadi nanti. Memang jika tidak ada keraguan tidak akan ada opsi dalam pilihan. Namun keraguan hanya akan mematikan harapan jika kita tidak berani ambil resiko. 

Katakanlah ini bagi jiwa yang tenang. Bersemayamlah selalu jiwa yang tulus, damai dan ikhlas. Kesabaran akan membawa pada sebuah kebahagiaan yang bisa kita maknai dengan rasa syukur. Jiwa yang tenang tempat untuk menaungkan segala harapan dalam kehidupan. Kebijaksanaan akan membawa pada sebuah kemuliaan jiwa dalam sebuah perjalanan hidup. Karena hidup ini bukan sebuah masalah yang harus dipecahkan namun hidup ini adalah sebuah perjalanan yang bagiamana untuk menjalani prosesnya. 

Kehilangan

Kehilangan menjadi sesuatu yang amat ditakui oleh kebanyakan orang. Kehilangan ingin dihindari juga oleh kebanyakan orang. Namun kehilangan itu bagian dari sebuah siklus yang tidak bisa ditawar atau dihilangkan begitu saja. Kehilangan menjadi sebuah misteri bagi siapa saja. Hidup ini adalah sebuah kejutan. Dimana ada awal disitu pasti ada akhir. Sungguh menyakitkan memang kehilangan sesuatu yang tidak ingin dan tak akan pernah ingin kita lepaskan. Namun bukankah lebih menyakitkan jika kehilangan bahkan tersentuhpun belum sempat ? Menyiksa bahkan itu yang mungkin bisa tergambarkan dari sebuah kehilangan tanpa makna. Kehilangan selalu diasosiasikan dalam sebuah kepergian dan entah itu kembali ataukah tidak. Tidak ada yang bisa memprediksi dalam sebuah perjalanan yang begitu semu. Hidup ini sungguh nyata tapi semu. Semua penuh dengang teka teki. Tidak ada sebuah logika yang mampu menjelaskannya yang ada hanya sebuah terkaan dan mungkin setiap orang memiliki penafsiran yang berbeda-beda. 

Bemain dengan logika dan perasaan itu tidaklah semudah kita berbicara dengan segala teori yang serasa kita tahu segalanya. Ini bukan urusan yang bisa dibiarkan begitu saja. Banyak orang juga dimatikan oleh kehilangan. Bahkan kehilangan juga mampu membutakan mata orang yang sebelumnya sanggup melihat dunia yang begitu luas dan bersahabatnya menjadi buta dan tak tahu apa-apa. Apakah ini adil ? Tidak ada yang tidak adil di muka bumi ini, semua di setting sedemikian rupa untuk menjadikannya sebuah rangkaian cerita. Seperti sebuah kubu bermata dua yang selalu ada titik yang saling bertolakbelakang. Ada suka ada duka, ada kedatangan begitu juga akan datang kepergian. Apa yang bisa diperbuat untuk sebuah kepergian ? Tidak ada lagi sebuah negosiasi, karena semua terjadi begitu saja. Kerisauan itu juga tidak bisa mengakhiri sebuah perasaan kehilangan. Atau bahkan kita mau memberontak ? Mempertahankan sesuatu yang tidak bisa dipertahankan itu seperti terdengar sia-sia. Hanya menjadi sebuah harapan tanpa realisasinya. Ibaratnya seseorang yang belajar naik sepeda, dia pasti akan terjatuh dan bangkit lagi untuk emnemukan titik keseimbangan hingga mampu mengayuh sepedanya. Tidak hanya berhenti disitu, saat sudah bisa mengayuh sepedanya, orang itu akna terus mengayuh untuk terus berada dalma keadaan seimbangnya karena jika tidak itu akan bisa mencelakakannya sendiri. Terjatuh. Sakit. Kecewa. Apalah itu namanya. Ini bukan akhir dari sebuah harapan, anggap kehilangan akan diganti dengan yang lebih dari apa yang hilang dari kita. Tinggal bagaimana kita memainkan ritme untuk tahu bagiamana kita bisa bertahan dan menenruskan langkah yang mungkin sempat terhenti dengan kehilangan. Ketahuilah, kehilangan bisa menjadi guru terhebat dalam sebuah penerimaan yang sejati. 

Sabtu, 04 Agustus 2012

Another Poin Of View

“Harusnya kamu bersyukur bro dapet cewek secantik dia yang masih mau sama kamu, bukannya malah disia-siain” 

Itu salah satu tweet yang masih saya inget dari account milik salah satu teman saya (cowok). Kira-kira tweetnya seperti itu kalau tidak salah.Ehm, kali ini saya akan membahas yang masih ada hubungannya dengan entry sebelumnya. Entry yang kemarin kita membahas alasan-alasan cewek yang masih tetap bertahan dengan hubungannya padahal mereka sudah merasa nothing dengan hubungan tersebut. Kalau dipandang secara gamblang ini masih erat hubungannya dengan yang akan kita bahas kali ini. Hanya mungkin cara pandangnya saja yang membuat berbeda sehingga kita bisa melihat sisi lain dibalik apa yang sedang menjadi masalah akhir-akhir ini. 

Kalau kemarin kita melihat dari sudut pandang cewek yang seharusnya tidak perlu takut untuk memutuskan sesuatu yang menyangkut dengan kebahagiaan dan kenyamanan mereka, namun kali ini kita melihat dari sudut pandang orang lain (cowok) yang memandang seorang cewek yang tetap bertahan dalam hubungan yang bisa dibilang sudah keruh. Yang menarik disini, ada sebuah kata cantik. Cantik selalu menjadi identitas dan ciri khas seorang cewek untuk dipandang wah dan lebih oleh seorang cowok. Mungkin pikiran dangkalnya seperti itu. Heran juga, kalau dipikir-pikir dalam sebuah hubungan fisik bukan menjadi jaminan apakah hubungan itu akan tetap adem ayem atau bahkan akan membara seperti bara api. Mungkin tidak bisa dipungkiri lagi kalau penampilan fisik menjadi sebuah candu di permulaan. Banyak rasa sayang atau apa itu yang dinamakan cinta bertumbuh dari pandangan pertama, entah itu hanya sekilas karena penampilan semata atau memang ada sesuatu yang tidak bisa dijelaskan secara teori. Karena sejatinya tidak ada ilmu eksak dan teori khusus yang bisa menjelaskan sebuah ketertarikan yang setiap orang berbeda-beda dan tidak bisa disamakan begitu saja. Namun orang awampun tahu kalau apapun itu pasti dinilai dari apa yang terlihat diluarnya terlebih dahulu sebelum mengenali jauh tentang sosok itu sendiri. 

Ibaratnya begini. Ada seorang yang ingin membeli rumah untuk menjadi tempat dia menghabiskan waktunya, dia melihat dua rumah yang berseberangan. Rumah pertama terlihat mewah dengan arsitektur yang menawan dan sungguh mewah jika dilihat dari luarnya, namun ketika calon pembeli itu memasuki ruangan didalamnya tetapi ternyata ruangan yang didalamnya tidak seindah dan semewah apa yang terlihat dari luarnya. Di dalam rumah itu kumuh, bahkan tidak teratur sama sekali, dan sungguh tidak ingin membuat calon pembeli itu berlama-lama di dalam rumah pertama itu. Sedangkan rumah kedua yang dilihat pembeli itu, depan rumahnya sederhana dan tidak terlihat begitu mewah, rumah itu lebih menunjukkan minimalis, biasa saja. Tapi setelah calon pembeli itu masuk ke dalam rumah itu, betapa sungguh terpesonanya calon pembeli itu. Di dalam rumah itu bahkan seperti sebuah istana dan membuat siapa saja yang singgah di rumah itu betah berlama-lama tinggal di dalamnya. Sungguh kontras dengan apa yang terlihat dari luarnya. Dan tanpa berpikir panjang lagi, pembeli itu akhirnya memutuskan untuk membeli rumah yang kedua tanpa menghiraukan tampilan luarnya. Karena tampilan luarnya memang bawaannya, yang terpenting aura dan kenyamanan yang membuat pembeli itu betah tinggal berlama-lama di rumah itu. 

Taukah kita, rumah pertama dan rumah kedua itu perumpamaan seseorang yang ingin menentukan pilihan hidupnya yang di uji dengan tampilan yang terlihat dari luarnya. Sesuatu yang terlihat luar biasa diluarnya belum menjamin akan luarbiasa pula didalamnya, bahkan sesuatu yang terlihat biasa saja di luarnya akan terlihat luar biasa didalamnya kalau kita mau mendalami dan menyelami terlebih dahulu. Tidak hanya mau terbuai oleh tampilan fisik semata. Cantik, ganteng, jelek itu relatif. Setiap orang memiliki standar masing-masing untuk menilai mana yang dikatakan bagus dan mana yang dikatakan jelek. Karena sejatinya hanya labeling orang-orang secara umum saja yang selalu mengidentifikasikan kalau cantik itu harus tinggi, putih, langsing, rambut panjang, dengan segala embel-embelnya. 

Kadang heran juga dengan mereka yang selalu memuja tampilan fisik. Memang benar, tidak munafik juga kalau fisik itu juga menjadi salah satu komponen dalam menilai orang. Tapi banyak juga dari kita yang selalu mendiskriminasikan mereka yang tidak memenuhi standar yang ditentukan hanya dengan apa yang selalu dilihat tanpa dirasakan. Ya pastinya semua cowok ingin mendapatkan wanita cantik supaya dia tidak bosan untuk memandangnya, namun bukankah kecantikan sesungguhnya itu akan terpancar dari sorot mata dan senyumnya bukan dari berapa senti ketebalan bedak dan berapa panjang bulu mata palsunya ? Aih, ini yang kadang membuat banyak cewek berlomba-lomba mempercantik dirinya dengan segala macam yang bisa membuat diri mereka terlihat menawan di mata lelaki dengan penampilan dari luarnya semata, namun kadang banyak juga kita melupakan kaidah kita sebagai wanita yang sebenarnya memiliki kecantikan yang murni yaitu dari hati kita. Ah, konyol bagi mereka yang hanya menilai penampilan semata. Menjadi diri sendiri itu lebih terlihat cantik apa adanya dibandingkan harus dipermak seluarbiasa apapun namun mereka harus menjadi orang lain. Cowok-cowok yang ingin mendapatkan wanita cantik mungkin memiliki alasan sendiri, ya mungkin saja biar nanti kalau diajak pergi dan kumpul dengan teman-temannya, ceweknya bisa digandeng dengan begitu bangganya dan memperkenalkan kalau wanita cantik disampingnya itu pacarnya. Ya ya ya, nggak munafik memang. Itu manusiawi kalau kita ingin selalu terlihat wah di mata orang. Namun, ketahuilah ini. Wanita cantik itu banyak, namun wanita yang berkarakter itu yang sulit untuk di temui. Setiap orang istimewa dengan caranya masing-masing, apalagi wanita akan selalu terlihat cantik dengan hati tulus yang dia miliki. Bersyukur menjadi diri sendiri itu lebih dari segalanya, bisa mengalahkan treatment apapun yang bisa mengubah kecantikan. 

Dua Pemahat

Ada sebuah kisah tentang dua pemahat yang terkenal dengan pahatannya yang sungguh indah. Suatu ketika ada raja yang mengundang kedua pemahat itu untuk mengikuti perlombaan di istananya. Acara ini diadakan untuk menilai dan melihat pahatan siapa yang lebih bagus dan lebih indah. Mereka berdua diberikan ruangan besar dengan tembok-tembok batu berseberangan dan ditengah ruangan itu dibatasi oleh sebuah tirai kain yang memisahkan ke dua pemahat tersebut. Sempurna membatasi, menutup, dan pemahat tidak bisa melihat ke pemahat diseberangnya begitu juga sebaliknya. Mereka diberikan waktu satu minggu untuk menyelesaikan pahatan mereka untuk hasil yang terbaik dan terindah. 

Pemahat pertama memutuskan untuk menggunakan semua peralatan yang dimilikinya untuk membuat pahatan yang seindah mungkin. Dengan hiasan-hiasan, cat warna dan apapun itu untuk memperindah tembok batu miliknya. Orang itu memahat berhari-hari, tidak kenal lelah, demi ambisinya untuk menghasilkan pahatan yang indah dan bisa memukau raja. Dan ketika waktunya sudah habis, tirai yang membatasi kedua pemahat itu dibuka. Betapa tercengangnya pemahat pertama saat melihat hasil pahatan si pemahat kedua yang terlihat lebih indah dan bagus dibandingkan pahatan miliknya. Pemahat pertama tidak terima sehingga dia meminta waktu lagi kepada raja untuk memperindah pahatannya. Tirai kembali ditutup. Pemahat pertama dengan semangat dan tidak kenal lelah menambah apapun yang sekiranya bisa memperindah pahatannya lagi. Dia dengan tekun memanfaatkan waktu yang diberikan raja untuk berhasil mengalahkan hasil pemahat kedua. Setelah tambahan waktu habis, tirai kembali di buka. Dan betapa tambah terkejut dan tidak terimanya pemahat pertama, hasil pahatan pemahat kedua lagi-lagi lebih indah daripada miliknya. Pahatan itu terlihat berkilau dan mempesona. Pemahat pertama berteriak lagi kepada raja supaya diberi tambahan waktu untuk menambah elok lagi pahatannya sampai berulang-ulang. Namun semakin ditambah waktunya, hasil pahatan pemahat kedua semakin elok dan tidak bisa dipungkiri lagi akan mempesona siapa saja yang melihatnya. 

Sejatinya, pemahat kedua tidak melakukan apa-apa terhadap dinding batunya. Dia hanya memperhalus dinding batunya secemerlang mungkin, membuat dinding itu berkilau bagai cermin. Hanya itu yang dilakukan pemahat kedua dengan tambahan-tambahan waktu yang diberikan sehingga dinding batunya semakin lama semakin bertambah kemilau dan cemerlang. Dengan begitu ketika waktu habis dan tirau dibuka, dinding batu pemahat kedua hanya memantulkan hasil pahatan pemahat pertama. Itulah perbedaan orang-orang yang terlalu mencintai dunia dengan orang-orang yang bijak menyikap hidupnya. Orang-orang yang mencintai dunia terus menerus tidak akan pernah merasa puas seperti pemahat pertama. Mereka sanggup melakukan apapun itu untuk mendapatkan apa yang dia mau walupun itu belum tentu membuatnya puas dan berbangga diri karena akan selalu ada saja yang membuatnya merasa kurang. Tapi orang-orang yang bijak menyikapi hidup berhasil mengahaluskan hatinya secemerlang mungkin, membuat hatinya bagai cermin, maka mereka bisa merasakan hatinya lebih bahagia melebihi orang terkaya sekalipun. Orang-orang yang terlalu mencintai dunia terlalu terbuai oleh tuah yang dimilikinya untuk terus berkeinginan mengembangkannaa, tanpa memikirkan bagaimana menyikapi hidup dengan bijak dan lebih bisa bersyukur dengan apa yang telah dimilikinya. Mereka merasa terjebak dengan jalan dan kesempatan yang telah mereka miliki sehingga dengan ambisinya mereka harus bisa lebih dari apa yang telah dia dapat. Orang-orang yang keterlaluan mencintai dunia tetap tidak akan pernah menemukan jawaban dari dunia. Dari harta benda dan kehidupan duniawi semata. Itu mengapa kadang banyak orang yang terlihat memiliki segalanya, harta benda, kekuasaan apapun itu belum cukup menyugguhkan sesuatu yang membuat hati mereka tenang. Banyak dari mereka yang malah merasakan hidupnya kosong dan hambar karena kebijakakan mereka menyikapi hidup dengan sederhana termakan oleh ambisi yang tidak pernah terpuaskan oleh dunia. 

Beda halnya dengan mereka yang bijak menyikapi hidupnya, bahkan sesuap nasi jagung sekalipun bisa terasa nikmat tanpa harus protes karena mereka lebih bisa menyikapi hidup dengan sederhana dan menganggap kalau semua itu tetap menjadi anugrah yang indah dalam hidupnya. Simple, butuh rasa syukur untuk lebih membuka mata akan kesombongan dunia yang selalu memamerkan kemewahan tanpa tahu dan sadar esensi apa yang dicari. Mereka yang berhasil menyikapi hidup dengan sederhana, tulus hatinya, tidak akan pernah menuntut lebih akan dunia, mereka berjalan dengan seiringnya perjalanan hidup membawanya kemana, karena mereka lebih bisa merasakan esensi hidup yang sesungguhnya dengan ketenangan hati dengan cermin dihati yang mereka miliki. Sehingga, kadang cermin dihatinya itu yang akan memantulkan kebahagiaan yang mungkin kadang tidak pernah dimiliki oleh orang-orang yang bergelimpang harta. Orang-orang yang bijak menyikapi hidup merasa kaya dengan hatinya walaupun hidupnya terbatas oleh kesederhanaan. Bahagia itu sedernaha, bersyukur. 

Banyak yang bilang kalau dalam hidup ini yang dicari adalah kepuasan. Namun bukankah lebih bermakana kalau yang dicari dalam hidup ini adalah sebuah ketenangan dan kedamaian ? Contohnya saja para koruptor yang bergelimpangan harta, ingin apapun bisa dalam sekejap tercapai dan apapun itu bisa mereka miliki, mungkin dengan begitu mereka akan merasa puas dengan semua itu, tapi bagaiamana urusan dengan ketenangan hati mereka ? Dikejar-kejar oleh perasaan bersalah, harus pandai berdusta, dan lebih-lebih lagi mempergunakan sesuatu yang bukan menjadi haknya, mengorbankan orang lain demi ambisinya, apakah mereka bisa dikatakan orang bahagia ? Semua kembali lagi pada tujuan dan prinsip hidup masing-masing, di dunia ini hanya perjalanan semata, semua akan kembali pada masanya masing-masing, dan bukan semua itu yang dibawa. Manusia itu hanya butiran debu dan akan kembali menjadi debu, bukan harta, kekuasaan, dan kedudukan yang dipandang dan menjadi bekal namun perbuatan baik apa yang telah kita perbuat kepada sesama kita. So, tanyakan pada diri kita masing-masing, ingin seperti pemahat pertama atau kedua ? Apa artinya kemewahan namun hati kita miskin, kosong, dan hambar ?

Jumat, 03 Agustus 2012

Takut atau gengsi ?

Fenomena ini bukan menjadi rahasia lagi kalau sudah mendunia. Ceile mendunia. Tapi ya memang sudah umum terjadi, dan mungkin banyak dari kita juga mungkin sedang atau mungkin tiba-tiba terbesit akan hal ini. Hal apa sih ? Ini ni, pasti pada tahukan kenapa banyak cewek yang masih survive mempertahankan pasangannya padahal kalau dipikir-pikir hubungan mereka nothing ? Nothing disini mungkin karena seringnya frekuensi bertengkar, atau mungkin sudah merasa tidak cocok namun tetap dipertahankan, dan masih banyak alasan lain. Ya pasti akan selalu ada alibi yang mendasari kenapa mereka akan tetap survive. Oke, disini coba kita bahas dengan santai faktor apa saja sih yang sebenernya membuat seorang cewek tetep mempertahankan hubungan mereka walaupun sudah merasa nothing atau apapun itulah. Faktor-faktor yang akan dibahas ini hanya sebuah perkiraan saja dan yang pasti tidak akan dibahas secara serius, nyantailah. Apa saja sih itu ? Cekidot. 

1. Kalau sendiri nggak ada yang ngucapin selamat pagi, selamat malam, selamat makan, selamat ngapain aja atau selamat apa aja sampe selamatan segala. Uuups. Atau ini ini, kalau sendiri nggak ada yang ngingetin suruh makan, suruh minum obat atau suruh mandi atau suruh apa ajalah. Beuh, kalau pasangan cuma dimanfaatin buat ngingetin aja sih mending remainder di HP dipergunakan tu. Atau alaram sekalian, jam segini ngapain, jam segini harus ngapain atau apa saja itu. Ah ternyata kalau dibikin lelucon pasangan nggak ada bedanya ya sama remainder. Eh keceplosan. Hahaha. Ini ni yang mungkin juga sering dipeributin cewek kalau pasangannya nggak perhatian, nggak inilah nggak itulah, apalah kurang inilah kurang itulah. BM ya cewek itu sebenernya. Banyak maunya. Ya mungkin ini yang menjadi salah satu alasan kenapa seorang cewek tetap bertahan dalam hubungannya. Ah sepele juga ya sebenarnya. Tapi itulah cewek mahkluk Tuhan yang selalu ingin dimengerti. Makanya, biar hawa dan aura dalam hubungannya dengan pacar memanas, namun si cewek tetap mati-matian mempertahankan hubungannya, karena mungkin sudah terbayang gimana “plonga plongo”nya kalau menjalani hari-hari sendiri. Beuh. 

2. Kemana-mana sendiri. Yakali, emang cuma cewek yang punya pasangan aja yang kemana-mana berdua muluk. Open your eyes, guys ! Dunia ini luas, nggak cuma selebar daun kelor. untuk saling mengasihi, menemani, dan berbagi. Eits. Ada banyak teman yang bisa kita ajak kemana-mana, punya pasangan juga tidak menjamin kok kalau kemana-mana bisa ditemenin, kalau pasangannya sibuk gimana ? Atau mungkin kalau pasangannya lagi nemenin ceweknya yang lain jalan gimana ? Ini hanya celetukan gila kawan, tapi nggak tahu juga sih ya. Hidup penuh dengan kejutan, jadi mana tau. Ini leluconnya, bagus juga tu kalau cewek-cewek yang takut buat mengakhiri hubungan mereka punya hewan peliharaan. Kan sedang ngetren tu kemana-mana sama hewan kesayangan mereka, ya itung-itung selain buat nemenin ya biar kelihatan masa kini juga. Ah seorang presiden yang punya banyak pengawal aja kadang butuh waktu sendiri, masak iya kita kemana-mana harus ditemenin. Yaudah sewa bodyguard aja sekalian biar ada yang ngikutin kemana kaki melangkah, kan malah lebih amat banget tu. Kalau gini mah pasangan nggak ada bedanya sama bodyguard ya ? Uuuups. 

3. Kalau sendiri itu bakalan bete soalnya HP sepi. Ah ini mah belum hi-tec berarti ? hari gini masih takut HP sepi sedangkan banyak orang pintar dan kreatif diluar sana yang mati-matian menciptakan banyak aplikasi untuk menemani kebosanan kalau melihat HP sepi. Yaudah tinggal mainan Simsimi aja. Kan enak tu, bisa ngomong sesuka dan sebebas mungkin eh nanti sudah dibalesin walaupun balesannya kadang nggak nyambung banget. Atau mungkin banyak juga aplikasi lain, ah dijamin nggak mati gaya deh sekarang kalau mau mempergunakan HP dengan semaksimal mungkin. Jadi istilahnya harus menggeser mindset kalau HP harus selalu ada SMS atau BBM dari orang yang disayang. Ya kalau pasangan rajin SMS atau BBM kalau enggak ? Sama aja. Yaudah ini alibi yang sudah super klise. Nggak gaul alesannya. 

4. Takut diejek sama temen-temen ? Atau takut cantiknya mubajir ? Atau takut dikira nggak laku ? Eis, ini ni. Hei ladies, hidup ini indah. Iyakah kita harus melakukan hal yang hati kita tidak mengiyakannya ? Apa kata orang itu dianggap sebagai sebuah nyanyian yang sering kita dengar setiap hari aja. Nggak harus lagu baguskan yang selalu kita dengar setiap hari, di acara-acara musik aja pasti akan ditanyangkan banyak referensi lagu, dari lagu yang berkualitas dan bisa jadi inspirasi sampai lagu yang hanya cuma sebagai pelengkap aja. Nah, anggap aja apa kata orang itu seperti kita denger lagu. Kita tidak mungkin membelah menjadi seribu hanya untuk menuruti apa kata orang. Ini hidup yang menjalani kita, hanya kita yang berhak memutuskan apa yang akan kita pilih dan putuskan untuk kita jalani. Jadikan omongan orang sebagai pelengkap dalam pembuatan prinsip hidup kita supaya menjadi lebih matang. Dengan sendiripun lebih punya banyak cara untuk bahagia dan bisa mengeksplorasikan diri. Bukan jaminan yang punya pasangan itu lebih matang emosinya dan lebih bahagia. Kalau sendiri lebih bisa bahagia dan menjadi apa yang kita mau mengapa mempertahankan apa yang hanya mengengkang kita ? Ini saatnya bagi kita untuk menunjukkan kepada dunia siapa kita. Yakali kalau pasangan kita mendukung apa yang kita mau, kalau ternyata menentang ? Ke laut aja, hidup terlalu berharga kalau hanya dinikmati dalam satu gerak. Let’s play guys ! 

5. Alasan yang satu ini yang mungkin terdengar sensitif dan mungkin juga banyak yang menggunakannya sebagai alasan untuk tetap bertahan. Masih sayang. Hmm, kalau ini tidak bisa dipungkiri lagi memang. Tapi seberapa besar rasa sayang itu bisa mengalahkan ketidaknyamanan yang didapat dalam hubungan ? Apakah bisa seimbang ? Apa malah rasa sayang itu sebenernya tertutup oleh ketidaknyamanan ? Ini yang harus dipertanyakan dan direnungkan dalam hati. Kita memang harus mengutamakan perasaan namun dikasus ini logika harus ikut memutuskan. Apa mungkin tetap bertahan namun hati tak nyaman ? Apa mungkin tetap bertahan namun bukan ini yang sebenarnya yang diinginkan ? Gunakan logika ketika perasaan tak mempunyai daya lagi. 

Itu tadi sebagian faktor yang mungkin menjadi alasan bagi cewek kenapa mereka memilih bertahan dalam hubungan yang sebenarnya sudah tidak menyenagkan lagi. Ya jatuhnya memang menjadi terkesan faking dan terpaksa. Karena mau tidak mau bibir tersenyum namun hati cemberut. Dusta. Apakah itu baik ? Bukannya menjalin hubungan itu tujuannya untuk saling berproses bersama dan saling membahagiakan ? Kalau gini jadinya bukan hanya menjadikan dusta yang menyakiti diri sendiri dan orang lain, namun malah terkesan menghujat yang di Atas. Karena antara sadar tidak sadar, kita selalu menghujat langit kenapa harus begini jadinya. Padahal kalau kita tahu, apapun yang terjadi dalam hidup kita itu sebenarnya yang terbaik untuk kita, tidak ada yang salah dan keliru. Kadang yang membuat keliru itu presepsi kita menanggapi apa yang dimaksudkan Tuhan untuk kita. Survive dalam hubungan memang terkesan memaksakan, namun bisa juga dilihat dari sisi positifnya. Mungkin dengan begitu kita lebih bisa belajar tentang sabar, ikhlas dan apapun itu. Dengan segala macam perkara yang terjadi dalam sebuah hubungan itu menjadikan sebuah pembelajaran untuk kita, karena dengan begitu kita akan lebih dimatangkan untuk diupgrade ke level selanjutnya dalam perjalanan kehidupan kita. Tuhan selalu punya cara untuk membuat kita mengerti dan belajar. 

Namun ketika sudah bertemu dengan titik kejenuhan dan tidak bisa lagi dikompromikan dengan diri sendiri, ini mungkin ada saatnya kita harus mengambil keputusan. Mengapa cewek lebih memilih bertahan dalam hubungan yang dirasa nothing ? Karena takut atau gengsi. Jawabannya kembali lagi ke diri kita masing-masing. Percayalah, tulang rusuk dan pemiliknya tidak akan pernah tertukar dan akan bertemu pada saatnya. Akhirnya, tanyakan pada diri kita masing-masing, ini masalah takut apa gengsi, dan semua keputusan itu ada ditangan kita masing-masing. Dan yang bisa mengkompromikan semuanya itu ada dalam diri kita. Namun semuanya kembali lagi pada diri kita, ini memang tidak bisa disamakan karena setiap orang mempunyai cara pandangnya masing-masing. So, Survive or leave it !

Kamis, 02 Agustus 2012

MOSAIC

Mungkin kelihatan aneh konyol atau apalah itu namanya. Tapi tidak bisa dipungkiri lagi kalau apa yang kita lakukan dimasa lalu adalah cermin diri kita diwaktu ini. Semua yang terjadi di masa lalu memang memberikan sebuah arti yang sangat berarti dari setiap perjalanan hidup kita. Mulai dari sesuatu yang dianggap sepele dan itu mustahil. Tetapi itulah sebuah proses dimana ada sebuah pendewasaan yang memberikan banyak pelajaran. Mungkin kadang kita lupa dan tak menghiraukan apa yang sudah terjadi. Tapi coba sebentar kita mengenang apa yang sudah terjadi hingga menjadikan kita seperti sekarang ini. Serasa banyak yang terlewatkan. Yah mungkin sebagian orang mengabaikan apa yang seperti tertulis ‘KARMA DOES EXIST’. Ini memang tidak bisa diartikan begitu saja. Karena apa yang kita lakukan dimasa lalu jika kita tidak mau memperbaikinya dengan intropeksi diri dan menjadikannya lebih baik itu akan berdampak di kehidupan kita yang akan datang. Jatuh dikesalahan yang sama. Ini memang benar adanya jika kita tidak mau belajar dari kesalahan yang pernah kita lakukan dimasa lalu. Bukankah apa yang kita lakukan dimasa lalu harus menjadi sebuah tolak ukur ? apa yang bisa kita lakukan dan apa yang tidak bisa kita lakukan lagi karena apa yang dulu pernah terjadi menjadi sebuah cerminan. Jangan abaikan masalalu. Orang yang hebat adalah orang yang mau mengakui kesalahannya dimasa lalu dan menjadikan apa yang terjadi dalam hidupnya sebagai pembelajaran menuju kedewasaan. Kita tidak akan pernah tau apa yang akan terjadi nanti. Karena kita terlalu sibuk berekspetasi dengan mimpi-mimpi kita. Semua itu sudah menjadi sebuah benang merah dimana manusia hanya bisa menjalani dan tidak bisa mengelak lagi ketika Tuhan sudah mentitahkan apa yang akan terjadi dalam hidup kita. Percuma memang sebuah kata penyesalan tanpa pembaharuan. Apa yang telah terjadi dalam hidup kita memang tidak ada istilah percuma. Kalau kita mau meneliti pribadi kita dan mengambil semua hikmah yang tersirat maupun tersurat dari setiap kejadian itu akan ada sebuah makna akan kehidupan yang bisa kita petik dan jadikannya sebuah bekal untuk kehidupan selanjutnya. 

Hidup itu sebab akibat. Apa yang pernah dan akan terjadi dalam hiudp kita itu karena sebuah alasan. Hal ini yang menjadikan kita menjadi pribadi yang matang dengan segala hal yang mejadikannya tegar. Bukan batu karang namanya jika akan rapuh diterjang ombak. Hidup ini sebuah perjalanan. Walaupun setiap dari kita selalu punya pertanyaan entah itu pertanyaan apa, mengapa, bagaiamana, dan apapun mengenai hidup kita. Apa yang terjadi pada kita itu menjadi sebuh rantai yang tak pernah terputus. Kita akan menjadi sebab untuk diri kita sendiri dan menjadi sebab bagi orang-orang disekitar kita. Begitu juga kita menjadi akibat bagi diri kita sendiri atau orang lain disekitar kita. Atau bahkan orang lain menjadi sebab dan akibat dari kita. Ini tak pernah terpisahkan karena akan menjadi sebuah jaring kehidupan. Seperti ada sebuah ilmu yang menjelaskan tentang sebuah rantai makanan, tikus akan menjadi sumber kehidupan ular, ular akan menjadi sumber kehidupan bagi elang. Meskipun dalam kasus ini harus ada proses makan memakan namun inilah yang menjadikan lingkungan menjadi seimbang sehingga akna terbentuk sebuah rantai makanna yang saling tergantung satu sama lain sehingga menjadi sebuah piramida yang tersusun dari perbagian terkecil dari mahkluk hidup. Seperti kehidupan. Susah, senang, dikecewakan, dibahagiakan, diberi, memberi, mencitai atau apapun itu menjadi sebuah rantai yang tak pernah terputus. Ini adalah sebuah proses dalam kehidupan yang memang harus terlampaui untuk menjadikannya untuh dan tidak kurang. 

Tuhan selalu punya cara dan rencana bagi setiap dari kita. Sesuatu terjadi dalam hidup kita itu karena alasan. Tidak ada istilah percuma. Namun kadang banyak dari kita yang menyangkal akan apa yang terjadi dalam hidupnya itu bukan yang dia mau. Tuhan memang tidak selalu memberi yang kita inginkan namun Dia selalu memberi apa yang kita inginkan. Ini seperti sebuah seleksi alam. Siapa yng bertahan dialah yang menang. Namun kehidupan tidak berhenti begitu saja karena keputusasaan kita. Hidup terus berjalan. Semakin kita melarikan diri dari kenyataan yang ada semakin kita merasa akan terkungkung oleh kenyataan pait yang sebenarnya itu kita ciptakan sendiri. Apa yang tertulis untuk kita itu tidak ada yang tidak baik. Semua itu indah tergantung bagaimana kita mensyukurinya. Walaupun kita tidak akan tahu apa yang sebenarnya tertulis untuk kita, namun langit tidak akan beringkar janji, Dia akna selalu memberi jalan bagi kita yang mau bersabar. Ihkas menjalani apapun yang terjadi. Susah senang itu adalah proses pendewasaan. Tua itu pasti, dewasa itu pilihan. Bagiamana kita menyikapi apa yang terjadi membuat kita mengerti akan sebuah ritme. Ritme yang sebenarnya kita mainkan sediri. Ketahuilah, ikhlas itu indah. 

We Need To Talk About PHP

PHP. Istilah ini tidak asing lagi terdengar di telinga kita. Entah itu secara langsung maupun tidak langsung. PHP seperti sudah menjadi tren sendiri yang lahir di dunia maya. Seseorang yang disebut PHP ini tergantung dari siapa yang menilainya. Tapi secara garis besar PHP bisa diartikan secara umum. Yaitu dari singkatannya sendiri PHP (Pemberi Harapan Palsu). Siapa saja yang biasanya dipanggil PHP ? Harapan seperti apa yang biasanya dijanjikan oleh PHP ? Dan mungkin dampak apa yang dirasakan oleh orang yang diberi harapan palsu tersebut. 

PHP. Ini bukan saja terjadi dalam pasangan, kalau kita lihat lebih luasnya lagi PHP juga terjadi dalam pertemanan ataupun relasi lainnya. Contoh simpelnya seperti ini. Jika ada cowok dan cewek sudah dekat dan mungkin bisa dibilang sudah dalam ranah pedekate. Pasti secara langsung maupun tidak langsung diantara mereka berdua terucap janji ataupun ungkapan-ungkapan lain yang sekiranya menjadi sebuah lampu hijau bagi keduanya untuk menjalani sebuah hubungan yang lebih serius. Misalnya pacaran. Ketika dalam proses pedekate itu, akan ada sinyal ataupun kode yang membuat satu sama lain berharap ini akan menjadi sebuah hubungan yang menghidupkan. Mungkin jika dilihat dari pihak ceweknya, cowok itu sudah memberi sebuah janji kebahagiaan jika kelak mereka akan benar-benar jadian. Atau mungkin sebaliknya. Ya mungkin bilang akan setialah, akan perhatianlah, atau apalah. Yang biasanya kedua belah pihak akan mati-matian menunjukkan sikap terbaiknya didepan pasangannya supaya dinilai baik. Mungkin dari penampilannya, tutur katanya, sikapnya dan apapun itu yang mungkin bisa meyakinkan pasangannya.

Panggilan PHP tidak hanya disematkan bagi cewek atau cowok. Namun ini sudah menjadi rahasia umum kalau kesetaraan gender antara cowok dan cewek sudah menyamai batas. Cowok yang cenderung lebih sering dipanggil PHP karena mereka seperti menjanjikan lautan untuk diberikan kepada gebetannya ataupun pasangannya. Namun pada kenyataannya akan ada titik dimana mereka merasa kalau hal itu tidak mungkin dilakukan. Sehingga mereka akan memutuskan untuk menyudahi memberi sejuta harapan. Seperti semua kasus, segala sesuatu bisa dilihat dari berbagai sisi. Dari pihak cowok. Cowok yang biasanya sudah menjalani proses pedekate sampai pertengahan jalan akan memutuskan berhenti dan tidak memberikan harapan lagi kepada si cewek karena berbagai alasan. Dilihat dari sisi baiknya, mungkin memang cowok itu pada akhirnya menemukan titik dimana merasa kalau cewek ini ataupun hubungan mereka hanya akan menyakiti satu sama lain jika diteruskan. Sehingga si cowok memutuskan untuk berhenti meski sudah ditengah jalan. Ini kadang terdengar klise bagi cewek. Namun setiap hati punya rahasia. Begitu juga dengan cowok. Meskipun cowok terlihat cuek dan sama sekali nggak peduli namun jauh di pikirannya atupun di hatinya, mereka juga akan selalu bernego dengan dirinya sendiri atas apa yang akan diputuskan dan di jalaninya. Jadi setidaknya kita harus melihat dan sadar sisi ini dari pihak cowok. Karena tidak semua cowok bisa digeneralisasikan karena ini sudah menyandang dengan stereotipe yang mungkin sudah dipatenkan. Padahal tidak ada standar khusus bagaimana kita bisa menilai cowok. Mungkin karena faktor subjektivitas juga hal ini yang biasanya terlontarkan sebuah labeling bagi mereka yang sering dianggap menyakiti cewek. Setelah tadi bahas sisi baik mengapa cowok mengehentikan proses pedekatenya ditengah jalan, kini coba kita lihat dari sisi negatifnya. Seorang cowok yang dalam proses pedekate ternyata menebar benih dimana-mana, secara tidak langsung si cowok itu jatuhnya akan membandingkan antara cewek satu dan cewek lainnya yang dia dekati. Dan dari situ seorang cowok akan punya standar sendiri cewek mana yang pantas ia pilih. Sehingga cowok itu merasa kalau dirinya pantas untuk mendapatkan yang terbaik. Ini wajar karena tidak hanya cowok cewek juga begitu. Dengan membandingkan antara satu dengan yang lainnya itu, cowok itu akan memberi harapan dimana-mana, sehingga mereka terkesan tidak fokus dengan satu cewek. Ini juga wajar. Alibi yang telontar pastinya setiap orang ingin memilih yang terbaik bagi dirinya diantara banyak pilihan. Toh selama masih memilih harapan itu bisa diberikan kepada siapa saja tinggal mana nanti yang akhirnya dipilih. 

Nah, bukan hanya cowok saja yang dipanggil PHP. Kebanyakan cewek juga dipanggil PHP karena mereka sering memberikan harapan kepada siapa saja yang mendekatinya, alasannya sama ingin mendapatkan yang terbaik untuk dirinya. Ini sangat manusiawi. Seperti mau tapi tak mau, jatuhnya menjalani hanya setengah hati. Sana sini oke. Tapi setiap hati selalu punya alasan tersendiri mengapa mereka melakukan hal yang mereka jalani dan lakukan. Kita tidak bisa memaksakan kehendak orang yang kita ingini menjadi apa yang kita mau. Kadang yang kita ingini itu belum tentu terbaik untuk kita. 

Segala sesuatu itu memang harus butuh persiapan. Begitu juga dalam sebuah hubungan entah itu sudah resmi atau belum harus siap mental dengan konsekuensi yang mungkin saja terjadi ditengah perjalanan. Ada awal pasti ada akhir. Walaupun akhir itu belum tentu harus melewati hal yang indah terlebih dahulu. PHP itu kadang hanya sebuah sebutan. Sebutan PHP untuk seseorang itu didapat dari orang yang merasa dikecewakan oleh perlakuan orang yang dianggap memberi harapan-harapan bagi dirinya. Padahal mungkin jika dilihat dari sisi orang yang dicap PHP itu, dia merasa biasa saja, menjalani apa yang mereka yakini dan tidak lebih. Simpelnya seperti ini, jika ada seorang cewek yang mengatakan kalau cowok yang pernah dekat dengan dia itu PHP. Secara tidak langsung, cewek itu pernah merasa diberi harapan dan berani berekspektasi kedepan, tapi kenyataannya cowok itu tiba-tiba menjauh. Mungkin untuk melampiaskan kekecewaannya cewek itu akan menilai kalau cowok itu hanya memberi harapan palsu, tidak serius dan lain sebagianya. Jadi, PHP itu hanya sebuah labeling, dan tidak semua bisa disamaratakan. Namun akhir-akhir ini PHP menjadi trend tersendiri. Itu hak masing-masing dalam menilai. Tetap objektif dan menilai segala sesuatu dari berbagai sisi. Dengan mencoba memakai sepatu orang lain, kita akan lebih bisa melihat sesuatu dari sudut pandang orang lain juga sehingga kita lebih bisa memposisikan diri supaya tidak asal memberi label kepada seseorang.